DENPASAR, Balipolitika.com- Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan blokade total di Selat Hormuz memicu guncangan hebat pada pasar finansial global awal pekan ini. Investor cenderung menjauhi aset berisiko tinggi sehingga nilai tukar Bitcoin merosot tajam hingga menyentuh titik terendah dalam beberapa bulan terakhir. Langkah militer tersebut merupakan respons langsung Washington setelah perundingan damai mengenai program nuklir dengan pemerintah Iran berakhir tanpa kesepakatan resmi.
Harga aset kripto utama tersebut jatuh ke level US$ 70.623 atau terkoreksi sebesar 2,7 persen hanya dalam satu hari perdagangan bursa. Para pelaku pasar segera mengalihkan modal mereka ke sektor komoditas energi karena khawatir akan gangguan distribusi minyak mentah secara permanen. Fenomena ini menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak drastis hingga mencapai angka US$ 105 per barel pada sesi pembukaan pasar.
Blokade militer tersebut mengakibatkan disrupsi perdagangan pada jalur maritim paling strategis yang menampung seperlima pasokan energi penduduk bumi. Donald Trump juga memerintahkan jajaran Angkatan Laut Amerika Serikat untuk segera menghancurkan seluruh ranjau laut di kawasan Selat Hormuz. Pihak Gedung Putih menolak secara tegas tuntutan kompensasi perang dan pencairan aset keuangan yang sebelumnya diajukan oleh delegasi pemerintah Iran.
Pemerintah Amerika Serikat berencana mencegat setiap kapal komersial yang nekat membayar biaya lintas ilegal kepada otoritas Iran di jalur internasional. Langkah berani ini diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik pemerasan dunia yang diduga melibatkan pemasangan ranjau di perairan strategis. Ketegangan militer di wilayah Teluk tersebut kini membuat para pelaku pasar global berada dalam posisi siaga tinggi menghadapi ketidakpastian.
Para pengamat ekonomi mencatat bahwa tingkat volatilitas pasar saat ini merupakan yang paling parah sejak terjadinya invasi Rusia ke Ukraina. Meskipun mengalami tekanan jangka pendek, secara kumulatif nilai Bitcoin sebenarnya masih tumbuh positif sebesar 7,4 persen sejak konflik bermula. Namun sentimen negatif akibat ketidakpastian politik yang memanas tetap menahan laju pertumbuhan aset digital ini menuju level tertinggi barunya.
Ketergantungan dunia pada pasokan energi dari kawasan Teluk menjadikan setiap gangguan kecil di Selat Hormuz sebagai pemicu utama inflasi global. Situasi geopolitik yang tidak menentu tersebut memaksa para pengelola dana besar untuk melakukan penyesuaian portofolio investasi secara cepat. Jalur sempit yang dikelilingi oleh wilayah Iran dan Oman tersebut kini menjadi titik api utama penentu arah ekonomi internasional.
Masyarakat internasional terus memantau pergerakan armada tempur Amerika Serikat yang mulai bersiaga penuh di sekitar wilayah perairan strategis Timur Tengah. Sinergi antara kekuatan militer dan kebijakan ekonomi akan menentukan posisi dunia dalam menghadapi ancaman resesi panjang akibat blokade tersebut. Kepastian hukum dan keamanan di jalur maritim Selat Hormuz tetap menjadi kunci utama bagi stabilitas pasar modal maupun komoditas global. (BP/CHA).













