TABANAN, Balipolitika.com– Tradisi mesuryak. Sejumlah desa adat di Desa Bongan, Kecamatan/Kabupaten Tabanan menggelar tradisi unik. Warga Hindu melaksanakan tradisi Mesuryak usai persembahyangan Hari Raya Kuningan. Ritual turun-temurun ini menjadi simbol bakti kepada leluhur. Tradisi ini turut mempererat kebersamaan masyarakat adat.
Kertha Desa Adat Bongan, I Made Wardana, menjelaskan makna mendalam prosesi. “Prosesi ‘berteriak’ atau bersorak gembira ini menjadi simbol penghantaran para leluhur kembali ke alam semesta,” ujar Wardana.
Ritual Mesuryak dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Prosesi unik ini dilakukan di depan pintu masuk rumah. Kegiatan kemudian berlanjut hingga persimpangan jalan desa setempat. Warga mengatur banten atau sesajen khusus sebelum ritual dimulai.
Wardana menjelaskan leluhur dipuja terlebih dahulu pada Hari Kuningan. “Ungkapan bakti ini sekaligus bentuk kebersamaan warga di desa,” tambahnya.
Bagian paling menarik dalam ritual adalah pembagian uang. Uang kertas mulai pecahan seribuan hingga ratusan ribu rupiah disiapkan. Uang yang mencapai jutaan rupiah kemudian dilemparkan ke udara. Pelemparan uang tersebut menjadi simbol punia dan ungkapan rasa syukur.
Uang yang dihamburkan direbut dengan sukacita oleh warga dan sanak keluarga. Peristiwa ini melambangkan karunia dan berkah dari leluhur. Tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun.
Selain sebagai ungkapan bakti dan rasa syukur, Mesuryak memiliki fungsi sosial. Ritual ini diyakini mampu memperkuat rasa persaudaraan antar warga. Pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan itu dipenuhi kegembiraan dan kehangatan.
Wardana berharap tradisi sakral ini tetap lestari. “Tradisi ini sudah diwariskan dari generasi ke generasi sampai saat ini,” tegas Wardana.
Nilai-nilai spiritual dan kebersamaan harus tetap terjaga. Pelaksanaan Mesuryak menjamin nilai budaya ini tidak punah. Tradisi ini menjadi identitas kuat masyarakat Tabanan. Ritual unik ini menarik perhatian wisatawan budaya dan peneliti.
Warga berharap prosesi Mesuryak terus diwariskan. Pewarisan ini menjamin nilai-nilai luhur tetap hidup di masa mendatang. Tradisi ini menjadi jembatan spiritual masyarakat dengan leluhur. (BP/CHA).













