Duh, Mutia
laki-laki dan perempuan adalah dua kabut
yang berkabung dalam bahasa:
sunyi yang berdesakan di halte bus kota
sebuah gramatika tua yang tak
sempat tertulis
di tembok musala terminal.
di antara mata kita, Mutia, ada
huruf-huruf yang saling
berkelahi, dan doa yang mencium
punggung makna
sebelum ia menjadi kata.
aku melihat bibirmu, saat puisi
masih remaja dan bahasa belum
pernah berzikir di aspal panas Bekasi,
lalu mata yang memandangku seperti
kereta yang kehilangan rel:
ditelan tanggal merah dan suara taksi.
Mutia, matamu seperti sebatang doa
yang gagal dibakar di bawah purnama
yang mengandung sabotase.
buset, Mutia, di pupilmu ada ribuan
nama yang tak sempat dicium
pemberontakan, dan cinta yang
menggigil dalam selebaran demonstrasi.
pria dan wanita adalah istilah yang
diproses ulang di pabrik wacana
pascareformasi, dan air mata
kita, Mutia, adalah kembang api
dalam parade teori.
kau adalah arus pendek dalam
pikiranku dan tubuhmu adalah nyeri
shift malam yang tak pernah usai.
aku melihat mata Mutia di atas pabrik
yang menyemburkan abu PHK
dan dua revolusi yang gagal karena
iklan kondom.
astaga, Mutia, siapa yang mampu
memalingkan mataku darimu selain
macet berwarna coklat, dan jalan
tol yang menusuk matahari tua?
suatu pagi, kesunyian Indonesia
berjalan sendirian ke dalam CCTV
stasiun, dan matamu—telah memilih
warna madu yang bukan milikku.
dan cinta, Mutia, telah menghancurkan
para penyair seperti spanduk yang copot
di tengah angin demokrasi.
namun, di sela matamu, ada harapan
yang bertahan seperti abu: panasnya
tak kunjung reda, namanya tak pernah
habis terbakar.
duh, Mutia.
laki-laki dan perempuan hanya nama
yang dikelola makna
dalam hukum dasar aksioma.
(2025)
Tangerang-Bekasi
Commuter line menyusup
di antara belahan payudara Indonesia:
remuk, remaja,
terpanggang pestisida dan upah rendah.
Senyum tersangkut di kaca helm,
berdarah di bawah matahari yang dilipat
di tikungan flyover.
Tak ada yang lahir.
Tangerang membuka pahanya
bagi pagi yang pincang.
Bekasi mengulum besi
dan lupa caranya mengaduh.
Cisadane memelihara sapi bisu.
Tiang-tiang listrik tumbuh seperti doa gagal,
dan jalan tol menjelma altar
bagi kabel-kabel yang meracau
tanpa kitab.
Angin pecah di paru-paru,
paru-paru pecah di dada,
dada pecah di langit rendah.
Commuter line berbaring telanjang
di lekuk tubuh yang tak pernah mengaku
sebagai ibu,
sebagai anak,
sebagai siapa pun.
Rindu menjelma karat
yang menggerogoti sambungan rel.
Keringat menulis puisi
dalam bahasa yang padam.
Udara berlubang.
Kota kehilangan kata kerja.
Besi hanya mengingat napas.
Tak ada tuan.
Hanya bayangan
yang menyentuh sebentar,
lalu hilang
seperti listrik kehabisan nyawa.
Nada terakhir:
gerbong kosong,
pagar mati,
dan peluk yang membabi-buta.
Commuter line menyusup di antara
Tangerang, Bekasi, dan tubuhmu—
seperti Indonesia remaja
yang tak tahu
pulang
atau
pecah,
serta gelanggang lainnya.
2025
Pemicu
detik berputar di urat langit
memalingkan wajah dari taman
absurditas. sejumput mata kebenaran
terperangkap di antara gigi tawa
yang gugur dan gelanggang bibir
-bibir yang kehilangan
sujud. memori disilangkan dalam
kubah mimpi yang menumpuk
seperti daun-daun wahyu
di rak museum yang
terhapus sejarahnya.
aku pandangi reruntuhan itu:
di letupan kaki-kaki manusia
yang menari di nadi kota
memicu raga, membentur jiwa
dan akhirnya:
tak satu pun menjelma.
darah menetes seperti azan
retak semilir dari pikiran
yang usang bercakap pada
sajadah kusam dan sujud
yang dibakar
di lorong. segenggam iman
berpaling dari tubuh remaja
yang mencium malam
di bawah lampu yang menggigil—
tak ada zikir, tak ada apaapa.
ingatan terusir dari pasar
caci-maki dan sisanya menjadi
sepi-sendiri
dalam nyawa yang dibangun
dari peradaban.
Tangerang 2025
aku akan pulang
aku akan pulang ke rumah yang
dibangun dari firman
di mana langit memanggil
nama-nama
tanpa tubuh, tanpa tanah
tanpa apa-apa
di pelataran masjid, ayat menguap
dari sajadah usang
dan tangan yang tak sempat basah
menggigil dalam hijaiyah yang terbakar
ada tiga belas lanskap jihad
yang kini tertidur dalam frame digital:
sebuah potret hijrah, menoleh
ke arah mata angin yang belum
ditukar dengan iklan properti syariah
Alif dan nun tak lagi tertawa
hanya berdengung
seperti kawanan lebah dalam khutbah—
dan tajwid suci
menyisipkan pedang ke lidah kita
tanpa kita sadar
barangkali seorang pria
melintasi jalan-jalan kota,
membawa fatwa yang patah
untuk bertanya:
apakah rumah masih mengenalku?
namun kota ini
hanya menjawab dengan dengung
dari toa yang lupa dikubur
dari jemari kasir yang masih sibuk
menghitung sedekah dengan sisa resah
ia seperti mesin waktu
yang direparasi oleh fatwa
seperti cerobong kereta
yang melunakkan kayu
dengan asap khutbah
yang tak pernah sampai ke dada
aku akan pulang—
meski tanah telah digadaikan,
meski syair hanya jadi tanda
bahwa tubuh tak pernah benar-benar
berakar di kota ini
aku akan pulang
kepada diriku yang dahulu
bersembunyi di antara hijaiyah
yang kaueja dalam tidur
dengan lidah pecah
dan mata yang terus menghafal
gelap, kekal
2025
Akta Tanah
Aku bukan siapa-siapa, hanya noktah merah di batu bata, sepotong cat putih yang mengelupas di dinding sekolah, yang mengajariku cara membaca lapar dan mengeja nama Tangerang Selatan dari bunyi kereta yang tak pernah berhenti menangis. Kakekku menanam pohon Putat di ladang yang kini disegel dengan palang mantra, di mana para birokrasi menyembelih hujan untuk dijadikan sertifikat. Bapakku membangun langgar dari firman yang dibawa angin sore, tapi sekarang terduduk antara dua minimarket dan satu SPBU yang menjual doa dengan harga promo. ‘Makku melahirkan sajak-sajak tentang kota di dapur sempit yang dipenuhi abjad minyak goreng, kompornya menyala bukan karena gas tapi karena kemurungan nasib yang lupa dituliskan dalam Pancasila. Kami tak pernah masuk berita, kecuali saat rumah kami disebut liar oleh yang lebih liar dalam dasi, lobi, dan kata-kata yang seperti sabun menyembunyikan bau busuk di balik hukum. Aku lahir di Tangerang dan belajar mencintai tanah air dari lembar kontrak dan tumpukan utang. Aku mencium bau tanah dalam bentuk kuitansi dan peta tata kota. Aku melihat merah putih dalam bentuk saldo rekening dan amplop-amplop yang diselipkan dari saku ke saku malam hari. Setiap pagi aku dibangunkan oleh ekskavator yang bersyair di halaman belakang, menelan pohon mangga, menyobek mimpi adikku yang ingin jadi polisi tapi tak punya seragam, dan kurang beruntung. Sebuah bendera merah dari darah pegawai yang mati di bawah pendingin ruangan dan putih dari debu pabrik semen yang tumbuh di gunung seperti tumor di punggung bumi. Aku bukan penulis sejarah tapi aku tahu: Tangerang adalah luka yang diwariskan dari sungai ke sungai, dari batu ke batu, dari nisan yang bicara pelan kepada bulan, hingga guru honorer yang mengajar ayat demi ayat kepada murid yang selalu lapar sebelum belajar. Kalau kau tanya aku tentang budaya dan sejarah, dengarkan suara batu bata yang kugenggam di dada—ia bukan senjata, tapi suara yang tertahan di antara napas dan sumpah yang tak pernah dilunasi. Dan jangan ajari aku cinta tanah air jika tanahnya tidak bisa kutinggali dan langitnya dijual dalam kemasan plastik yang dicetak dengan gambar bidadari dan janji investasi. Jangan ajari aku sejarah jika wajah pahlawan hanya ada di uang logam yang bahkan tidak cukup untuk membeli sunyi di warung kopi.
Aku bukan siapa-siapa tapi aku tahu: Tangerang sedang lapar, dan aku lebih lapar lagi. Jika suatu hari aku membakar ban atau mendirikan tenda di pinggir jalan— itu bukan pemberontakan, tapi bentuk lain dari sujud di atas aspal yang tak pernah sejuk, cara kami berdoa dalam bahasa terakhir yang masih kami miliki: api, dan suara, dan cahaya remang dari lampu jalan yang terus menyaksikan Tangerang Selatan dibangun dari amnesia dan harga tanah per meter.
(2024)
BIODATA
Ahmad Rizki, menggelandang di Ciputat. Sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas. Korespondensi: [email protected]













