DENPASAR, Balipolitika.com– Tak hadir langsung di Sunset Beach Bar, Seminyak, Badung, Bali, Minggu, 24 Agustus 2025 menyaksikan pertandingan No Drama Fight Reborn, tapi banyak pihak berani menyimpulkan bahwa duel yang tersaji sekadar settingan.
Hal inilah yang saat ini mengemuka, khususnya di lini media sosial menyikapi duel panas De Gadjah “Big Daddy” versus Bram “The Killer” yang berakhir dengan kemenangan TKO alias technical knockout di ronde 4 untuk Ketua Pertina Bali sekaligus Dewan Penasihat Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati) Pusat bernama lengkap Made Muliawan Arya, S.E., M.H.
Menyikapi kondisi itu, Bram Hendra Betaubun alias The Killer peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024 usai merontokkan keperkasaan petinju Papua Barat, Fredy Yakop Purai di Final Kelas 75-80 kg menyebut dirinya kalah bobot berat badan yang terlampau jauh, yakni 14 kg.
Sosok yang juga peraih medali emas PON XX Papua 2021 usai mengalahkan petinju Sulawesi Utara, Toar Sompotan itu menyebut selisih bobot tubuh dalam pertandingan tinju sejatinya sangatlah berpengaruh, lebih-lebih terpaut hingga 14 kg karena berat badan berhubungan dengan kekuatan pukulan.
Namun, karena De Gadjah “Big Daddy” bukanlah seorang atlet profesional, hal itu ia abaikan dan sangat yakin bisa merontokkan dan meng-KO sang lawan hanya dalam 2 ronde.
Terkait tudingan duel itu rekayasa, petinju asli Ambon itu menegaskan ia punya harga diri sebagai seorang atlet nasional.
“Kalau ini dibilang settingan, saya sebagai atlet PON juga punya harga diri dan punya rasa tidak mau kalah. Jadi yang beranggapan seperti itu, silakan coba sparing sekali dua kali dengan Big Daddy, yang sama-sama bukan petinju atau petinju yang tidak pernah latihan-silakan mau umurnya se-saya atau se-beliau, silakan coba rasain. Apalagi bobot beda 14 kg, saya 94, beliau 108,” tegas Bram.
Cara paling masuk akal untuk memahami tinju adalah dengan langsung bertinju atau sparing untuk mengetahui secara seksama apakah duel tersebut memang sudah diatur atau memang murni demikian.
“Setelah saya juara PON 2024, saya tidak pernah latihan atau jaga badan. Jadi itu sekitar setahunan saya off dalam latihan, bahkan sehari sebelum pertandingan kemarin saya tidak tidur,” ungkap Bram, Senin, 25 Agustus 2025.
Bram mengaku selama berada di Bali, dirinya kurang menjaga kondisi tubuh.
“Selama di Bali saya minum-keluar malam-kurang tidur, ya karena merasa masih aman untuk fisik,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menganggap duel melawan De Gadjah tidak perlu persiapan khusus.
“Menganggap Big Daddy bukan atlet jadi tidak persiapan sama sekali karena saya merasa umur saya masih oke dan fisik saya masih kuat untuk fight apalagi Big Daddy bukan atlet,” katanya.
Namun realita berbeda terjadi di atas ring di mana Bram mengakui kondisinya drop dan menerima pukulan telak lawannya.
“Ternyata saat pertandingan saya kehabisan napas, tidak kuat, lalu masuklah pukulan Big Daddy ke saya sampai dislokasi bahkan ada kena rahang saya, pukulannya ternyata keras di luar perkiraan saya,” tuturnya.
Bram bahkan menyebut, De Gadjah sudah terkenal tanpa perlu mencari popularitas dari ring tinju. “Kalau kata orang fight ini cuma mau buat Big Daddy terkenal, dia mah udah terkenal (mau di tinju, olahraga ataupun politik), mau terkenal kaya gimana lagi?” ujarnya.
Dari duel ini, Bram mengambil pelajaran berharga untuk tidak meremehkan lawan.
“Moral value dari fight dengan Big Daddy, ini pelajaran buat saya untuk tidak meremehkan lawan, harus tetap latihan meski lawan bukan atlet, istirahat yang cukup dan pola hidup yang baik untuk persiapan pertandingan. Intinya serius untuk pertandingan,” pungkasnya. (bp/ken)













