DENPASAR, Balipolitika.com- Badai ekonomi global akibat ketegangan militer di kawasan Selat Hormuz kini memukul nilai tukar berbagai negara berkembang secara telak. Forbes Advisor merilis laporan terbaru mengenai daftar mata uang terlemah di dunia yang menunjukkan kerentanan sistem keuangan internasional. Tekanan inflasi yang tidak terkendali serta beban utang luar negeri menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar banyak negara.
Rial Iran saat ini menduduki posisi puncak sebagai mata uang dengan nilai paling rendah terhadap dolar Amerika Serikat di seluruh muka bumi. Kurs mata uang Iran tersebut menyentuh angka fantastis yakni sekitar 1,32 juta hingga 1,33 juta per satu dolar Amerika. Sanksi internasional yang membatasi ekspor minyak bumi telah menghancurkan kepercayaan pasar serta memicu inflasi domestik yang sangat ekstrem.
Pound Lebanon menempati urutan kedua dalam daftar hitam ini akibat krisis perbankan sistemik yang belum kunjung usai sejak tahun 2019. Nilai tukar Lebanon kini bertengger pada level 90 ribu per dolar Amerika Serikat seiring dengan cadangan devisa yang terus menipis. Instabilitas politik yang berkepanjangan di Beirut semakin mempercepat pelarian modal asing dan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat setempat secara luas.
Posisi ketiga ditempati oleh Dong Vietnam yang nilainya sengaja ditekan oleh pemerintah pusat demi menjaga keunggulan sektor ekspor mereka. Meskipun ekonomi domestik Vietnam relatif stabil namun intervensi bank sentral membuat kurs Dong berada pada kisaran 26.400 per dolar Amerika. Kebijakan ini merupakan strategi ekonomi untuk memastikan produk manufaktur mereka tetap kompetitif di pasar global di tengah ketidakpastian.
Nasib serupa menimpa mata uang Kip Laos yang terjerembap ke posisi keempat akibat tumpukan utang luar negeri untuk proyek infrastruktur. Mata uang Laos tersebut kini diperdagangkan pada level 22.200 per dolar Amerika Serikat karena ketergantungan tinggi pada impor energi dunia. Krisis likuiditas devisa membuat otoritas moneter Laos kehilangan kemampuan untuk melakukan intervensi guna menstabilkan pergerakan nilai tukar domestik mereka.
Kabar yang cukup memprihatinkan muncul dari pasar keuangan domestik karena Rupiah Indonesia kini resmi masuk ke dalam jajaran lima besar dunia. Nilai tukar Garuda sempat terperosok hingga menyentuh angka Rp 17.190 per dolar Amerika Serikat akibat derasnya arus modal keluar dari tanah air. Kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat menjadi faktor eksternal yang memberikan tekanan hebat terhadap stabilitas moneter nasional secara keseluruhan.
Som Uzbekistan berada pada posisi keenam karena proses transisi ekonomi dari era pasca-Soviet yang hingga kini belum sepenuhnya matang secara struktural. Nilai tukar Som tercatat berada pada kisaran 12.400 per dolar Amerika Serikat dengan tingkat inflasi tahunan yang masih sangat tinggi. Pemerintah setempat terus berupaya melakukan liberalisasi mata uang secara bertahap namun stabilitas nilai tukar masih menjadi tantangan yang sangat besar.
Franc Guinea menempati posisi ketujuh dalam daftar ini karena struktur ekonominya sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas tambang internasional. Ketergantungan pada ekspor bauksit dan emas membuat nilai tukar Franc Guinea sangat sensitif terhadap perubahan permintaan global yang tidak menentu. Selain itu kondisi infrastruktur ekonomi yang masih lemah semakin memperparah pelemahan mata uang negara di kawasan Afrika Barat tersebut.
Tiga posisi terakhir dalam daftar laporan Forbes kali ini ditempati oleh Franc Burundi serta Ariary Malagasy dan juga Guarani Paraguay. Ekonomi Burundi yang masih sangat terisolasi serta bergantung penuh pada sektor pertanian kopi membuat nilai tukarnya sulit untuk bersaing. Sementara itu praktik korupsi yang masif serta peredaran uang palsu menjadi hambatan utama bagi stabilitas nilai tukar Guarani di negara Paraguay.













