BADUNG, Balipolitika.com- Di kawasan pesisir Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali terdapat kuliner tradisional yang masih bertahan hingga saat ini, yakni rujak batu-batu.
Salah satu penjual yang cukup dikenal masyarakat setempat bernama Nyoman Nandri (63 tahun) yang mengelola Warung Nyoman Lelet.
Warung sederhana ini beroperasi sejak tahun 2012 dan menjadi tempat favorit bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati kuliner khas pesisir selatan Bali.
Menurut Nyoman Nandri, sebelum pandemi Covid-19 warungnya selalu ramai dikunjungi pelanggan.
Banyak wisatawan dan warga lokal datang untuk menikmati rujak batu-batu sambil menikmati suasana pantai.
Namun, setelah pandemi Covid-19, jumlah pengunjung mengalami penurunan sehingga warung tidak seramai sebelumnya.
Keunikan rujak batu-batu terletak pada bahan utamanya yang dikenal sebagai batu-batu.
Berbeda dengan anggapan banyak orang, batu-batu bukan berasal dari laut lepas, melainkan hidup di kawasan hutan mangrove.
Dahulu, batu-batu cukup mudah ditemukan di wilayah Tanjung Benoa sejak sekitar tahun 1975.
Bahkan, masyarakat biasanya menjualnya secara sederhana di pinggir jalan, bukan melalui warung seperti saat ini.
Seiring berjalannya waktu, keberadaan batu-batu di kawasan Tanjung Benoa semakin langka akibat perubahan lingkungan dan perkembangan wilayah.
Karena itu, Nyoman Nandri kini memperoleh pasokan batu-batu dari pengepul di Pulau Jawa.
Bahan tersebut dikirim dalam kondisi sudah dibersihkan dan dibekukan sehingga dapat langsung diolah saat tiba di Bali.
Rujak batu-batu di Warung Nyoman Lelet diolah menggunakan resep turun-temurun keluarga.
Cita rasa khasnya berasal dari penggunaan kuah berbahan dasar cuka yang menghasilkan perpaduan rasa asam, segar, dan pedas.
Selain menjual rujak batu-batu, warung ini juga menyediakan rujak buah dan tipat cantok dengan harga yang terjangkau.
Batu-batu dijual seharga Rp5.000 per bungkus, sedangkan rujak buah dan tipat cantok masing-masing dibanderol Rp10.000 per porsi.
Salah satu faktor yang membuat Warung Nyoman Lelet sempat menjadi tren kuliner sebelum pandemi adalah lokasinya yang berada di kawasan pesisir.
Pengunjung dapat menikmati hidangan sambil melihat pemandangan laut yang indah.
Pada sore hari, suasana semakin menarik karena pengunjung dapat menyaksikan matahari terbenam atau sunset dari sekitar lokasi warung.
Perpaduan antara cita rasa kuliner tradisional dan panorama alam tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanjung Benoa.
Meskipun kini menghadapi tantangan akibat berkurangnya jumlah pengunjung dan semakin langkanya bahan baku lokal, Nyoman Nandri tetap mempertahankan usahanya.
Baginya, rujak batu-batu bukan sekadar makanan, melainkan warisan kuliner khas Tanjung Benoa yang perlu dijaga dan dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. (bp/Ni Putu Ika Vina Lyanthi/4C/Basindo/Undiksha)










