Menuju Kota Puisi
di tempat sandar. semakin dekat menuju kapal
kerumunan ikan-ikan kecil. bulir-bulir menghempas
karang. kelasi menarik tambang. kapal berlabuh. kenang melayang
di kepak camar. nelayan menjaring harap untuk orang tersayang. gelombang pasang di jendela kapal. perciknya terlempar di mukamu. dengan tangan kau sapu
kau mendongak. di langit gemawan berwajah-wajah digembala rembulan. mengasuh kawanan susuri malam terang melintas selat-selat pulau. mengarak ke barat. menuju puisi-puisi yang berkerumunan di dada
Kota Ibu
kota tua kota baru kota pembangunan kota pahlawan kota cundang kota renung kota jaga kota hujan kota gersang kota pendidikan
: bermacam nama kota ibukita ziarahi rata dadanya. bergelayut di antaranya. memagut putingnya
dengan gigi-gigi kita
mencuat kental darah bagai semen
lalu kita bangun sekolah dengan kurikulum angka-angka
dan kanak-kanak pandai membaca angka-angka
di baliho
koran-koran
dan trotoar
Reka Kota-Desa
(1) Kota
riuh-rame. matahari yang dua biji tak tampak di waktu yang lama. hari pekat. lembaran surat kabar tak kunjung terbaca: wacana kemakmuran. kasus penjagal. iklan rumah subsidi. kolong puisi berserak di trotoar. ditumpuk gembel jadi alas tidurnya. ia bermimpi menggenggam matahari yang dua biji. yang coreng-moreng.
(2) Desa
sepi-sunyi. pagi sekali bapak tani mengguyur matahari. sebelum malam gugurkan kelopak. matahari dilelang. sebuah bulan bulat dibeli. digoreng ibu tani. bulan bermata sapi setengah matang tanpa garam dihidangkan di atas dada ibu tani. disuwir bapak dan anak tani. tanpa sendawa dan tawa.
Tengok
kasih
berkenankah engkau lempar secuil cinta di mangkuk lusuh yang tergeletak
di depan bocah yang keroncong itu? kudengar tangisnya menggelegar
semalaman bagai guntur kesiangan
tengok. barang sekecap saja perutnya bernyanyi
semerdu lagu pesta pernikahan sepasang pengantin baruah. kasih. tetapi baiknya kita tak payah hiraukan atau sampai hati kasihan
sebab kita mengerti. diri yang utama
dan satu-satunya
tanam dan rawat dalam sanubarimu
teguh pada pendirian itu
cuma kita. cuma kita
kasih
Mari Putus Asa
Kenapa mesti menuntut keadilan?
rumus macbeth:
keadilan sama dengan busuk
x
kebusukan sama dengan adil
=
kesabaran
kata dilahap menggelepar dan berjejal di perut si kecil busung lapar dan begitu saja jadi kotoran bercecer di tanah
dan di langit
Kenapa mesti menuntut keadilan?
BIODATA
S. Kamar adalah mahasiswa akhir pascasarjana PBSI UNY. Menulis puisi dan prosa, terkadang menjadi pendeklamasi. Prosa pertamanya Jejak Samalas (2020), juga beberapa karya lain yang termuat digital maupun cetak. Sempat memenangkan lima besar Sayembara Puisi Festival Sastra Yogyakarta 2025.










