JAKARTA, Balipolitika.com- Aktivitas vulkanik di kawasan kepulauan Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan secara serentak pada awal September 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat sedikitnya enam gunung api aktif di berbagai penjuru tanah air mengalami erupsi maupun peningkatan status kewaspadaan dalam periode waktu yang hampir bersamaan.
Keenam gunung yang menjadi sorotan pemantauan nasional tersebut membentang dari barat hingga timur Nusantara. Di Pulau Sumatera, status Gunung Sinabung di Sumatera Utara dinaikkan ke Level III (Siaga). Kondisi serupa terjadi pada Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda serta Gunung Semeru di Jawa Timur yang sama-sama bertahan di Level III (Siaga). Sementara itu, eskalasi vulkanik juga tercatat di kawasan Indonesia timur, meliputi Gunung Lewotobi Laki-laki (Level III/Siaga) dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat perihal potensi efek domino antargunung api, pihak otoritas kegunungapian tidak bungkam. PVMBG memaparkan bahwa fenomena meletusnya sejumlah gunung api dalam waktu yang berdekatan ini murni merupakan dinamika kebetulan di jalur Cincin Api (Ring of Fire) yang menaungi lebih dari 120 gunung api aktif di Indonesia.
Pihak penyelidik bumi menegaskan, erupsi yang terjadi tidak saling memicu satu sama lain secara fisik. Setiap gunung api memiliki suplai kantung fluida, siklus tekanan, serta sistem dapur magma mandiri yang berdiri sendiri tanpa keterhubungan saluran bawah tanah.
“Masing-masing gunung memiliki dapur magma yang terpisah dan tidak ada kaitan langsung satu sama lain,” tutur perwakilan tim mitigasi geologi dalam keterangan teknisnya.
Guna mencegah jatuhnya korban jiwa dan memitigasi paparan material letusan, PVMBG menetapkan peta pembagian zona bahaya atau radius steril yang disesuaikan dengan intensitas ancaman masing-masing gunung.

Pada kawasan Gunung Semeru, PVMBG membeberkan batas larangan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak aktif demi menghindari lontaran batu pijar. Rekomendasi sektoral diperluas hingga 13 kilometer di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Besuk Kobokan sebagai pusat luncuran erupsi, disertai zona steril 500 meter dari sempadan sungai untuk mengantisipasi terjangan awan panas guguran maupun lahar hujan.
Sementara untuk Gunung Anak Krakatau, zona terlarang dipatok pada radius 3 kilometer dari kawah aktif. Pembatasan ketat ini diberlakukan bagi wisatawan, tim pendaki, hingga perahu nelayan maupun kapal penyeberangan yang melintasi perairan sekitar tubuh gunung api laut tersebut.
Adapun di Sumatera Utara, radius bahaya Gunung Sinabung ditetapkan sejauh 3 kilometer dari puncak, dengan jarak sektoral 5 kilometer mengarah ke sisi selatan-tenggara—setelah PVMBG mempersempit rekomendasi yang sebelumnya berada di patokan 6 kilometer.
Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki mengunci radius steril 5 kilometer secara merata dari titik erupsi. Sedangkan rekannya di Pulau Lembata, Gunung Ili Lewotolok, memberlakukan batas aman 2 kilometer dari kawah, yang diperlebar secara sektoral hingga 3 kilometer ke sektor selatan dan tenggara.
Untuk wilayah Maluku Utara, PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Ibu agar tidak melakukan kegiatan di dalam radius 2 kilometer dari bibir kawah, serta menjauhi bukaan kawah aktif di sektor utara sejauh 3,5 kilometer.
Otoritas kegunungapian mewanti-wanti seluruh pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat agar memperketat barikade di batas radius aman. Masyarakat juga diimbau tidak mudah termakan kabar bohong serta mematuhi arahan evakuasi berkala yang diterbitkan instansi resmi. (BP/CHA).














