DENPASAR, Balipolitika.com- Toko bahan kue di Denpasar, UD Ayu, menjadi korban sasaran peretasan akun google maps. Akibat dari praktik kejahatan siber itu, para pelanggan mengalami kerugian hingga belasan juta. UD Ayu ternyata bukan satu-satunya yang menjadi korban dari kejahatan terorganisir ini.
Perusahaan raksasa teknologi Google baru saja mengambil langkah tegas dengan menghapus sepuluh ribu akun bisnis palsu di layanan Google Maps. Akun-akun tersebut terbukti melakukan praktik penipuan yang menyasar pengguna saat mencari bantuan jasa darurat di lokasi terdekat. Penutupan massal ini merupakan respons agresif perusahaan terhadap maraknya laporan pencurian identitas bisnis oleh sindikat kriminal siber global.
“Begitu kami menerima laporan penipuan maka kami langsung melakukan langkah agresif untuk mengidentifikasi iklan palsu lain yang serupa,” ujar Penasihat Umum Google, Halimah DeLaine Prado, Senin, 26 Januari 2026.
Para pelaku kejahatan ini sengaja menampilkan profil usaha fiktif yang terlihat sangat profesional pada koordinat lokasi tertentu di peta. Pengguna yang menghubungi nomor telepon tersebut tidak akan tersambung ke kantor asli melainkan dialihkan ke jaringan milik para penipu. Korban pada akhirnya harus membayar biaya layanan berkali-kali lipat lebih mahal daripada tarif normal yang berlaku di pasar.
“Praktik penipuan ini banyak terjadi pada layanan vertikal paksa yakni jasa yang biasanya dicari dalam kondisi darurat oleh pengguna,” tutur DeLaine Prado saat menjelaskan kategori jasa yang paling rawan menjadi objek manipulasi.
Sindikat penipu ini juga bekerja sama dengan agen pemasaran nakal guna memoles citra bisnis palsu mereka di media sosial. Mereka memanfaatkan kepanikan korban saat menghadapi situasi sulit seperti kunci rumah hilang atau mesin kendaraan yang mendadak mogok. Tim keamanan Google kini terus memperbarui algoritma mereka untuk menyaring data bisnis yang memiliki profil mencurigakan atau tidak konsisten.
“Pengguna patut mencurigai bisnis yang meminta data pribadi atau mengharuskan pembayaran dengan metode yang tidak lazim secara mendadak,” kata DeLaine Prado memperingatkan para pemilik akun agar lebih waspada terhadap prosedur transaksi yang tidak wajar.
Masyarakat yang sering menggunakan layanan navigasi digital wajib memverifikasi ulang keaslian alamat situs resmi serta nomor kontak perusahaan terkait. Pastikan Anda membaca ulasan pengguna lain secara saksama guna mendeteksi adanya kejanggalan pada histori layanan bisnis yang akan dipesan. Jangan pernah mengirimkan uang muka atau data pribadi sensitif kepada pihak yang identitas kantor fisiknya tidak dapat diverifikasi secara jelas.
“Kami mengimbau pengguna agar lebih waspada saat menggunakan Google Maps serta memverifikasi keabsahan informasi jika menemukan sebuah kejanggalan,” pungkas DeLaine Prado seraya menutup pengumuman resmi mengenai penguatan sistem keamanan siber perusahaan.
Upaya preventif dari pihak pengembang platform digital ini diharapkan mampu menekan angka kerugian materiil yang dialami oleh masyarakat luas setiap tahunnya. Keamanan data pribadi tetap menjadi isu utama yang sangat krusial di tengah pesatnya perkembangan berbagai macam inovasi teknologi informasi saat ini. Para korban diharapkan segera melaporkan setiap temuan akun mencurigakan agar tim teknis dapat melakukan pemblokiran permanen dari sistem pencarian peta digital.
Langkah kolaboratif antara penyedia layanan dengan pengguna menjadi kunci utama dalam memberantas praktik penipuan yang semakin canggih dan terorganisir dengan rapi. Google berjanji akan terus melakukan audit berkala terhadap jutaan akun bisnis yang terdaftar guna menciptakan ekosistem digital yang bersih dan tepercaya. Kehati-hatian dalam memilih layanan jasa darurat melalui platform internet akan melindungi aset finansial Anda dari ancaman predator siber yang tidak bertanggung jawab. (BP/CHA).










