DENPASAR, Balipolitika.com- Misteri hilangnya Ihor Komarav, warga negara Ukraina yang tidak ada kabar di kawasan Jimbaran, akhirnya mulai menemui titik terang. Kepolisian Daerah Bali menangkap satu terduga pelaku, dan menetapkan enam orang warga negara asing sebagai buronan utama. Polda Bali juga telah mengeluarkan red notice sebagai upaya perburuan terhadap, empat dari enam orang buronan yang disinyalir kabur ke luar negeri.
Penangkapan satu terduga pelaku ini bermula dari pengejaran seorang tersangka yang mencoba melarikan diri menuju wilayah Nusa Tenggara Barat.
“Kami sudah mengamankan satu warga asing berinisial CH yang menyewa kendaraan menggunakan paspor palsu,” kata Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy di Denpasar, Sabtu, 28 Februari 2026.
Penyidik bergerak cepat melakukan pengembangan hingga berhasil mengidentifikasi enam rekan terduga pelaku lainnya yang terlibat dalam aksi kriminal terorganisasi ini. Enam orang buronan atau masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) itu ialah RM, BK, AS, VN, SM, serta DH yang semuanya pria. Aparat gabungan melakukan penggeledahan secara intensif terhadap seluruh aset dan kendaraan yang digunakan oleh kawanan penculik profesional tersebut.
“Setelah investigasi lebih lanjut, kami berupaya untuk melakukan penangkapan terhadap enam orang yang kami tetapkan tersangka. Empat orang kami sinyalir kabur ke luar negeri, dua orang masih di Indonesia,” ujarnya.
Tim investigasi menelusuri rekaman kamera pemantau dan data navigasi GPS untuk melacak rute pelarian mobil sewaan para pelaku. Jejak kendaraan Toyota Avanza serta dua sepeda motor tersebut mengarah kuat ke sebuah villa tersembunyi di Kabupaten Tabanan. Polisi meyakini lokasi tersebut menjadi tempat penyekapan Ihor setelah dirinya diculik paksa saat sedang berlatih sepeda motor.
Petugas menemukan noda darah yang sangat banyak pada lantai villa serta di dalam kabin mobil sewaan milik tersangka. Hasil pengujian laboratorium forensik memastikan bahwa sampel darah tersebut identik dengan profil DNA milik korban yang dilaporkan hilang. Temuan ini semakin memperkuat dugaan adanya tindak kekerasan berat yang dialami korban selama masa penyekapan oleh para penculik.
“Penyidik menemukan noda darah yang pengujian forensiknya cocok dengan darah di dalam kendaraan milik para tersangka,” ungkap Ariasandy.
Kasus ini menjadi sorotan internasional setelah muncul sebuah video siaran langsung yang menunjukkan kondisi Ihor sedang mengalami luka memar. Dalam rekaman berdurasi tiga menit tersebut, korban meminta pihak keluarganya segera mengirimkan uang tebusan sebesar sepuluh juta dolar Amerika atau setara dengan Rp 168 Miliar. Muncul spekulasi kuat bahwa Ihor merupakan putra dari seorang tokoh organisasi kejahatan besar yang berbasis di wilayah Dnipro.
“Kami tidak bisa berspekulasi mengenai latar belakang keluarga korban sebelum mendapatkan verifikasi resmi dari otoritas terkait,” jelasnya.
Kini polisi juga tengah bekerja keras melakukan uji DNA terhadap potongan tubuh manusia yang ditemukan di Muara Sungai Wos. Spesialis forensik memperkirakan bagian tubuh yang termutilasi tersebut sudah meninggal dunia selama kurang lebih tiga hari sebelum ditemukan warga. Aparat kepolisian berkomitmen untuk segera menuntaskan kasus ini guna menjamin stabilitas keamanan bagi para wisatawan di Pulau Dewata.
“Tim identifikasi telah mengumpulkan sampel DNA untuk dibandingkan dengan profil keluarga korban yang telah melaporkan kehilangan,” pungkasnya. (BP/CHA).













