MAGIS: Napak Pertiwi Sesuhunan Pura Dalem Griya Sakti Kabetan. (Sumber: MYR/Gung Kris)
GIANYAR, Balipolitika.com – Ritual masolah Napak Pertiwi Ida Sesuhunan Pura Dalem Geria Sakti Desa Adat Griya Sakti Kabetan, Desa Bakbakan, Gianyar berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2026.
Ida Sesuhunan masolah di areal Pura Dalem setempat yang diwarnai suasana magis yang penuh dengan nilai-nilai spiritual.
Kegiatan napak pertiwi Sesuhunan Pura Dalem Griya Sakti Kabetan memang dilaksanakan rutin serangkaian pelaksanaan piodalan di Pura Dalem tersebut yang jatuh pada setiap Anggara Kasih, Wuku Tambir.
“Piodalan saat ini jatuh pada Anggara Kasih Tambir , tanggal 13 Januari 2026 dengan tingkatan Upakara Nyatur yang merupakan piodalan ageng”, kata Bendesa Adat Griya Sakti Kabetan Ida Bagus Ketut Adnyana di sela-sela pelaksanaan kegiatan napak pertiwi tersebut.
Tuaji Bendesa menjelaskan bahwa rangkaian piodalan (Sesuhunan nyejer) berlangsung selama 4 hari dan diantara rangkaian tersebut dilaksanakan ritual napak pertiwi.
Napak pertiwi sendiri dapat dimaknai sebagai ritual turunnya energi kekuatan suci dari Ida Sesuhunan ke bumi atau pertiwi untuk tujuan pembersihan, perlindungan serta memberikan keselamatan kepada alam semesta dan umatnya, terlebih kepada wewidangan Desa Adat Griya Sakti Kabetan dengan semua krama penyungsungnya.
“Napak pertiwi merupakan prosesi sakral yang menyatukan kekuatan spiritual dan dunia nyata untuk menjaga keseimbangan alam sekala dan niskala serta keselarasan spiritual manusia dengan alam dan kekuatan suci untuk menetralisir hal negatif menjadi energi positif sekaligus memohon berkah kesejahteraan” jelasnya.
Pada napak pertiwi ini cerita yang diangkat yaitu legenda zaman Kerajaan Kediri tentang keberadaan janda sakti penguasa ilmu hitam bernama Calonarang atau Walu Nateng Dirah dari Desa Girah, yang marah karena putrinya, Dyah Ayu Ratna Manggali, sulit menikah, lalu menyebarkan penyakit dan bencana dengan mengorbankan gadis ke Dewi Durga, hingga akhirnya dikalahkan oleh Empu Baradah melalui muridnya Mpu Bahula yang menikahi Ratna Manggali, lalu mencuri kitab sihirnya, dan menghentikan wabah di Kerajaan Kediri dengan penguasa Prabu Airlangga.
Melaspas Kori Agung Pura Dalem Griya Sakti Kabetan
Rasa syukur dan anggayubagia Krama Adat Griya Sakti Kabetan makin terasa karena pada saat bersamaan di awal tahun 2026 ini telah mampu mewujudkan pembangunan Kori Agung Pura Dalem setempat sebagai hasil cita-cita lama sekitar lima belas tahun yang lalu.
“Astungkara saat ini Kori Agung Pura Dalem Griya Sakti Kabetan sudah terwujud dan sudah dipelaspas pada Soma Wage Tambir, 12 Januari 2026 dipuput oleh Ida Pedanda Gede Buruan Manuaba dari Griya Gede Pejeng”, sebut Ida Bagus Putu Udana selaku Manggala Panitia Wewangunan.
Ditambahkannya, selain pembangunan utama berupa Kori Agung yang saat ini sudah berdiri megah, juga terselesaikan pembangunan tembok penyengker Pura Dalem serta pilar Wantilan Serbaguna Desa Adat Geria Sakti Kabetan.
Terkait pembiayaan pembangunan berasal dari berbagai sumber seperti dari anggaran milik desa adat, bantuan pemerintah Kabupaten Gianyar, bantuan tangungjawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) PT Pelindo serta dari para donatur yang dengan ikhlas memberikan punia atau bantuan.
“Kami sangat mengapresiasi semangat Krama Desa Adat Griya Sakti Kabetan untuk mewujudkan pembangunan ini serta ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi melalui bantuan atau punia yang diberikan”, sebutnya.
Baik Bendesa Adat Geria Sakti Kabetan maupun Manggala Panitia berharap semua yang sudah dicapai saat ini akan semakin memotivasi program pembanguan yang berimbang terkait parahyangan, pawongan dan palemahan di Desa Adat Griya Sakti Kabetan dengan dukungan seluruh krama yang semakin kompak dan solid. (bp/gk)













