SANGAT MEMUASKAN: (Kiri) Gubernur Bali 2008-2018, Dr. Dr. Drs. Komjen Pol (Purn) I Made Mangku Pastika, MM. Berjabat tangan dengan Promotor sekaligus Rektor Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar,Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Kontradiksi (pertentangan) antara Hindu Bali dan India menjadi latar belakang yang berhasil menghantarkan Gubernur Bali 2008-2018, I Made Mangku Pastika, menyandang gelar Doktor Ilmu Agama, pasca digelarnya ujian terbuka program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, pada Kamis, 17 Juli 2025.
Dalam Disertasinya berjudul “Menapak Tilas Jejak Ajaran Veda”, Dr. Dr. Drs. Komjen Pol (Purn) I Made Mangku Pastika, MM., melakukan studi implementasi pada umat Hindu Bali dengan merumuskan tiga permasalahan yaitu adalah bukti ajaran weda tersebar di Nusantara hingga ke Bali, mengapa muncul kontradiksi antara Hindu India versus Hindu Bali dan bagaimana strategi tokoh Hindu agar intensitas terus berkurang dan bagaimana implikasi pertentangan ajaran Hindu Bali dan ajaran Hindu India terhadap umat Hindu di Bali.
Keingintahuan terhadap Agama Hindu yang dianutnya, menjadi latar belakang pria kelahiran 1951 itu untuk memulai penulisan Disertasi. Munculnya polemik Hindu Dresta Bali dengan Hindu India atau yang dikenal sebagai sampradaya asing di masyarakat, memicu pihaknya untuk melakukan penelitian.
“Bukan lagi konflik dalam pikiran (teologi, red) atau hanya perkataan tetapi sampai kepada fisik sehingga hal-hal itu mendorong saya untuk melakukan penelitian ini,” imbuhnya.
Dalam ujian terbuka dihadapan para guru besar dan hadirin, Mangku Pastika menjelaskan, seluruh umat semestinya menyadari beratnya tokoh-tokoh Hindu di Bali berjuang agar Hindu diakui sebagai sebuah agama. Ia menekankan, seharusnya para pemimpin dan tokoh-tokoh agama menyelesaikan kontradiksi yang terjadi dan jangan dualisme itu terus dibiarkan.
“Tidak boleh terjadi konflik internal karena kalau terjadi konflik internal mudah bagi orang lain masuk dan mempengaruhi kita terutama anak-anak muda bahaya konversi pindah agama karena merasa sulit beragama Hindu di Bali. Tidak boleh itu terjadi,” jelasnya.
Sementara itu selaku promotor, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., mengatakan disertasi ini bisa menjadi solusi untuk menemukan jejak ajaran veda yang dipertentangkan dari jaman kerajaan sampai hari ini.
“Beliau meneliti secara continue (berkelanjutan, red) bimbingan juga secara continue. Ini menyebabkan disertasi ini menurut saya sangat lengkap nilainya. Disertasi ini betul-betul dilakukan dengan professional penelitiannya,” cetus Prof Sudiana.
Atas kesuksesan dalam disertasinya, Mangku Pastika berhasil dinobatkan sebagai Doktor Ilmu Agama UHN Sugriwa ke-162, dengan IPK 4.0 dan predikat sangat memuaskan. (bp/gk)













