APAKAH mungkin pohon mampu membunuh manusia? Apakah mungkin ada pohon yang jahat? Tentu pohon tidak bisa bergerak, kecuali diganggu angin, digubris manusia. Pohon itu besar, berusia puluhan tahun, serasa semu jika dikatakan mampu mencekik leher manusia. Tapi ini nyata. Entah pernah berbuat salah atau tidak, pohon beringin itu telah membunuh anakku.
Ini tidak terjadi di dunia nyata kita, ini terjadi di alam sana. Katanya hanya beberapa orang yang mampu menerpa. Aku sebagai manusia biasa hanya mampu melihat akar bergelantungan, daun lebat, hingga gelap. Tingginya melampui hotel empat lantai, puncaknya bahkan lebih tinggi. Dan pohon itu diam ditempat. Sebelumnya sudah sempat aku panggil yang katanya orang pintar, lalu beberapa hari setelah kematian anakku disana, beruntun disambangi lagi orang pintar atau dukun atau paranormal atau indigo atau apalah sebutannya. Aku tidak tahu apakah mereka sempat bersepakat atau tidak, mereka berpernyataan yang sama “Anak Ibuk diculik oleh penunggu pohon ini, lalu digantung dengan akarnya”.
Mengendus bau halaman, masih sayup-sayup aroma bekas pemandian mayat anakku. Wangi dan benar-benar wangi walaupun sudah seminggu lalu digotong ke kuburan. Apakah ini hanya sugesti? Hanya aku saja yang mencium wangi. Samar-samar banyak orang yang bilang tidak wangi, bahkan ada yang mengatakan bau. Aku tahu suamiku berbohong, bahwa dia juga merasakan wangi seperti yang aku ceritakan. Sembari menyaksikan daun-daun hias milik anakku. Mereka mulai layu, menanti anakku, tapi tak kunjung datang dan tak mungkin datang. Namun aku tak kuasa menyampaikan pada mereka. Sebab setiap kali ingin menyebut namanya, bukan suara yang keluar, tapi air mata yang mengucur. Sendu, tidak tahu harus memikirkan apa lagi selain bayangan mungil tubuhnya. Pertanyaan apapun tak bisa aku tampung, apalagi aku cerna untuk dijawab. Kendatipun pertanyaan itu dikeluarkan oleh suamiku. Perut pun ikut bersedih, menggerutu tidak mau diisi makanan. Memang terasa perih, namun akan samar ketika bau ini menyerbak. Mungkin ini akan menjadi bau yang selalu tersimpan dalam benakku. Kelak, kalau aku mencium bau ini lagi, mungkin letih ini akan berangsur lagi. Aku yakin anakku berada disampingku.
***
Dari usia 8 tahun, Diandra memang sering bertandang ke pohon itu. Belajar bersama, bermain petak umpet dengan temannya, menonton excavator bekerja disekitar pohon itu atau hanya sekedar berkumpul bersenda gurau. Terkadang berkunjung sendiri, kupandangi dari kejauhan hanya bersandar dan bengong menghadap ke pohon. Memang ada banyak meja dan tempat duduk disediakan oleh orang-orang proyek. Katanya untuk tempat memantau proyek. Tempat itu nyaman, sejuk dan hanya itu aja yang masih ada tempat teduh besar. Sisanya hanya rumput liar diselah-selah beton dan batu kali berserakan.
Sebelum proyek menggerogoti semua lempengan lahan, banyak anak-anak hingga remaja berdatangan. Namun hanya sebentar. Pernah sebagian dijadikan lapangan sepak bola. Namun tidak berangsur lama, proyek mendekati lapangan itu. Lalu dikecilkan lagi menjadi lapangan futsal. Sebab yang sama, dikecilkan lagi menjadi lapangan volly. Dan itu yang terakhir. Sekarang tersisa tinggal kawasan pohon beringin. Hanya cukup untuk bermain catur serta mengoceh, mengaung. Mengaungkan teman sejawatnya yang tak ada disana.
Sebelumnya emang sedikit menyeramkan. Pohon-pohon rapat berjejeran. Hingga gelap, serasa matahari pun tak mampu menembus tirai daunnya. Tidak ada yang berani memasukinya. Mungkin ini akan lebih menyesatkan dari labirin yang dibuat manusia. Gugur daun bertumpuk sangat tebal, tentu akan menjadi rumah mewah bagi para ular. Malamnya terasa mencekam. Para burung hantu berdebat setiap malam, keras dijawab semakin keras, dijawab makin aneh, dan dijawab makin seram. Setiap malam ada gerakan aneh di pohon-pohon. Banyak yang bilang ada penunggu di hutan itu. Iya ada, luwak kelaparan. Malam pun terasa cerah, hanya ada suara jangkrik tersendat-sendat karena getaran alat besar menumbuk-numbuk tanah.
Sekarang terang benderang. Pagi terasa cerah dan hangat. Dulu tidak terlihat matahari di Pagi hari. Matahari baru nampak dari rumahku sekitar jam 11 siang. Dingin akan terasa lebih lama, perapian akan menyala sampai hangat diberikan oleh Sang Surya. Sungguh senang, aku tidak harus menyalakan perapian dan memanggul kayu bakar lagi dari pinggir hutan dulu.
Di suatu ketika selesai makan malam, Diandra memanggil aku kekamarnya. Untuk pertama kalinya Diandra terlihat ingin mengobrol serius dengan aku. Terlihat sudah bersandar bantal, berselimut. Tangannya mengepal sisi selimut, mengkerucutkan ke dadanya. Matanya menyipit, alis ditekuk menyatu. Susah memastikan kedinginan atau ketakutan, sebelum mendengar ceritanya. Aku duduk di sampingnya, mengelus rambutnya. Lurus, tebal dan wangi. Itu bukan dari aku, itu dari ayahnya. Rambutku bergelombang, ikal, tebal, susah diatur, pokoknya jelek.
“Pohon itu bisa ngomong Maa” kalimat itu muncul tiba-tiba. Matanya terlihat berair, berkilauana dan mengkilap seperti permukaan kaca yang terkena cahaya. Kesedihan & ketakautan kulihat. Dalam hati terkejut, namun tak mungkin aku percaya.
“Masakkkk? Dia ngomong apa?” sambil tersenyum aku tanya dia.
“Aku sendiri”
“Aku sendiri”
“Aku sendiri”
“Aku sendiri”
“Aku sendiri”
“Aku sendiri, dia bilang itu berulang kali ma. Suaranya kecil, kayak orang bisi-bisik” Terdengar ceritanya emang serius terjadi. Namun aku tidak menganggap itu serius. Mungkin dia salah denger, mungkin hanya sayup-sayup dari gemuruh orang proyek.
Kubendung ketakutannya. Aku bilang dia salah dengar, itu suara dari keramaian pekerja. Aku bilang lagi, kalau pohon itu bersuara, lempar aja pakai sandal, biar diam. Dia langsung berbalik arah dari pandanganku, dia tau aku sangat tidak mempercayai perkataannya. Aku cengar-cengir, mungkin terlihat seperti meledek. Aku mengucapkan selamat tidur, cium keningnya.
Diatas wastafel, masih berceceran perabotan yang belum dicuci. Ku gosok-gosok dengan lap bersabun. Namun pikiranku tidak terbayang piring yang bersih, sendok yang berseri dan gelas berjejer rapi. Perkataan Diandra membuat aku bingung. Ini pernyataan yang aneh. Tak seperti biasanya, dia hanya bercerita tentang riang gembira dengan teman-temannya. Perkataan ini membuat aku berpikir kemana-mana. Apa Diandra kesisipan penunggu pohon? Apa ada penunggu pohon? Berusaha pikiran aku alihkan, itu hanya sugesti Diandra.
Pulang dari sekolah, setiap mau makan siang dia pasti selalu bercerita. Tentang gurunya yang galak, pelajaran yang tidak dia suka, temannya yang malas, cerita banyak hal. Sekarang dia bercerita tentang ceritanya di bisikin pohon. Ada yang ketakutan, katanya tidak mau lagi kesana. “Pohon itu pasti pohon keramat” seruan teman-temannya yang sering diajak kesana, teman yang wanita. Yang laki-laki mencibir, ketawa-ketawa mengejeknya. Tentunya dia bercerita sedikit kesal, diperlihatkan dengan serius. Mungkin dia juga kesal dengan sikapku kemaren malam.
Setiap hari ketika ada waktu luang, entah siang pulang sekolah, sore habis mengerjakan tugas, pasti dia bertandang ke pohon beringin itu. Malamnya aku akan selalu menemaninya, mendengarkan cerita yang sama setiap malam. Setiap hari pohon itu mengucapkan hal yang berbeda. Namun pada kesimpulan yang sama, pohon itu hanya mengucapkan keluhan. Suatu saat, ada perkataan yang membuatku tercengang. “Jangan tebang saya, jangan tebang saya”
Pohon besar itu memang sendirian. Semua pohon yang ada disampingnya semuanya diratakan. Mungkin karena saking besarnya, pohon itu belum ditebang. Perlu chain saw sepanjang bus baru mampu menembus pohon itu. Perlu puluhan orang untuk menariknya. Pastinya rantingnya memakan waktu yang cukup lama untuk membersihkan. Satu akar angingnya aja tidak mampu ditarik hanya seorang. Besarnya sepaha aku. Bergelantungan, banyak yang di isi papan, di duduki lalu diayunkan. Sangat kuat dan sampai sekarang tidak ada yang pernah putus. Terkadang yang besarnya hanya sejari, ditarik lalu dipotong. Dihentangkan dua orang, diputar dan di ayun-ayunkan, orang ketiga yang melompati. Perlu banyak biaya hanya untuk menebang satu pohon itu. Jika pohon itu ditebang, rumahku akan selalu mendapatkan sinar matahari pagi yang maksimal. Walaupun sudah sedikit terang, pekarangan rumahmu belum sepenuhnya terkena sinar matahari sebelum jam 11.
Perkataan pohon itu disiarkan ke teman kelasnya. Sekarang satupun tidak ada yang percaya. Dengan tegas dan suara yang keras, mengajak teman-temannya untuk membuktikan itu. Di jam-jam sore sebelum malam dikala biasanya pohon itu mengeluarkan suara, diajaklah temannya mengunjungi pohon itu. Naas, sampai hari mulai gelap tapi langit masih merah, pohon itupun tidak kunjung mengeluarkan suaranya. Temannya semakin mencibir, menuntut pembuktian Diandra. Tanpa ada jawaban, hanya rintihan sunyi menatap pohon itu. Sambil berjalan temannya selalu mengoceh.
“Calon dukun”
“Anak aneh”
“Indigoooo” tidak dijawab satu patah kata pun oleh Diandra.
Akar pohon itu di tarik-tarik oleh Diandra, di pukuli. Setelah temannya jauh, dia pun sendiri, pohon itu baru mulai berbisik. Semakin keras pohon itu dipukul oleh Diandra. Tangannya mulai merah, langsung lari cepat kerumahnya. Bisikannya masih terdengar walau sudah jauh berlari.
“Temani aku, temani aku”
Ku tahu Diandra kesal, sembari menangis dia menceritakan semuanya. Menampar-nampar guling ketika mengatakan temannya mencemooh dia. Lalu melemparkan gulingnya ketika dia menceritakan pohon itu bersuara ketika semua temannya telah pergi. Aku bingung memberikan tanggapan. Tanpa ku jawab, aku suruh dia ke dapur untuk makan malam bersama.
Semenjak itu, Diandra tidak mau ke sekolah. Dua hari sudah tidak mengenakan seragamnya. Aku paksa, namun belum sampai sekolah dia sudah kembali ke rumah. Berlari menuju kamarnya, mengunci pintunya. Aku tahu dia sedang menangis. Aku tahu para temannya memberikan ujaran negatif. Tanpa guna aku memanggilnya, tak seutas pun di berikan jawaban.
Tentu isu sudah merebah. Siangnya seorang guru datang ke rumah. Dia mengatakan sudah menyatakan tegas kepada teman-temannya, untuk tidak lagi mencemooh Diandra. Mengobrol banyak, dengan kesimpulan menyuruh aku untuk membujuk Diandra kembali lagi ke sekolah. Pada saat itu Diandra masih berada di kamarnya, teriakanku pasti dihiraukan. Sampai sempat pintunya digedor halus oleh Ibu guru, nada pelan memanggil. Namun tetap tidak di indahkan mulutnya untuk menjawab.
Keresahan ini tidak bisa aku tahan. Begitu juga suamiku yang selalu khawatir dengan anak perempuan semata wayangnya. Ini harus diselesaikan. Mbah Runta, dukun yang lumayan jauh dari sini, aku datangkan. Aku ajak menyambangi pohon itu. Endusan dupa yang dibawa membuat halimun di sekujur pohon itu. Bagaimana tidak, kedua tangannya penuh menggenggam dupa. Sebagian besar ditaruhnya dalam guci tanah liat berwarna terakota, di corat-coret tinta, entah berisi tulisan apa, hanya dia yang tahu. Dibawahnya berisi kain putih, disana juga di isi gambar. Yang aku liat gambar ular berkepala wanita. Aku tidak tahu apa maksudnya dan aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
Dia mulai memejamkan mata. Sontak tangannya diangkat, bergetar. Bibirnya kumak-kamik. Tidak ada satupun dari kami yang mengetahui perkataanya. Mungkin mantra. Beberapa dupa dilempar, ada yang dikoyak di tanah. Masih dalam keadaaan menyala, sebagiannya dia kunyah.
“Jangan ganggu kami, jangan ganggu Diandra, pergilah kau dari sini, tinggalkan pohon ini” Tiba-tiba dengan lengking mengatakannya, sembari menodong pohon beringin itu. Bentakan itu keras. Pekerja proyek yang dekat dari sana mulai mengerumuni sekitaran pohon.
Dia membuka matanya. Lalu dia mengatakan bahwa pohon itu ada penunggunya. Pohon itu akan membahayakan anak aku.
***
Terdengar gemuruh suara dari rumah. Terlihat kerumunan warga memenuhi area pohon itu. Terdengar bunyi chain saw.
Jauh hari, kepala desa memang riuh akan menebang pohon itu. Hasil kesepakatannya dengan investor. Ditebang pohon itu, akan membuka akses baru, sehingga lahan-lahan dibalik pohon itu mendapat akses pembangunan. Celotehan dari para pemeriksa proyek juga mengatakan bahwa pohon itu pengganggu.
Memang benar, pohon itu menghalangi pemandangan nan indah. Sungai tidak terlalu besar. Akan sangat menyenangkan ketika melihat pemandangan indah dibawah jurang itu, ketika tidak dihalangi gerombolan daun. Kata pemilik, bisa mengganggu omset. Tamu-tamu akan merasa tidak nyaman. Keindahan yang didambakan akan terasa sirna.
Dalam keriuhan itu, ternyata yang menjadi pusat perhatian adalah Diandra. Dia membentangkan tangannya di hadapan puluhan pekerja. Ada yang membawa chain saw, beberapa menggotong tali tambang. Diandra membentak-bentak. Mengatakan bahwa pohon itu tidak mau ditebang. Katanya pohon itu udah menangis dari waktu ini, setelah mendengar dirinya akan ditebang. Mata Diandra membesar, serentak keluar perlahan rintihan air mata. Sedih, marah bercampur. Sembari membawa ranting yang cukup besar, Dia menggeprak-geprak tanah mengusir para pekerja. Sontak dengan sigap ayahnya mengambil ranting itu. Aku memeluknya dari belakang. Ku gendong bawa kerumah, tangannya dengan keras memukul punggungku. Tanpa henting suaranya menceking. Satu per satu tetangga menyambangi rumah, ikutserta menenangkan Diandra, namun tak kunjung surut suaranya, hingga cacian.
Pengerjaan ditunda. Kepala desa beserta beberapa orang, berjas berpakaian rapi serta ada yang pakai topi pekerja. Tentunya suamiku meminta maaf atas kelakuan Diandra. Mereka memohon agar menenangkan Diandra agar tidak mengganggu pekerjaan itu. Katanya semua itu dilakukan demi kemajuan Desa.
Pagi butha aku sambangi kamar Diandra. Seperti biasanya aku bangunkan dia untuk sarapan. Pintunya aku ketuk. Ku panggil beberapa kali, tidak ada jawaban. Sambil berteriak, kuping ku tempelkan di daun pintu, tak ada suara sedikit pun. Gagangnya aku putar, namun memang setiap hari pintunya dikunci. Suamiku datang, panik mendengar teriakanku. Bahunya langsung memukul keras daun pintu itu. Bahannya memang tidak bagus, sampai retak pun belum terbuka. Tendangan pun dilayangkan, namun tidak mampu juga menaklukan pintu itu. Suaranya sangat keras, suamiku berteriak melolong, namun tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam. Terlintas teringat linggis karatan di taman belakang, segera aku menuju kesana. Linggis itu masih tertancap di tanah, sangat susah aku mencabutnya. Sembari ku dengar jeritan suamiku berdendang dengan gempuran suara kayu pintu itu. Ku putar-putar, ku gerakan maju mundur, ke kiri ke kanan dan akhirnya tercabut. Tidak menghiraukan sisa tanahnya, aku langsung bawa ke dalam rumah. Dicongkel gagangnya dengan linggis itu, akhirnya terbuka.
Diandra tidak ada.
Seketika aku keluar rumah. Entah kenapa, aku teringat pohon beringin itu. Aku berlari kesana, tanpa melihat suamiku dibelakang yang juga berlari. Sampai di bawah pohon, aku mengadah. Penglihatanku langsung kabur dan langsung menghitam.
***
Sudah lama aku pindah rumah. Tak tahu kenapa, aku ingin menyambangi pohon itu lagi. Pohon itu masih berdiri kokoh. Pohon itu diikat dengan kain hitam putih motif papan catur.
Aku benci pohon itu.
Secara bersamaan, aroma wangi itu datang lagi. Wangi mayat Diandra.
Kintamani, 6 September 2025










