JAKARTA, Balipolitika.com- Kiprah politisi PDI Perjuangan Dapil Bali, I Nyoman Parta di Senayan menjawab keluhan para peternak babi Indonesia, khususnya Pulau Dewata.
Duduk di Komisi X DPR RI masa bakti 2024-2029, Parta yang juga Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PDI Perjuangan di Badan Legislasi itu mendorong agar impor daging babi distop.
Pesan itu disampaikan pria kelahiran 9 Juni 1971 asal Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar itu kepada Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso dan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono dalam rapat kerja urusan komoditas strategis di Senayan, Jakarta.
“Selesai aker urusan komoditas setrategis, saya manfaatkan waktu menyampaikan pesan para peternak babi di seluruh Indonesia, khususnya Bali, agar Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian mengkaji kembali dan bahkan menghentikan import daging babi dari luar negeri,” ucapnya Rabu, 26 November 2025.
Gayung bersambut, Parta menyebut Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso dan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono berjanji akan segera merapatkan dan setiap tahun akan dikurangi sampai tidak ada lagi impor daging babi.
Parta merinci, mengacu data BPS RI, impor daging babi RI per tahun tergolong besar, yakni 4.875 ton pada 2023 dan melonjak dratis menjadi 7.458 ton pada tahun 2024.
“Tahun ini, per Januari hingga Juli 2025, impor daging babi menyentuh angka 5.741 ton. Dari berbagai sumber daging babi impor ini berasal dari negara Amerika Serikat, Denmark, Jepang, dan Spanyol,” ungkap Parta.
Di sisi lain, Parta menyebut berdasarkan data BPS RI, jumlah produksi daging babi di Indonesia per tahun terbilang besar, yakni 135.039 ton pada tahun 2023 dan 130.871 ton pada tahun 2024.
“Yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah bukan mengimpor daging babi, tetapi bagaimana membantu peternak babi dengan menyiapkan bibit unggul, bahan baku pakan yang lebuh murah, kandang dengan standar khusus, dan pendampingan kepada peternak secara konsisten,” pesannya.
“Selama ini alasan impor adalah kualitas daging babi lokal dibilang kalah dengan kualitas daging babi impor. Padahal sebenarnya, kualitas daging babi lokal bisa dibuat lebih baik. Begitu juga dengan harga daging babi lokal bisa bersaing dengan catatan pemerintah menyiapkan bahan baku pakan terutama jagung sehingga cost produksi menjadi lebih rendah. Jadi pemerintah harus hadir, pemerintah tidak boleh mengambil langkah pragmatis yang dalam jangka panjang bisa merugikan peternak, lambat laun peternak bisa berhenti berproduksi,” tegasnya. (bp/ken)













