SAYA sering merasa bahwa peradaban modern diam-diam sedang mencuri sesuatu yang paling manusiawi dari hidup kita: waktu luang untuk menjadi manusia. Hari-hari kini dipenuhi ritme yang serba ekonomis. Pagi bekerja, siang mengejar target, sore memikirkan cicilan, malam menghitung keuntungan, lalu tidur dalam kecemasan agar esok tetap bisa bertahan. Manusia modern hidup dalam kalender yang penuh agenda, tetapi kosong percakapan batin. Kita menjadi makhluk yang sangat sibuk, namun semakin asing terhadap makna hidup itu sendiri.
Padahal ketika saya masih belasan tahun, saya menyaksikan bentuk kehidupan yang terasa jauh lebih utuh dibanding hari ini. Setelah shalat Isya, para bapak di kampung tidak buru-buru pulang. Mereka duduk di teras mushola, bercengkrama tanpa tujuan praktis. Mereka membahas panen yang gagal, lelucon receh, kisah para nabi, tentang surga, tentang kematian, bahkan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Anehnya, justru di dalam ketidakpentingan itulah hidup terasa penting.
Saya baru menyadari bertahun-tahun kemudian: masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang seluruh waktunya habis untuk bekerja. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang masih memiliki waktu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan uang.
Filsuf Yunani, Aristoteles, pernah mengatakan, “Tujuan bekerja adalah agar manusia memiliki waktu luang.” Kalimat itu terasa paradoksal di zaman sekarang. Sebab hari ini manusia justru bekerja agar bisa terus bekerja lagi. Kita hidup dalam lingkaran produksi tanpa akhir. Bahkan waktu istirahat pun berubah menjadi komoditas. Liburan dipamerkan di media sosial sebagai prestise. Hobi dipaksa menghasilkan cuan. Persahabatan dibangun berdasarkan jaringan profesional. Semua hal harus produktif. Semua harus bernilai ekonomi.
Akibatnya, manusia kehilangan ruang kontemplasi. Kita lupa bagaimana caranya duduk tanpa tujuan. Kita canggung berbicara tanpa kepentingan. Kita tidak lagi akrab dengan kesunyian. Dunia modern memaksa manusia menjadi mesin yang terus bergerak, sebab sistem ekonomi global memang tidak menyukai manusia yang berhenti sejenak untuk berpikir.
Di titik inilah saya merasa negara seharusnya hadir. Selama ini ukuran kemajuan sering hanya dihitung melalui angka pertumbuhan ekonomi, investasi, dan konsumsi. Padahal negara yang benar-benar maju bukanlah negara yang rakyatnya terus bekerja siang dan malam, melainkan negara yang mampu memberi rakyatnya rasa aman untuk hidup. Aman secara kesehatan. Aman secara pendidikan. Aman secara sosial.
Ketika kesehatan dijamin negara, rakyat tidak hidup dalam ketakutan akan biaya rumah sakit. Ketika pendidikan dijamin negara, anak-anak miskin tidak dipaksa mengubur kecerdasannya hanya karena biaya kuliah. Negara semestinya memastikan bahwa setiap manusia punya kesempatan mengembangkan dirinya, bukan sekadar menjadi tenaga kerja murah bagi pasar.
Saya membayangkan sebuah masyarakat yang selepas waktu isya masih memiliki tenaga batin untuk bercakap-cakap. Ada yang berdiskusi sastra di pendopo desa. Ada yang belajar musik tradisi. Ada yang membahas filsafat di salah satu rumah warga, keliling bergilir. Ada yang mengaji di langgar kecil sambil berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Ada komunitas budaya, kelompok kesenian, jamaah tarekat, lingkar sastra, dan ruang-ruang kecil tempat manusia merawat jiwanya.
Mungkin sebagian ekonom akan menganggap itu tidak produktif. Tetapi justru di sanalah manusia sedang bertumbuh secara paling mendalam.
Filsuf Byung-Chul Han, dalam kritiknya terhadap masyarakat modern, pernah menulis, “Masyarakat yang hanya mengejar kinerja pada akhirnya akan melahirkan kelelahan dan depresi.” Kalimat itu terasa sangat relevan hari ini. Kita hidup di era ketika manusia dipaksa terus “menjadi kaya”, sampai-sampai tidak punya waktu untuk mengenali dirinya sendiri. Bunuh diri meningkat. Gangguan mental meningkat. Kecemasan menjadi wabah baru. Tetapi anehnya, kita tetap menyebut ini sebagai kemajuan.
Barangkali karena kita terlalu lama mendefinisikan manusia hanya sebagai makhluk ekonomi.
Padahal manusia bukan hanya perut yang harus diisi, melainkan jiwa yang harus dirawat. Dan jiwa tidak bisa hidup hanya dengan angka, laba, serta grafik pertumbuhan. Jiwa membutuhkan percakapan, kesenian, spiritualitas, tawa, kenangan, dan waktu senggang yang tidak dibebani target apa pun.
Saya percaya, salah satu tanda tertinggi kemakmuran sebuah bangsa justru terlihat ketika rakyatnya memiliki cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang tampak “tidak berguna”. Sebab di saat manusia membaca karya sastra, membicarakan filsafat, merenungi kematian, atau sekadar tertawa ngalor-ngidul di teras mushala, sebenarnya ia sedang mempertahankan martabatnya sebagai manusia.
Mungkin pertanyaan paling penting bagi peradaban hari ini bukan lagi “berapa banyak uang yang berhasil kita hasilkan?”, melainkan: apakah kita masih memiliki cukup waktu untuk hidup sebagai manusia seutuhnya. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah seorang sastrawan dan pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media nasional. Novel terbarunya berjudul “Tanah Terbelah 1948”.













