ADA pengakuan tidak terduga dari seorang siswa dalam mengikuti MPLS tahun ini. MPLS adalah masa pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa kelas baru atau siswa kelas 1, 7, dan 10. Rasanya mubazir kok pengenalan lingkungan sekolah itu sedemikian ”dibesar-besarkan”. Viral di berbagai media sosial. Lingkungan sekolah sudah sangat standar. Bangunan utamanya adalah gedung sekolah. Ada halaman upacara dan mungkin ada perpustakaan atau laboratorium. Sekolah di Bali tentu dengan sarana persembahyangan sebagai bentuk implementasi Tri Hita Karana.
Sekolah-sekolah biasanya dibangun di tengah desa atau di kota kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Sekolah biasanya tidak punya hubungan dengan lingkungan lain selain pada lingkungan yang bisa dikatakan cukup terbatas atau sempit. Karena itu, MPLS mungkin berkaitan dengan lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial atau lingkungan budaya. Kalau begitu, MPLS juga nanti di masa depan harus dirancang pada pengenalan lingkungan sekolah dalam artian sesungguhnya, seperti potensi ekonomi, masyarakat pendukung, transportasi, fasilitas publik. Yang mana hal ini dapat mendukung operasi sekolah.
Tapi, ada yang menarik dari MPLS bagi seorang siswa yang bernama Geo. Baginya MPLS adalah ketika dia mengenal kantin-kantin di sekolahnya yang baru. Dia menemukan 19 kantin. Pertanyaannya adalah apakah ini sesuatu yang (tidak) penting? Apakah MPLS melulu soal kurikulum, senam sehat, perayaan hari anak, atau berbagai harapan terhadap sekolah, serta potret gurunya yang hebat?
Bagi Geo hal itu semuanya lewat begitu saja. Yang penting baginya adalah kantin! Susah sekali menjelaskan dan memahami bahwa diam-diam seorang anak yang ikut MPLS nyatanya yang menjadi perhatiannya hanya kantin sekolah. Dan, materi pengenalan kantin, menu, pelayanan, tidak ada di agenda MPLS. Bagi Geo itu luar biasa karena suatu lingkungan sekolah memiliki 19 kantin. Dia amat senang. Banyak ada tempat pilih makanan.
Nyatanya memang kantin diabaikan dan dianggap tidak penting. Kantin hanya dibangun pada sudut-sudut yang sempit sekolah. Mungkin bagi Geo kantin itu sama pentingnya dengan halaman upacara, laboratorium, atau dengan ruang kelas. Bahkan kantin jauh lebih penting dari semua sarana dan prasarana sekolah. Itu kira-kira menurut Geo.
Memang hari pertama, hari kedua sekolah saat program MPLS ia sudah membelanjakan uang bekalnya habis di baru beberapa kantin. Dia tidak lagi mau membawa bekal. Hari pertama memang bawa bekal, tetapi hanya untuk jaga-jaga. Ibunya bangun pada pukul 04.00 pagi menyiapkan bekal sekolah, tetapi bekal ini kembali utuh, tidak tersentuh! Besoknya ketika ditawari bekal Geo menolak. Ibunya kalah dan menyerah. Akhirnya Geo berangkat ke sekolah tanpa bekal seperti ketika di SD. Memang uang jajannya tidak banyak. Tapi baginya itu cukup untuk ”wisata kuliner” di kantin sekolah.
Catatan pengalaman MPLS ini harus menjadi perhatian bersama terutama dalam pembangunan infrastruktur sekolah dan tentu tidak melulu berkaitan dengan fasilitas atau infrastruktur-infrastruktur formal. Kantin harus dibangun secara khusus dengan konsep yang modern hegienis dan berbudaya makan yang relevan.
Kantin sekolah bisa dijadikan seperti perpustakaan; tempat tidak hanya untuk makan dan minum bagi siswa tetapi juga adalah aktivitas sosial; aktivitas makan di sela-sela belajar dan menghilangkan kejenuhan. Karena itu, kantin harus mendapat perhatian! Mengapa demikian? Karena, kantin pada umumnya sangat sempit dan kotor. Pengelola kantin atau para pedagang hanya melihat uang siswa. Pelayanan dinomorduakan. Mungkin pikirannya, toh siswa akan belanja!
Perencanaan pembangunan infrastruktur sekolah harus memberikan perhatian kepada kantin agar nyaman dan juga yang terpenting adalah menu yang ditawarkan atau dijual di kantin. Kantin jangan hanya menjual makanan-makanan instan tetapi lewat kantin sekolah, para siswa dikenalkan makanan-makanan tradisional yang sehat yang mungkin dikemas dengan cara yang baru sehingga menarik bagi siswa. Sementara ini, kantin hanya menyajikan berbagai makanan instan dan selama tiga tahun siswa akan singgah di kantin dan makan-makanan instan.
Kantin sekolah bisa menjadi tempat berkumpulnya siswa dan melepaskan lelah sehingga mendapatkan tempat yang nyaman dan mendapatkan makanan yang sehat. Mengingat pengalaman Geo masuk ke MPLS ke kantin sekolah ada semacam tawaran atau saran bagaimana pentingnya kantin bagi siswa. Karena itu, kantin harusnya tidak dikelola secara amatir, tetapi kantin sekolah harus dikelola secara profesional dengan memberi tekanan pada pendidikan makan sehat.
Secara fisik kantin di sekolah memang masih sangat memprihatinkan. Demikian pula halnya secara menu yang dijual di kantin, boleh dikatakan asal-asalan. Artinya, siswa tidak punya pilihan lain, selain harus berbelanja di kantin sekolah, apa pun menunya. Juga waktu untuk berbelanja dan istirahat di kantin sangat tidak masuk akal karena jumlah siswa yang banyak jam istirahat bersamaan dengan ruangan kantin yang sangat terbatas. Tentu membuat siswa tidak nyaman menikmati makan di sela-sela istirahatnya.
Makanan yang dijual di kantin sekolah juga tidak pernah dicek secara rutin. Apa pun yang dijual di kantin sekolah itu yang dibeli oleh siswa. Misalnya kantin sekolah harus mencoba untuk mengembangkan pola makan yang sehat, misalnya mengurangi kemasan plastik atau menyajikan menu-menu makanan yang segar dan bukan menu-menu makanan yang instan. Kantin sekolah tidak bisa dibiarkan sebagai warung kaki lima biasa, warung-warung yang sekadar jalan. Tetapi kantin sekolah harus dipandang sebagai satu titik dari sekolah di mana siswa akan bisa menikmati makanan yang sehat.
Dengan memperhatikan hal itu, mungkin apa yang Geo lakukan tidak terlalu ideal, tidak sejauh pandangan dalam esai ini. Mungkin yang dilakukan Geo hanya keinginan untuk berbelanja. Untuk itu bagi Geo MPLS adalah mengenal 19 kantin di sekolahnya dan dia sudah menjajalnya hampir semua menu makanan. Dan di rumah, ibunya sedikit khawatir jangan-jangan Geo minum es atau membeli minuman instan. Ya tunggu saja semoga dia tidak batuk setelah MPLS.
Catatan ini amat sepele. Tentang kantin sekolah. Sementara ini MPLS tidak pernah membicarakan kantin dan makanan sekolah yang dijual di dalamnya. Tapi seorang anak ternyata memaknai MPLS dengan semacam ”wisata kuliner” di sekolahnya dan bersyukur dia menemukan 19 kantin, jauh lebih banyak dari kantin di sekolah SD-nya dulu.
Ini masuk akal karena selama 3 tahun ke depan gio dan kawan-kawannya akan keluar masuk kantin. Dan mungkin kantin atau kesempatan berbelanja di sekolah di luar jam pelajaran di sela-sela jam pelajaran yang sangat sedikit jam istirahatnya, menjadi waktu yang sangat penting untuk mengembalikan stamina belajar siswa.
Sayang sekali hal ini tidak pernah ada yang memikirkan. Kantin dibiarkan semrawut. Sekolah tidak membangun kantin yang baik. Sekolah tidak memilih para pedagang yang memahami gizi. Sekolah tidak pernah melakukan pengecekan makanan di kantin. Sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap kondisi kantin tentu sekolah karena walaupun kantin disewakan kepada pihak ketiga namun urusannya adalah dengan pihak sekolah. Kondisi kantin dan menu makan yang ada di dalamnya tentu harus menjadi perhatian sekolah karena sekolah akan merekomendasi menu makan tersebut kepada siswanya.
Tidak dinyata, bagi seorang siswa, MPLS itu adalah mengenal kantin sekolah. Pengalaman ini menunjukkan betapa sekolah terlalu formal dan mengabaikan pandangan-pandangan siswa. Siswa tumbuh dalam dunianya, tetapi orang dewasa menyeretnya ke dalam dunia orang dewasa yang masih belum waktunya. Bagi anak-anak pendidikan sejatinya dibangun dari dunia anak bukan menyeret anak dari dunianya. (*/bp)













