NASIONAL, Balipolitika.com – Kasus bully memang belakangan kian marak terjadi di Indonesia, parahnya terjadi di lingkungan sekolah dan kampus.
Salah satu kasus yang terjadi akibat bully, adalah ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025.
Pasca ledakan bom rakitan ini, data awal 54 orang menjadi korban dengan luka ringan dan luka berat. Namun data terus update, seiring pemeriksaan polisi.
Ironisnya, terduga pelaku ledakan di SMAN 72, Kepala Gading, Jakarta Utara adalah siswa yang masih berusia 17 tahun yang menjadi korban bully.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, terduga pelaku merupakan siswa dari SMAN 72 Jakarta.
Kejadian ledakan kepada tiga orang siswa SMAN 72 yang datang ke Rumah Sakit (RS) Islam Cempaka Putih pada Jumat malam.
Ketiganya yakni K (17), R (16) dan M (17) yang sedang menjenguk teman-teman mereka yang menjadi korban ledakan di sekolah.
K mengatakan, ia dan rekan-rekannya menduga pelaku adalah siswa yang fotonya tersebar sedang berada di dekat senjata usai peristiwa ledakan terjadi.
Dugaan itu karena siswa tersebut satu-satunya yang berada di dekat senjata. Namun, ketiga siswa enggan mengungkap nama siswa itu.
K hanya mengatakan, terduga pelaku merupakan siswa kelas XII IPS. “Kenalnya dari TK. Dia lebih tua satu tahun di atas saya,” ujar K.
Saat masih kecil siswa itu cukup ceria dan mereka sering bermain bersama. Namun, ketika sudah dewasa siswa tersebut pendiam.
Meski begitu, K masih sering bertegur sapa dengan siswa tersebut. Puncak bulan bahasa K mengungkapkan, kakak kelasnya itu sempat bertanya kepadanya soal kapan puncak peringatan Bulan Bahasa kepadanya. Kebetulan K memang bertugas sebagai pembawa acara tersebut pada 10 November 2025.
“Dia nanya dua kali soal puncak bulan bahasa itu kapan kepada saya. Saat pertanyaan saya pun tak berpikir apa-apa. Cuma memberitahu kapan tanggalnya,” kata dia.
K mengaku tidak tahu-menahu soal kabar siswa terduga pelaku peledakan itu kerap menjadi sasaran perundungan. Sebab, K tidak banyak kenal dekat dengan siswa kelas XII.
“Selama ini dengar kalau dia pernah di-bully. Dia juga terkenal pendiam. Dia sering di kelas aja,” kata Raka.
“Tapi akhir-akhir ini kita tidak tahu apakah dia kena bully lagi atau tidak,” lanjut dia.
Berdasarkan kabar yang R dengar, dari sejumlah kawan sekelas terduga pelaku, yang bersangkutan memiliki kebiasaan menonton video gore. Video gore merupakan genre video yang menampilkan kekerasan fisik.
Ledakan di dalam masjid, menurut siswa lainnya, N (16), ledakan di sekolahnya terjadi saat shalat Jumat akan digelar.
Tepatnya saat imam shalat sedang berkhutbah. M mendengar tiga dentuman saat peristiwa terjadi. Dentuman yang paling keras menurutnya dari dalam masjid. Lalu dua dentuman lainnya ada di sekitar masjid.
“Satu ledakan di masjid yang paling besar. Dua di sekitar masjid,” kata M. Saat ledakan terjadi, M bersama R sedang berada di masjid. Namun, keduanya berada di sisi yang jauh dari ledakan yang terjadi di bagian tengah masjid. Meski begitu, M sempat mencium bau dari titik ledakan yang seperti bau petasan. (BP/OKA)









