SURABAYA, Balipolitika.com- Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya membongkar praktik perjokian berskala nasional yang mencoreng marwah institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Aparat meringkus empat belas orang anggota komplotan yang secara khusus menyasar calon mahasiswa fakultas kedokteran dengan omzet mencapai puluhan miliar rupiah. Kelompok kriminal pimpinan tersangka berinisial K ini terdeteksi telah menjalankan operasi ilegal mereka sejak tahun 2017 secara sangat terorganisir.
Hal ini mendapat respon negatif dari netizen di Indonesia. Netizen kini menyindir keras prilaku lancung yang dilakukan untuk masuk ke universitas dengan jurusan kedokteran, dimana seorang yang masuk diwajibkan memiliki kualitas bukan sekedar hanya masuk.
“Jaga kesehatan, dokter kita jokian,” ucap Netizen menegaskan kekhawatiran dengan praktik jasa joki tersebut.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistyawan menyatakan, bahwa rata-rata permintaan joki yang diterima tersangka adalah calon mahasiswa yang hendak masuk ke fakultas kedokteran. Penyidik menemukan fakta bahwa sindikat ini mematok tarif fantastis mulai dari Rp500 juta hingga Rp700 juta untuk setiap satu paket kelulusan. Uang haram tersebut kemudian mengalir ke kantong para joki lapangan yang menerima upah berkisar antara Rp20 juta sampai Rp75 juta. Nilai imbalan bagi eksekutor di lapangan sangat bergantung pada tingkat kesulitan soal ujian serta gengsi dari universitas yang menjadi target.
“Prinsipnya sindikat ini harus kami ungkap dan bongkar jaringannya agar tidak ada lagi aksi sejenis yang mencederai dunia pendidikan kita,” kata Kombes Pol Luthfie Sulistyawan.
Data kepolisian menunjukkan bahwa lebih dari 150 orang telah menggunakan jasa gelap ini guna mengincar kursi panas di jurusan medis. Sebanyak 114 klien sindikat tersebut tercatat berhasil lolos seleksi dan kini telah berstatus sebagai mahasiswa aktif di berbagai perguruan tinggi. Sebaran para pengguna jasa joki ini meluas mulai dari wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga menembus pulau Kalimantan.
“Sebagian sudah lulus yaitu sebanyak 114 orang dan ini akan kami dalami karena sebarannya ternyata tidak saja di Jawa,” tuturnya.
Polrestabes Surabaya kini tengah melakukan pelacakan secara intensif terhadap identitas ratusan mahasiswa yang terlibat dalam praktik kecurangan UTBK tersebut. Polisi berkomitmen untuk menyeret seluruh pihak yang menikmati hasil kejahatan ini agar mendapatkan sanksi hukum dan akademik yang setimpal. Aparat penegak hukum memastikan bahwa proses penyidikan tidak akan berhenti hanya pada empat belas orang tersangka yang sudah tertangkap saat ini.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan Dikti untuk langkah-langkah lebih lanjut terkait status kemahasiswaan para oknum yang terbukti terlibat,” ucapnya.
Langkah koordinasi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menjadi sangat krusial guna membatalkan status kelulusan para mahasiswa hasil produk perjokian tersebut. Praktik curang ini tidak hanya merugikan peserta ujian lain yang jujur tetapi juga mengancam kualitas lulusan tenaga medis di masa depan. Polisi menduga ada teknologi canggih yang digunakan komplotan K untuk membocorkan soal ujian langsung dari ruang pelaksanaan tes UTBK.
“Tim penyidik masih bekerja keras di lapangan guna membersihkan seluruh ekosistem pendidikan tinggi dari praktik kotor seperti ini,” ujarnya.
Masyarakat kini menunggu keberanian pihak universitas dan kementerian untuk menjatuhkan sanksi berupa drop out massal bagi mahasiswa yang terbukti curang. Penegakan aturan yang tegas menjadi syarat mutlak agar sistem seleksi nasional tetap memiliki kredibilitas di mata publik serta calon intelektual. Pengungkapan kasus besar ini diharapkan mampu memutus rantai bisnis perjokian yang sudah berurat akar selama hampir satu dekade terakhir.
“Tindakan tegas ini berkaitan dengan tindak lanjut serta sanksi dari pihak kampus terhadap oknum mahasiswa yang terlibat perjokian,” pungkasnya. (BP/CHA).













