MEJA DAN KURSI
Suatu hari, di cafe dan resto
Adakalanya kita menjadi meja dan kursi yang setia
Menunggu sepasang kekasih tersesat di sini
Di bawah percakapan bulan dan bintang
Bertanya ke mana jalan yang ingin ditempuh
Sedang waktu telah larut
Dengan tetes hujan sore tadi
Pupuslah keinginan itu
Kita pun kuyup oleh bekas canda
Beberapa saat lengang oleh kesenyapan
Lampulampu tenggelam
Mendengkur dikawani derik jangkrik
Hanya seorang lelaki tua dengan biolanya
Menembangkan kepahitan hidup
Seirama dengan cangkir kopinya yang mulai tandas
Perasaan kabur
Dunia seolah berkhianat
Seperti istrinya yang telah minggat
Kita pun menjadi mengerti
Betapa angan terkadang terbawa angin
Tubuh menjadi kerontang daun
Tangkai terlepas
Musim masih saja berguguran
Kelak akan ada saatnya tumbuh kembali dan lagi
2025
TUTORIAL PENGHAPUS KENANGAN
Kadangkala sebuah kenangan pun harus dihapus
Memetiknya dimasukkan ke dalam keranjang
Di antara riuh keramaian perang batin
Aku mengotak-atik mencari
Sebuah tutorial penghapus kenangan
Tempat kedua kakiku melangkah pergi
Sebuah perangkat disiapkan
Data-data ingatan
Bahkan juga arsip-arsip
Semua dikumpulkan
Tapi apakah setelah musnah
Kenangan benar-benar hilang?
Di danau bening aku bercermin
Wajah rembulan berbayang
Ikan-ikan bercerita haru
Betapa ia ingin ke hulu setelah di hilir
Aku tercenung
Daun-daun gugur
Tunas-tunas tumbuh
Ini bukan soal melupakan
Menerima adalah bahagia
2025
LARIK-LARIK DARI KESEPAKATAN PERPISAHAN
: E
Kitalah yang mengarang rancangan
Busana baju pengantin, kalung bunga melati, dan seikat
Janji.
Sebuah rumah yang kaukatakan indah
Adalah jaring laba-laba.
Mesin penghancur yang dipasang pada mulut gua
Burung-burung beterbangan
Kelelawar tidur, kencing, buang hajat sesuka hati
Maka demikianlah kata sepakat:
- Akulah puisi
- Kaulah puisi
- Air mata manik-manik bahagia
- Kolam pembasuh luka
- Dan selimut tebal
Setelah ini, hari-hari di klinik kesepian
Merawat larik-larik
Dari kesepakatan perpisahan
2025
MEMBACA PUISI
Baru saja sepucuk puisi jatuh dari langit
Bukan wahyu, bukan dibawa malaikat
Namun puisi turun dengan kemuliaan
Di tanganku ada kata-kata
Pucuk rumput dengan larik-larik daun
Di awal kalimat kutemukan bunga
Aku terus merambah rimbunnya
Bait demi bait
Menyala di halaman buku
Maka dengan berseru aku membaca
Mengeja sunyi pada rima
Membakar ranting-ranting rindu
Tak seorang pun tahu
Mengigau aku:
– Puisi adalah puncak gunung penyair
– Puisi adalah pohon-pohon berbuah
– Puisi adalah darah daging
Kepada kau aku berpuisi:
Hatiku telah ada pada jurang kelam
Bersuara pada batu-batu
Memantulkan suaraku sendiri
Gema tak reda
Gaung membumbung
Dan aku menyaksikan puisiku mengalir
Ke muara sungaimu
2025
GEMERISIK PUTIK
Pertama kudengar gemerisik putik
Kelopak mencolok, wangi berseri, dan gemuang kumbang
Berebut menyerbukkan butir-butir kepala sari
Di jambangan aku menjadi kupu-kupu
Mengitari bunga saban pagi dan petang hari
Memintal benang sari impian
Bagai kekasih yang rindu pada kekasih
Aku hinggap pada daun-daunmu
Melihat kekalahan serangga-serangga bunga
Tapi aku tak ingin jadi pemetik putik
Berkabar pada musim sebagai pejantan tangguh
Setelah rontok tangkai mabuk kepayang
Di antara semerbak harum sepal kelopak bunga
Udara menaburkan guguran ranting kering
Kudapati musim menjatuhkan sayapku di pelukmu
2025
BIODATA
Faris Al Faisal, penyair dan pendiri Rumah Puisi di Indramayu.













