DENPASAR, Balipolitika.com- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS longsor tajam hingga tembus ke angka Rp18.004 dan cenderung makin menurun pada perdagangan Kamis (4/6) pagi. Rupiaj melemah 57 poin. Anjloknya mata uang garuda ini tercatat resmi berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 Wita atau 08.00 WIB.
Disinyalir kebijakan moneter global menekan rupiah pada awal Juni 2026 ini. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen buruk dari dalam negeri maupun luar negeri. Tekanannya berlapis.
Dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh meningkatnya inflasi Indonesia pada Mei 2026, kata pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi. Ibrahim membeberkan bahwa lonjakan harga komoditas dalam negeri menjadi pemicu utama ambruknya nilai tukar. Sangat krusial.
Dasar data formal Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Indonesia melonjak di angka 0,28 persen. Angka ini lebih tinggi dari April yang cuma 0,13 persen. Kenaikan inflasi didorong oleh melambungnya harga pangan, energi, dan tarif yang diatur pemerintah. Akibatnya rupiah babak belur.
Lagipula surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyempit tajam menjadi hanya 89,1 miIiar dolar AS. Nilainya menyusut drastis. Surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal, ujar Ibrahim saat dikonfirmasi, Kamis (4/6).
Penyempitan surplus terjadi akibat pasokan logistik global yang tersendat di Timur Tengah. Hambatan makin parah. Masalahnya, Selat Hormuz diblokade oleh pasukan garda revolusi Iran dan belum jelas kapan dibuka kembali. Jalur perdagangan mati total.
Tetapi sentimen luar negeri tidak kalah mengerikan dalam menekan pasar keuangan domestik. Konflik terus memanas. Ketegangan geopolitik dipicu operasi militer Israel di Lebanon selatan yang masih berlanjut sampai sekarang. Benar-benar pelik.
Ketidakpastian global ini otomatis mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia secara signifikan. Inflasi global mengintai. Sebaliknya data ekonomi Amerika Serikat justru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih sangat kuat. Dolar AS perkasa.
Kondisi tersebut membuat Bank Sentral AS atau The Fed diprediksi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Investor global tiarap. Pada akhirnya ekspektasi suku bunga tinggi tersebut sukses membuat dolar AS menggilas mata uang negara berkembang. Rupiah jadi korban.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan segera mengambil langkah taktis guna meredam volatilitas kurs ini. (BP/CHA).













