BADUNG, Balipolitika.com- Bali, pulau yang menyimpan sejarah di setiap pelosoknya. Ingin tahu tentang desa yang lahir dari sebuah pengesahan penting? Sejarah Desa Pangsan berakar kuat pada peninggalan kuno dari abad ke-12. Desa ini menjadi bukti nyata perpaduan tradisi dan administrasi.
Sebuah Prasasti dari Lempengan Tembaga menjadi buktinya. Lempengan tembaga ini berukuran panjang 41 cm dan lebar 10 cm. Peninggalan bersejarah ini masih tersimpan di Pura Penataran Agung Pangsan. Prasasti ini diperkirakan dibuat pada abad ke-12 Masehi. Masa itu adalah masa Pemerintahan Raja Jaya Pangus, sekitar tahun 1181 M.
Prasasti Tembaga tersebut berisikan tentang Paruman Nunung. Paruman Nunung adalah sebuah Upacara Kerajaan yang besar. Upacara ini dihadiri delapan Senopati yang berkuasa di Bali. Delapan Senopati ini diperkirakan mewakili delapan Kabupaten di Bali. Para Senopati bertugas di bidang keprajuritan. Ada juga yang bertugas sebagai Hulu Balang Hakim dan Jaksa Pengusut. Bahkan ada Samgat (Pemutus Perkara) serta Pendeta Siwa dan Budha.
Paruman Nunung dihadiri pula oleh Empu Kuturran. Masalah yang dibahas diduga terkait pembahasan pajak. Pembahasan juga tentang pemberian hadiah kepada Desa Paruman oleh Raja. Pengesahan atas hasil rapat disahkan di tempat ini. Lembaran kelima prasasti menjadi lembaran pengesahan Paruman Nunung. Lembaran ini tersimpan sebagai bukti di Pura Penataran Agung Pangsan.
Asal Kata Pangsan
Nama Pangsan lahir dari sejarah Paruman Nunung tersebut. Nama ini berasal dari dua pengertian yang kuat.
-
Pengesahan: Nama Pangsan berasal dari kata Pengesahan. Pengesahan ini terkait momen disahkannya Paruman Nunung.
-
Depang San: Pangsan juga berasal dari kata Depang San. Artinya biarkan saja, karena lembar pengesahan tertinggal. Lembaran Prasasti Pengesahan (Lembar 5) tertinggal di tempat ini.
Struktur Unik dan Gotong Royong
Desa Pangsan memiliki dua sistem pemerintahan yang berjalan. Ada Desa Adat yang menjaga tradisi. Ada juga Desa Dinas yang mengurus administrasi modern. Terdapat lima banjar adat di sana. Yaitu Sekarmukti, Pundung, Kasianan, Tengah, dan Dalem. Sementara banjar dinasnya ada empat.
Banjar Dinas Pundung dan Sekarmukti memiliki ciri khas. Kedua banjar ini membangun bale banjar (balai desa) bersama. Mereka membangun dalam satu atap yang sama. Hal ini menunjukkan semangat gotong royong warga desa. Desa Adat berperan penting dalam menjaga tradisi.
Masyarakat Pangsan aktif dalam pembangunan fisik dan non-fisik. Desa ini menunjukkan perkembangan di bidang pendidikan. Komunitas seninya, Seni Jong Gembyong, sukses dalam lomba. Sejarah Desa Pangsan adalah cerminan warisan leluhur. Desa ini memadukan warisan kuno dengan dinamika modern Badung. (BP/CHA).













