Sekolah Mengajarkan Banyak Hal, Tapi Apakah Siswa Benar-Benar Belajar Berpikir?
Sekolah di Era Agoritma: Masih Mengajar, atau Sekadar Mengejar Kurikulum?l
SETIAP pagi, jutaan siswa di Indonesia datang ke sekolah dengan seragam rapi, tas penuh buku, dan jadwal pelajaran yang padat. Mereka belajar bahasa, matematika, sains, teknologi, hingga seni. Mereka mengerjakan tugas, mengikuti asesmen, menyusun proyek, dan berusaha mendapatkan nilai terbaik. Dari luar, semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Kelas terlihat aktif, guru mengajar, siswa belajar, kurikulum berjalan.
Namun di balik rutinitas itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan, terutama menjelang Hari Pendidikan Nasional: apakah sekolah benar-benar sedang mengajarkan siswa untuk berpikir?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah lahirnya generasi yang tumbuh di bawah pengaruh algoritma digital. Hari ini, banyak siswa menghabiskan waktu berjam-jam di ruang digital—menonton video pendek, menggulir media sosial, membaca komentar, mengikuti tren, dan menerima arus informasi tanpa henti. Apa yang mereka lihat, baca, bahkan pikirkan, sebagian besar dipengaruhi oleh algoritma.
Tanpa disadari, algoritma digital telah menjadi “guru baru” bagi generasi muda.
Ia menentukan video apa yang muncul, informasi apa yang menarik perhatian, topik apa yang terus berulang, bahkan opini mana yang paling sering mereka konsumsi. Dalam hitungan detik, siswa bisa menerima ratusan informasi. Mereka cepat mengetahui sesuatu, tetapi belum tentu memahami sesuatu.
Mereka cepat bereaksi, tetapi belum tentu merefleksi.
Inilah ironi pendidikan di era digital. Ketika akses informasi semakin terbuka, kemampuan berpikir justru menghadapi tantangan yang lebih besar.
Di satu sisi, sekolah masih mengajarkan banyak materi. Buku pelajaran terus diperbarui. Kurikulum terus disempurnakan. Target pembelajaran terus dikejar. Guru dituntut inovatif, siswa dituntut aktif, dan sekolah dituntut menghasilkan capaian akademik yang tinggi.
Namun di sisi lain, kita juga perlu jujur bertanya: apakah proses belajar hari ini benar-benar membentuk nalar, atau hanya memastikan materi selesai tepat waktu?
Di banyak ruang kelas, keberhasilan pembelajaran masih sering diukur dari angka. Nilai tinggi dianggap bukti keberhasilan. Ketuntasan materi dianggap indikator efektivitas. Siswa yang mampu menjawab soal dengan benar dianggap memahami.
Padahal, dunia nyata tidak selalu datang dalam bentuk soal pilihan ganda.
Dunia nyata menuntut kemampuan bertanya, menganalisis, mempertimbangkan, berargumentasi, dan mengambil keputusan. Dunia nyata menuntut keberanian untuk membedakan informasi yang benar dan menyesatkan. Dunia nyata menuntut siswa bukan sekadar tahu, tetapi mampu berpikir.
Sebagai guru, saya sering menemukan situasi yang cukup menggugah. Ketika siswa diberi soal yang jawabannya tersedia dalam buku, mereka mampu mengerjakan dengan cepat. Tetapi ketika mereka diajak mendiskusikan fenomena sosial, membaca artikel digital, atau diminta menjelaskan alasan dari pendapatnya, suasana kelas mendadak sunyi.
Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan.
Sering kali karena mereka belum cukup dibiasakan berpikir.
Mereka terbiasa menerima jawaban, tetapi belum terbiasa mempertanyakan.
Mereka terbiasa menghafal, tetapi belum terbiasa menghubungkan.
Mereka terbiasa mengikuti, tetapi belum terbiasa menyusun argumen.
Dan ketika budaya belajar seperti ini bertemu dengan dunia digital yang serba cepat, tantangannya menjadi semakin kompleks.
Siswa bisa mengetahui berita viral lebih cepat daripada memahami isi buku pelajaran. Mereka bisa mengingat tren media sosial, tetapi kesulitan merangkai gagasan dalam tulisan. Mereka aktif berkomentar di dunia maya, tetapi masih ragu berbicara dalam forum diskusi.
Apakah ini salah teknologi?
Belum tentu.
Teknologi hanyalah alat. Persoalannya adalah apakah sekolah telah membantu siswa menggunakan teknologi sebagai sarana berpikir, atau justru membiarkannya menjadi ruang konsumsi tanpa kesadaran?
Di sinilah pendidikan perlu bertransformasi.
Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat menyampaikan materi.
Sekolah harus menjadi ruang untuk membangun nalar.
Guru tidak cukup hanya menjelaskan isi buku.
Guru perlu mengajak siswa membaca realitas.
Artikel digital, berita aktual, isu sosial, fenomena budaya populer, bahkan konten yang sedang viral bisa menjadi bahan pembelajaran yang sangat kaya jika diolah dengan pendekatan yang tepat. Siswa bisa diajak menganalisis, berdiskusi, menulis tanggapan, menyusun argumen, dan menawarkan solusi.
Ketika pembelajaran berangkat dari masalah nyata, siswa tidak hanya belajar isi pelajaran.
Mereka belajar cara berpikir.
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada upacara, slogan, atau unggahan seremonial tentang pentingnya pendidikan. Hardiknas seharusnya menjadi ruang refleksi yang lebih mendalam: apakah sekolah hari ini sedang membentuk generasi yang mandiri secara intelektual, atau hanya generasi yang pandai menyesuaikan diri dengan sistem?
Karena pada akhirnya, di era algoritma, tantangan terbesar pendidikan bukan lagi kekurangan informasi.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membentuk generasi yang tidak mudah dikendalikan oleh informasi.
Generasi yang tidak hanya cepat mengakses.
Tetapi juga mampu berpikir.
Dan mungkin, pertanyaan paling penting bagi pendidikan Indonesia hari ini bukan lagi “Sudah sejauh mana kurikulum berjalan?” Melainkan: “Di tengah dunia yang dikendalikan algoritma, apakah sekolah masih benar-benar mengajar… atau sekadar mengejar kurikulum?”
BIODATA
Herman Priatna lahir di Bandung pada 11 November 1982. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP Siliwangi.













