BADUNG, Balipolitika.com– Kehadiran Team CORTI Deaf Surfers serangkaian Kartini Go Surf XII Tahun 2026 di Pantai Kuta, Minggu, 19 April 2026 adalah simbol persaudaraan yang inklusif.
Kesuksesan Ayu Intan Melisa Maharani (21 tahun), Ni Komang Namira Dharma Yanti (17 tahun), Putu Indah Cahyani Dewi (18 tahun), Komang Ayu Krishna Kirana (18 tahun), Cecilia Astrid (19 tahun), dan Maria Fatima Seran (22 tahun) menaklukkan ombak Pantai Kuta di Hari Kartini ke-147 tahun 2026 menegaskan bahwa di atas ombak, kita semua sama.
Penegasan itu disampaikan Ketua Yayasan CORTI dan Ketua Yayasan Rumah Budaya Taman Sari, Denpasar, Ir. I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari mewakili Founder Kartini Go Surf sekaligus Owner Magicwave, Bagus Made Irawan “Piping” saat membuka event KGS 2026.
“Hari ini, di bawah langit yang sama, di hadapan hamparan samudera yang luas, kita berkumpul dengan semangat yang istimewa. Kehadiran kita di sini bukan sekadar eksebisi berselanjar dengan berkain dan berkebaya, melainkan sebuah perayaan atas martabat dan emansipasi tepat di momentum peringatan hari lahir Kartini. Raden Ajeng Kartini pernah menulis tiada awan di langit yang tetap selamanya, tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lalu pagi membawa keindahan. Bagi peselancar tuna rungu yang hari ini juga ikut untuk ketiga kalinya, yang tergabung dalam Tim Corti, dan seluruh surfer wanita yang hadir hari ini, laut adalah perwujudan dari kata-kata itu. Ombak yang datang menghujam adalah tantangan yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari. Laut adalah guru yang adil. Ia tidak membedakan gender. Ia tidak peduli apakah seseorang bisa mendengar atau tidak. Laut hanya menuntut keseimbangan, keberanian, dan residensi. Hadirin dan para surfer perempuan yang luar biasa, event Kartini Go Surf 2026 adalah yang ke-12 sejak pertama kali dihelat tahun 2010,” ucap I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari.
Jelasnya Kartini Go Surf 2026 diikuti oleh lebih dari 20 peselancar perempuan dan 6 di antaranya adalah tuna rungu atau tuli.
“Keikutsertaan remaja putri tuli bersama rekan-rekan surfer perempuan lainnya adalah manifestasi nyata dari inklusivitas dan emansipasi modern. Kita sedang mendobrak batas ganda, stigma tentang keterbatasan fisik dan batasan tentang apa yang mampu dilakukan oleh seorang perempuan. Hari ini kita menegaskan lagi nilai-nilai Kartini,” ungkapnya.
I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari menambahkan kesetaraan adalah akses dan kesempatan adalah prestasi; bukan belas kasihan.
Setiap perempuan, terlepas dari kondisi sensoriknya, memiliki hak yang sama untuk berdiri tegak di atas papan selancar kehidupan.
“Solidaritas tanpa sekat, di atas ombak, kita semua sama. Keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang, melainkan cara berbeda dalam membedakan ritme alam. Jadi kehadiran surfer tuli bersama surfer perempuan lainnya adalah simbol persaudaraan yang inklusif,” tegas I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari.
Kepada seluruh peserta Kartini Go Surf 2026, ia mengingatkan bahwa saat peserta mendayung ke tengah, mereka membawa api semangat Kartini.
“Jangan pernah merasa membawa kekurangan. Kalian membawa identitas perempuan tangguh yang fokus menaklukkan tantangan. Biarlah dunia melihat bahwa kesunyian bukan berarti ketiadaan, melainkan kekuatan untuk berkonsentrasi kepada tujuan,” pesannya.
“Kepada semua panitia, para sponsor, terima kasih sudah memfasilitasi acara yang luar biasa ini dalam semangat Kartini. Hanya pesan kecil dari kami bahwa prestasi itu penting, namun keselamatan adalah hal yang utama. Selamat berkarya dan berprestasi. Mari kita tunjukkan bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup di dalam buku sejarah, tapi nyata di atas deburan ombak hari ini,” tutup I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari. (bp/ken)













