DENPASAR, Balipolitika.com– PWA Bali atau Pungutan Wisatawan Asing sebesar Rp150.000 bagi wisatawan asing yang masuk ke Bali sejak Februari 2024.
Total pungutan PWA di Bali selama tahun 2024 mencapai lebih dari Rp 317 miliar.
Kebijakan ini bertujuan untuk membiayai pelestarian budaya, adat, dan lingkungan alam Bali, serta meningkatkan kualitas layanan pariwisata.
Pungutan ini dibayarkan sekali selama kunjungan melalui aplikasi Love Bali atau metode pembayaran lain yang tersedia
Pada tahun 2025, dari potensi Rp975 miliar dan target Rp500 miliar, PWA diprediksi menyentuh angka Rp380 miliar.
Gubernur Bali, Wayan Koster mengungkapkan per 30 Oktober 2025, jumlah PWA masuk ke Bali sebanyak Rp318 miliar.
Merespons PWA yang berfungsi untuk membiayai pelestarian budaya, adat, dan lingkungan alam Bali, serta meningkatkan kualitas layanan pariwisata, Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (DPD PUTRI) Provinsi Bali, I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha berharap segera terbit regulasi yang membuka ruang pemanfaatan pungutan tersebut untuk mendukung pengembangan pariwisata, khususnya pada sektor taman rekreasi.
“Kami berharap PWA yang masuk ke pemerintah juga bisa dikontribusikan kembali untuk memajukan pariwisata, misalnya membantu kegiatan promosi hingga perbaikan standar operasional prosedur (SOP), agar pelaku usaha di Bali dapat semakin go international,” ujar cucu pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai itu di sela-sela Rapat Kerja Daerah DPD PUTRI Bali di Nusa Dua, Selasa, 2 Desember 2025.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta yang membuka secara resmi Rakerda DPD PUTRI Bali membuka peluang kerja sama antara pemerintah daerah dengan pelaku usaha untuk menciptakan taman rekreasi baru di Bali.
Pembangunan tersebut nantinya dapat didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik milik Pemprov Bali maupun kabupaten/kota.
Giri Prasta mengatakan pengembangan destinasi wisata berbasis taman rekreasi harus dilakukan tanpa mengabaikan upaya pelestarian destinasi yang sudah ada.
“Taman rekreasi yang sudah ada harus tetap lestari. Di sisi lain, PUTRI bersama pemerintah diharapkan bisa menciptakan taman rekreasi baru yang dapat dinikmati wisatawan domestik dan mancanegara. Ke depan, program itu bisa didanai melalui APBD provinsi maupun kabupaten/kota,” tandas Bupati Badung 2 periode itu.
Imbuh Giri Prasta setiap potensi wisata perlu dikelola secara cermat sehingga tidak mengurangi keindahan alam Bali.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan pariwisata harus memberi ruang bagi masyarakat lokal agar benar-benar menjadi tuan di rumah sendiri.
Namun di tengah persaingan daya tarik wisata, menurutnya setiap taman rekreasi dituntut memiliki keunikan yang membedakannya dari destinasi lain.
“PUTRI Bali sebagai wadah pengelola taman rekreasi harus memiliki arah yang jelas—kemana obyek wisata Bali dibawa dan apa saja yang mesti dipertahankan,” ujarnya.
Dalam pra Rakerda DPD PUTRI Bali 2025 di Bali Tourism Media Center, Renon, Denpasar, Senin, 1 Desember 2025, I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha menegaskan agenda strategis untuk memperkuat peran PUTRI di seluruh kabupaten/kota se-Bali.
Rakerda jelasnya merupakan upaya menjaring masukan juga dilakukan dengan mengundang para pemangku kebijakan dalam sesi “Ngobrol Bareng” PUTRI bertema Smart Tourism, Strong Community, Greener Bali.
Lebih jauh ia menegaskan bahwa tema besar Rakerda 2025 berangkat dari keprihatinan atas musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah.
DPD PUTRI Bali ingin memastikan pariwisata tidak merusak ataupun mengeksploitasi alam, melainkan mendorong kesadaran menjaga lingkungan.
“Smart tourism bukan hanya digitalisasi, tetapi juga soal keselamatan, kualitas layanan, dan cara kita menjaga alam agar tetap menjadi daya tarik wisata,” tegasnya.
Inda Trimafo Yudha menambahkan, komunitas pariwisata di Bali sangat kuat dan harus dimaksimalkan dalam mewujudkan Bali hijau.
“Manusia Bali adalah bagian dari destinasi itu sendiri. Kita ingin mengingatkan semua pihak agar menjaga lingkungan. Banyak anggota kami bisa menjadi role model, seperti Desa Pemuteran dan Jatiluwih. Ke depan ini harus diseragamkan sebagai gerakan bersama peduli alam,” tegasnya.
Merespons Tragedi Sumatra, Inda Trimafo Yudha mengucapkan keprihatinan yang sangat mendalam.
“Kami mengucapkan keprihatinan yang sebesar-besarnya pada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir. Siapa sih yang mau (jadi korban, red)? Memang kekuatan alam itu tidak bisa dilawan oleh kepintaran manusia seperti apapun. Di sisi lain (faktanya, red) kita memang merusak atau menggunakan atau mengeksploitasi ugal-ugalan alam itu. Ayah saya selalu bilang pilihlah pemimpin yang bersahabat dengan alam dan itu saya tanamkan. Jadi kita mengangkat smart tourism itu mencakup semua: secara digital, smart secara secure dan security tourism ini, baik dari pengguna jasa pariwisata, dari yang menjalankan usaha pariwisata, termasuk memudahkan mereka dalam berwisata. Dan for Bali greener. Intinya comunal strong community. Kita di Bali community-nya sangat strong, namun tetap kita harus garis bawahi bagaimana pariwisata yang pintar ini bisa menuju Bali yang hijau,” tegas Inda Trimafo Yudha. (bp/ken)













