BULELENG, Balipolitika.com– Kondisi Jalan Bedeng di Desa Banyuseri, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, dikeluhkan warga karena mengalami kerusakan di sejumlah titik.
Selain berlubang, ruas jalan tersebut juga dinilai terlalu sempit untuk dilalui kendaraan yang berpapasan.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan karena jalan tersebut merupakan akses penting yang digunakan masyarakat untuk bekerja, bersekolah, beribadah, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan keterangan warga, kerusakan jalan yang telah berlangsung cukup lama itu diduga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya sejumlah kecelakaan lalu lintas.
Warga bahkan menyebut telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan dua korban jiwa di ruas jalan tersebut.
Sebagai salah satu akses utama di Desa Banyuseri, Jalan Bedeng setiap hari dilalui oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Jalan ini menjadi penghubung utama aktivitas warga antarwilayah sekitar, sehingga tingkat mobilitas di ruas tersebut cukup tinggi pada pagi dan sore hari, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja maupun sekolah.
Namun, tingginya intensitas penggunaan jalan tidak diimbangi dengan kondisi infrastruktur yang memadai.
Kondisi jalan yang sempit, berlubang, serta berada di medan yang menanjak dan berkelok membuat pengguna jalan harus lebih berhati-hati, terutama saat berpapasan dengan kendaraan lain atau ketika hujan turun.
Sejumlah warga mengaku kondisi ini sudah berlangsung cukup lama tanpa perbaikan menyeluruh.
Pada beberapa titik, lubang jalan terlihat cukup dalam dan menyulitkan kendaraan untuk melintas dengan lancar.
Pengendara roda dua maupun roda empat kerap harus memperlambat laju kendaraan untuk menghindari kerusakan lebih parah pada kendaraan.
Saat musim hujan, kondisi jalan semakin memburuk di mana air hujan membuat permukaan jalan menjadi licin dan mempercepat kerusakan akibat terkikis aliran air.
Di beberapa titik, air juga menggenang dan menutupi lubang di badan jalan sehingga membahayakan pengguna jalan karena sulit terlihat.
Selain itu, pada bagian tertentu, tebing di sisi jalan juga rawan mengalami longsor kecil yang menambah kekhawatiran warga.
Warga setempat, Gede Ngurah Ardita (55 tahun) mengatakan bahwa kondisi jalan tersebut sudah lama menjadi keluhan masyarakat.
Menurutnya, kombinasi jalan yang sempit, berlubang, dan medan yang ekstrem meningkatkan risiko kecelakaan.
“Yang saya tahu selama ini, karena jalannya rusak, sempit, banyak berlubang, dan medannya naik turun cukup ekstrem, sudah beberapa kali terjadi kecelakaan, baik kecelakaan ringan maupun yang sampai merenggut nyawa,” ujarnya.
Ardita menyebutkan bahwa kecelakaan di ruas Jalan Bedeng telah mengakibatkan dua korban jiwa.
Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
“Ini harus segera diperbaiki oleh pihak terkait supaya jalannya bagus dan tidak memicu terjadinya kecelakaan lagi,” katanya.
Selain rawan kecelakaan, jalan yang sempit juga menyulitkan pengguna kendaraan roda empat.
Ni Luh Wahyuni Maherni (30 tahun), pengguna mobil yang rutin melintasi Jalan Bedeng, mengaku sering mengalami kesulitan saat berpapasan dengan kendaraan lain.
Ia menuturkan bahwa kondisi jalan yang tidak cukup lebar membuat kendaraan harus saling bergantian untuk melintas, terutama pada titik-titik tikungan yang memiliki jarak pandang terbatas.
Dalam beberapa kondisi, pengendara terpaksa berhenti dan mundur untuk memberi jalan kepada kendaraan dari arah berlawanan.
Ia juga mengaku pernah mengalami kondisi ketika ban kendaraan terselip ke bagian jalan yang rusak saat berusaha memberi ruang bagi kendaraan lain yang melintas dari arah berlawanan.
Kondisi tersebut membuat pengendara harus lebih waspada karena ruang gerak kendaraan sangat terbatas dan berpotensi memicu kecelakaan.
Dampak kerusakan jalan juga dirasakan pelajar bernama Ni Komang Dewi Angsuya (16 tahun), siswi SMA yang setiap hari melintasi jalan tersebut.
Ia mengatakan bahwa Jalan Bedeng merupakan satu-satunya akses yang digunakannya untuk menuju sekolah.
Karena itu, kondisi jalan yang rusak menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari tanpa alternatif jalur lain.
Menurutnya, perjalanan menuju sekolah menjadi lebih sulit saat hujan turun karena kondisi jalan yang licin, berlubang, serta rawan longsor di beberapa titik.
Hal tersebut membuat perjalanan membutuhkan waktu lebih lama dan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi.
“Kalau hujan, akses jalan yang berliku-liku, sempit, dan berlubang membuat perjalanan ke sekolah menjadi lebih sulit. Tanah di dekat jalan juga mudah longsor sehingga membahayakan pengguna jalan,” ujarnya.
Ia juga mengaku pernah berada dalam situasi yang hampir menyebabkan kecelakaan saat berpapasan dengan kendaraan lain akibat terbatasnya ruang jalan yang tersedia.
Sementara itu, Ni Putu Nova Wiartini (37 tahun) mengatakan bahwa masyarakat bersama pemerintah desa pernah melakukan perbaikan secara swadaya menggunakan semen di beberapa titik yang rusak.
Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian warga terhadap kondisi jalan yang semakin memburuk.
Namun, perbaikan tersebut tidak bertahan lama karena material yang digunakan mudah tergerus air hujan, sehingga kerusakan kembali muncul setelah beberapa waktu.
Kondisi ini membuat warga menilai bahwa perbaikan sementara tidak cukup untuk menyelesaikan masalah secara menyeluruh.
Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen berupa pengaspalan serta mempertimbangkan pelebaran jalan agar lebih aman dilalui.
Menurutnya, pelebaran jalan menjadi kebutuhan mendesak mengingat tingginya aktivitas masyarakat yang bergantung pada akses tersebut setiap hari.
Warga berharap perbaikan Jalan Bedeng dapat menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.
Selain untuk keselamatan, jalan tersebut juga menjadi akses penting yang menunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, dan keagamaan masyarakat.
Hingga kini, warga masih menunggu penanganan yang lebih serius dari pemerintah agar Jalan Bedeng dapat kembali berfungsi dengan baik dan aman dilalui, serta tidak lagi menjadi titik rawan kecelakaan di wilayah Desa Banyuseri. (bp/Elizabeth Arlena Tarigan/4B/PBSI/Undiksha)










