HARAPKAN: I Gusti Aju Maitri Wati, S.Tr.Par., M.M., CHE. Praktisi Ketenagakerjaan. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Realita pahit mungkin harus ditelan oleh sejumlah Generasi (Gen) Muda Bali saat ini, tercatat setidaknya ada sebesar 1,49% dari mereka (usia angkatan kerja) diketahui masih belum memiliki pekerjaan yang layak alias menganggur. Menariknya, fenomena pengangguran di kalangan anak muda Bali saat ini seakan bersebrangan dengan situasi Bali yang dihimpit industri pariwisata sebagai sektor yang paling menjanjikan, namun faktanya penuh ketidakpastian di lapangan.
Pariwisata, industri yang paling menjanjikan di Bali itu justru dipenuhi ketidakpastian, belum lagi adanya polemik upah rendah, kontrak kerja yang rapuh, sistem kualifikasi kerja yang mendiskriminasi, serta kemampuan berdaya ekonomi yang lemah, membuat sejumlah anak muda Bali berada diujung jalan pada akhirnya membuat dilema mereka karena kenyataan itu memang terjadi di tanah kelahirannya sendiri.
Menanggapi adanya fenomena yang terjadi di kalangan anak muda Bali khususnya Gen Z saat ini, Praktisi Ketenagakerjaan, I Gusti Aju Maitri Wati, S.Tr.Par., M.M., CHE., menjelaskan, fenomena ini menunjukkan bahwa, sektor informal pariwisata Bali masih sangat rentan dan adaptif bagi kalangan Gen Z. Sehingga, anak muda Bali harus memiliki keterampilan lain selain di sektor pariwisata, sebagai metode penghidupan alternatif.
“Anak muda Bali yang memasuki usia kerja, tentu harus memiliki kesiapan mental. Selain itu, teori-teori yang telah didapatkan di bangku sekolah ataupun kuliah itu perlu juga di praktekan, tak cukup hanya itu, mereka juga harus memiliki soft skill lainnya sebagai keterampilan alternatif yang dibutuhkan industri kerja selain pariwisata, tentunya itu bisa membuat mereka benar-benar survive (selamat, red) dan memiliki daya saing di industri kerja,” jelasnya, Jumat, 19 Juni 2026.
Ia juga berharap, generasi muda Bali bisa memiliki insting untuk bertahan hidup, mengasah keterampilan lain seperti pengelolaan keuangan, komunikasi, jejaring sosial, dan pengetahuan kebijakan pemerintah yang dirasanya sangat penting untuk dikuasai selain ketahanan di sektor pariwisata, mengingat pentingnya adaptasi generasi muda Bali dalam menghadapi adanya potensi penurunan sektor pariwisata seperti yang terjadi saat Covid-19 lalu.
“Soft skill itu sangat penting untuk dikuasai. Hal itu lah yang membuat pribadi kita lebih berkarakter. Selain pencapaian akademik, generasi muda Bali ini harus memiliki soft skill dan ini saya rasa perlu adanya intervensi dari pemerintah demi masa depan generasi kita yang lebih baik lagi,” ujarnya.
Mengakhiri sesi wawancaranya dengan Bali Politika, wanita yang akrab disapa GAW itu juga menekankan, perlunya intervensi nyata dari pemerintah dalam menyikapi fenomena yang terjadi di kalangan generasi muda Bali untuk menunjang keberlangsungan hidup mereka di masa yang akan datang. (bp/gk)













