ANTO NARASOMA
Catatan Terakhirmu, Ibu
kau bawa senyum itu,
setelah usiamu rindu
ke kampung keabadian
yang lama tak memberi kabar
tatkala napas terakhirmu
berbincang sesaat;
hanya tangisan menganaksungai
ke sejumlah kornea mata anak-anakmu, ibu
aku mencatat segala kerinduanku ketika cinta-Nya
tertulis pada sejumlah jarak yang melampaui jejak-jejak masa lalu
lalu,
kau kehilangan waktu
setelah ribuan malaikat mengelilingimu
membawa sekeping bayangan ke ruang keabadian itu
maka inilah melati
dan setangkai doa
bagi amal amalmu
di atas wajah kematian
yang meninabobokkan ibu
ke ranjang terakhirmu
Palembang, 18 Maret 2025
Bougenville
berkali-kali kutatap
wajahmu, yang lebur
ke dalam kisah
tujuh bidadari
dari raut muka
yang begitu indah
di atas kembang-kembang taman bunga
di belakang rumahku,
kuncup rinduku merekah pada wajahmu
o, bunga bougenville yang merimbun
pada malam purnama
di dadaku, selalu terjaga dari mimpi
maka,
semakin merekah
tiap kelopak wajah itu,
kian mendebarkan
kata-kata yang berjajar pada lapisan sajakku
dari majas kata itulah
kecantikan malam
yang melilit kantukku, telah mencium aromamu
di taman-taman mimpiku
Palembang, 26 Juni 2024
Cinta
tenang,
tenanglah hatiku
ketika cuaca memancar
ke dalam kerinduan itu,
cahayanya menitik satusatu ke sumbu lilin
yang bertebaran ke dalam surat cinta
sudah tiga bulan kutulis
perasaan ini ke dalam kalimat asmara
yang berdebar ketika wajahmu tiba di mataku
o, kapan kau kembali
wanita pujaan?
sebab,
kerinduan itu telah
merangkai katakata
setelah sajak cinta memeluk bayanganmu
di atas kenangan lama
tenang,
tenanglah hatiku
setelah fatwa cinta itu
kukirim lewat ruangruang artificial inteligencia
yang lama menahan rindu;
kau akan kuabadikan ke dalam ingatan
tiga bulan kulafalkan
sajaksajak cinta
di sepanjang rel kereta malam yang kelam dan sunyi
sebab,
di sinilah hati kita terikat
segala kenangan.
maka atas nama cinta kunantikan daya ucap katakata
yang kutampilkan di atas panggung percintaan kita
1 Oktober 2024
IDA BAGUS PUTU WIDHY WARDHANA
Aku Gila
Pertemuan itu kembali muncul
Aku, kamu, dan segala keramaian semesta.
Tatapmu,
lebih memabukkan dari cawan arak
yang kuteguk sepanjang malam.
Menjelma setiap kata bualan
“sinar bulan terangi wajahmu”
Ah,
Ini terlalu klise,
Ini terlau sederhana,
Hanya memandangmu,
Ajal diambang pintu nampak begitu jauh.
Sepotong malam ini saja, akankah kau datang
Dan kita berbincang tentang seperti apa kita nanti?
Atau, seperti apa rupa kelak kita tua nanti?
Atau, apakah ajal semakin mendekat
dan pesan tak akan pernah tersampaikan?
Ah, Dewata!
Aku mungkin sudah gila padanya!
Dps, 2025
Ode
Aku menunggumu dalam tiap nyanyian sunyi malam
Sedang kita terpisah pada hutan juga lautan kata
Satu-dua cawan kutuang (hingga tumpah semua ingatan)
kosong itu hanya sementara
Bagiku,
apa artinya kehilangan bila tak merasa
Nyatanya, aku hilang dalam setiap perjumpaan
Dua batin saling bergelut resah
Sedang kata-kata berhamburan
“Aku senantiasa di sisimu”
Jika kata-kata itu menelusuk batin
Sedang ajal semakin mendekat
Pada tiap kerlingan mata itu
Entah berapa tetes mengalir tumpah
Lalu kita nikmati tiap rintiknya
Hingga titik terakhir.
Dps, 2025
Purba Candra Kirana
Setiap lekuk stupamu
Menjadi irama ganggang tak bertepi
Lantunkan kidung semesta
Anak-anak kecil mengeja tiap aksara
Terpatri pada paras purbamu.
Tiap malam menjemput
dari mimpi-mimpi gembala kecil
tidur di antara puting susu lembu
nyanyikan kidung candra
menebar sauh, menjamu Mentari.
Agaknya kirana terlampau remang,
Mengisi tiap kabut dadaku
dan, embun yang senantiasa
tak ada yang tahu
Suka
Atau
Duka.
Dps, 2025
MOCHAMAD CHAZIENUL ULUM
Pekik Gagak di Dinding Renta
Di balik dinding kumuh yang renta,
Seorang bocah compang-camping merana.
Mata cekung, perut busung lapar membuncah,
Menanti sesuap nasi, entah dari mana,
Sambil memeluk boneka usang yang tak bernyawa.
Gagak hitam bertengger di dahan mati,
Menatap nanar realitas yang tak pasti.
Setiap pekik seolah kutukan abadi,
Untuk jiwa-jiwa melarat tak henti,
Membawa pesan pilu dari nasib yang terkhianati.
Janji manis laksana fatamorgana,
Menjelma ilusi di masa yang suram tanpa makna.
Sedangkan rakyat hanya lirih bertanya,
Kapan derita ini akan sirna?
Di lorong-lorong gelap, mereka terus berpuasa,
Hingga senja menelan habis sisa-sisa harapan yang tersisa.
Kurusetra
Berkecamuk kurusetra,
Bukan sekadar medan laga
Ia adalah refleksi jiwa yang diuji
Di mana Arjuna berdiri, di antara dua belah pihak.
Hati yang bergejolak dalam pusaran badai,
Nyala berkobar menyingkap rahasia gelap,
Bersama debar api yang membara di dada,
Kala Dharma bertanya: apa arti hidup?
Kepiluan iringi ketakutan tiada henti,
Kegelisahan membangun dinding keraguan,
Mencuri kedamaianku, merampas istirahatku,
Bagai bisik Duryodhana, menawarkan jalan pintas.
Aku mengais kebenaran di tengah prahara gairah,
Namun perisai cinta bersikukuh membela nurani,
Sebuah epik abadi, tentang hidup dan mati,
Saat Krishna tersenyum, mengurai benang takdir.
Sang Penjaga Api Sunyi
Sang mufasir yang menghembuskan sihir
pada sepotong frasa,
Hingga setiap ujaran sarat makna
Lalu disematkan ke dalam hati.
Meracik kata dari buncahan sukma,
Menyulam diksi dari jagat rahasia,
Merangkai rima dalam denting irama,
Menghayati kesan yang lama mati rasa.
Penyair, sang penjaga api sunyi,
Di ujung malam, ia bermunajat pada sepi,
Menusuk gelap dengan runcing pena,
Menangkap mimpi yang hadir di balik tirai senja.
Ia yang bicara tanpa suara,
Ia yang merasakan tanpa kata,
Ia yang berdansa dalam tarian makna,
Di antara baris, di sela jeda, di tengah nuansa.
BIODATA
Anto Narasoma. Bekerja sebagai wartawan. Puisi-puisinya banyak tersebar di berbagai media daerah dan nasional.
Ida Bagus Putu Widhy Wardhana akrab disapa Gus Widhy, lahir di Surabaya, 29 Mei 2000. Ia penekun teater dan senang menulis puisi.
Mochamad Chazienul Ulum, menulis puisi, esai, dan cerpen. Tinggal di Malang, Jawa Timur.










