BULELENG, Balipolitika.com– Di tengah gempuran produk massal berbahan plastik dan sarana modern buatan pabrik, kerajinan gerabah tradisional di Desa Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, tetap kokoh berdiri.
Kerajinan berbasis kearifan lokal ini terbukti tak tergantikan karena menjadi komponen utama yang sakral dalam berbagai sarana upakara adat dan keagamaan Hindu di Bali.
Salah satu pengrajin senior, Kadek Sariani, mengungkapkan bahwa usaha kerajinan tanah liat yang ditekuninya saat ini merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang yang dimulai pada tahun 1984.
Ia sendiri sudah mulai mengasah bakatnya sejak usia 10 tahun.
“Kerajinan ini memang warisan dari nenek moyang saya. Pertama itu dari buyut, terus oleh ibu saya, sekarang saya yang lanjutkan, jadi memang sudah turun-temurun. Saat ini saya menekuni ini bersama keluarga, yaitu suami dan juga tentunya anak-anak,” ujar Kadek Sariani saat diwawancarai pada Senin, 8 Juni 2026.
Dalam operasional harian, Kadek Sariani dibantu oleh keluarga serta beberapa pekerja dari luar untuk memenuhi berbagai pesanan.
Produk yang paling laris atau best seller adalah Payuk Kedas, sebuah periuk tanah liat yang berfungsi sebagai wadah air suci (tirta) pada upacara Ngaben, Tiga Bulanan, hingga upacara suci umat Hindu lainnya.
Permintaan gerabah Banyuning ini sering kali mengalami lonjakan tajam, terutama ketika musim upacara Ngaben massal atau kremasi.
Kebutuhan ritual yang tinggi ini diakui berdampak positif pada omset penjualan yang meroket dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Untuk mengantisipasi permintaan yang datang tiba-tiba, pihak pengrajin selalu memproduksi barang untuk stok harian dan enggan mengandalkan sistem pesanan dadakan.
Kapasitas produksi industri rumahan ini tergolong fantastis di mana Kadek Sariani bersama timnya yang terdiri dari 4 orang mampu menghasilkan hingga 4.000 biji gerabah hanya dalam waktu dua hari.
Secara teknis, setiap pekerja akan bertanggung jawab membuat 1.000 biji gerabah sesuai jenis pesanan, dengan produksi mencapai 500 biji per orang dalam satu hari.
“Proses produksinya mayoritas manual dengan tangan untuk membentuk tanah liat, hanya bagian penggilingan tanah saja yang dibantu mesin. Butuh waktu sekitar satu minggu sampai gerabah benar-benar kering, matang, dan siap dikirim ke konsumen. Karena itu, pelanggan biasanya sudah memesan sejak satu bulan sebelum acara,” jelasnya.
Meski pembuatannya terkesan sederhana, Kadek Sariani mengenang masa-masa awal belajarnya yang penuh tantangan.
“Pengalaman saya saat dulu baru belajar membuat kerajinan gerabah ini tidak mudah tentunya, terutama pada bagian membentuk tanah liat dengan tangan, karena kalau bikin apa gitu semuanya mengsong-mengsong (miring) aja, tapi sekarang sudah biasa,” kenang Sariani sambil tersenyum.
Pemasaran gerabah Banyuning kini telah merembet luas ke luar Kabupaten Buleleng.
Konsumen setianya datang dari berbagai wilayah di Bali, mulai dari Seririt, Denpasar, Bangli, hingga wilayah paling jauh seperti Kabupaten Karangasem.
Harga yang ditawarkan pun sangat merakyat dan bervariasi tergantung jenis ukuran, berkisar dari Rp1.000 untuk Payuk Kedas, Rp6.000 untuk penguyegan tulang, hingga Rp18.000-Rp20.000 untuk sebuah cobek tanah liat.
Kendati pasarnya menjanjikan, tantangan terbesar para pengrajin adalah faktor cuaca di musim hujan.
Proses penjemuran gerabah sering terhambat karena intensitas hujan yang tidak menentu.
Kadek Sariani bahkan mengaku sempat mengalami kerugian akibat jemuran gerabahnya hancur total karena guyuran hujan deras yang mendadak, meskipun sisa hancurannya masih bisa dirombak kembali menjadi adonan tanah mentah.
Saat ini, Kelurahan Banyuning memiliki sekitar 10 kelompok pengrajin gerabah aktif yang terus menjaga tradisi ini agar tidak punah.
Fenomena menariknya, banyak remaja perempuan di daerah Banyuning yang mulai tekun mengasah keterampilan ini.
Menutup perbincangan, Kadek Sariani menaruh harapan besar pada keberlanjutan industri kreatif ini di masa depan.
“Harapan saya ke depan, ya, semoga keterampilan membuat gerabah ini agar tetap lestari kedepannya, jadi tidak sampai berhenti di generasi saya saja,” pungkasnya. (Fitri Lia Agustina/4B/Basindo/Undiksha)













