BISNIS, Balipolitika.com – Komang Devi Permata Suci, wanita muda nan cantik kelahiran Buleleng, tahun 1997, ternyata menjadi pecinta batik sejak dini.
Wanita yang kini berusia 28 tahun ini, telah mencintai batik sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu ia mengaku sempat membuat batik dengan desain kaung.
Sampai pada suatu hari, perjalanan ke Yogyakarta membuat wanita berkulit putih ini kian mantap mendalami batik. “Waktu ke Yogya, saya lihat segerombolan anak muda dengan batik, nongkrong asyik dan tidak terdistraksi oleh siapapun,” katanya di Denpasar, 25 September 2025.
Hal itu kemudian yan kian memantapkan niat Devi, sapaannya, untuk makin mendalami batik. Bahkan kini ia menjadikannya bisnis, selain sebagai upaya menjaga warisan budaya nenek moyang dalam hal busana Nusantara.
Devi kemudian menikah, hijrah ke Jakarta bersama sang suami. Namun bisnisnya tetap berjalan, bersama sang patner bernama Luh Relo Sri Ningsih, beberapa tahun lebih tua dari dirinya.
Mereka mengembangkan desain, motif, dan pemasaran agar batik dengan brand Jepun Bali Batik kian terkenal di tengah masyarakat. Tak muluk-muluk mimpinya, ia hanya ingin anak muda Indonesia khususnya Bali tidak malu memakai batik.
“Batik klasik, batik modern semua bisa,” sebutnya. Sejauh ini, memang produksinya masih di Solo dan Pekalongan. Untuk itu, mimpi lainnya, ke depan ia berharap bisa memproduksi sendiri produk batiknya.
Motif mega mendung alias motif awan, menjadi motif yang banyak kaula muda sukai saat ini. Walau demikian, motif klasik pun masih banyak peminat.
“Saya lihat di film Gadis Kretek, bagus sekali batiknya,” katanya. Banyak inspirasi yang membuat Devi kian memantapkan berbisnis batik, termasuk berharap anak muda ke depan akan semakin mencintai batik. Sebab saat ini, masih 40 persen saja dari 100 persen kaula muda yang tak segan memakai batik dalam kesehariannya, baik di kantor dan lain sebagainya. (BP/OKA)













