BALI, Balipolitika.com – Sepertinya Bali harus benar-benar berbenah, dan menyaring turis yang masuk ke Pulau Dewata ini. Sebab belakangan, aksi kriminal yang melibatkan turis cukup sering terjadi.
Bahkan beberapa kali, dugaan adanya mafia ke Bali pun sudah menjadi ‘pakrimik’ dan cukup membuat resah warga lokal Bali dan Indonesia.
Kasus terbaru adalah penemuan potongan tubuh, yang kuat arahnya ke kasus mutilasi. Korban pun dugaan kuat adalah WNA Ukraina yang sempat hilang beberapa waktu lalu.
Ia adalah pria berusia 28 tahun bernama Ihor Komarav. Namun sampai kini Polda Bali belum memberikan pernyataan resmi terkait hal ini, hanya saja arah kuat memang ke korban penculikan ini.
Untuk itu tes DNA dan penyelidikan lebih lanjut perlu, untuk benar-benar membuktikannya. Penemuan potongan tubuh manusia yang tercerai-berai di Muara Sungai Wos Teben, Desa Ketewel, Jumat (27/2), dugaan kuat adalah jasad sang korban penculikan yang viral beberapa waktu lalu.
Dugaan ini bukan tanpa alasan! aparat menemukan potongan lengan dengan tato gambar Bunda Maria dan jam menjadi ciri fisik spesifik yang identik dengan milik Ihor.
Jasad dalam kondisi tidak utuh. Kepala, kaki, hingga organ dalam tersebar di sepanjang bibir pantai. Polisi kini bekerja ekstra melakukan scientific investigation di RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah.
Sebelum penemuan mayat yang mengenaskan, Ihor sempat muncul dalam video penyekapan dan meminta uang tebusan gila-gilaan senilai USD 10 juta (Rp 168 Miliar!).
Ihor dapat serangan kelompok tak ia kenal saat berlatih motor di Jimbaran pada 15 Februari malam. Rekannya berhasil kabur, namun Ihor terseret paksa dan “hilang” hingga berakhir tragis di muara sungai.
Uang tebusan sebesar Rp 168 miliar menunjukkan bahwa pelakunya bukan orang sembarangan. Bali yang biasanya tenang, kini geger dengan aksi penculikan dan mutilasi yang sangat brutal.
Pertanyaannya siapa aktor di balik permintaan tebusan setinggi langit ini. Dan mengapa korban tetap terbunuh dengan cara sekeji itu meski video tebusan sudah disebar. Ini juga menunjukkan aparat di Bali harus siaga satu. Jangan hanya tergiur dolar, kemudian membebaskan WNA masuk tanpa pemeriksaan yang matang.
Bukti nyata pembunuhan WNA saja sudah harus menjadi pertanyaan, mengapa ini bisa terjadi di Bali yang seharusnya tenang dan damai, sebagai lokasi wisata kelas dunia. Apalagi jika ini sampai menggangu masyarakat lokal, tentu sangat berdampak buruk. Untuk itu, aparat harus kian bersinergi baik dari pintu masuk ke Bali maupun setelah berada di dalam Pulau Dewata ini. (BP/OKA)













