NASIONAL, Balipolitika.com – Kecelakaan tragis terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, ketika KRL Commuter Line tertabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Salah satu korban meninggal, adalah seorang ibu yang baru saja kembali bekerja setelah cuti melahirkan selama 3 bulan.
Ia menjadi korban kecelakaan di gerbong khusus perempuan yang paling parah terdampak. Ibu tersebut meninggalkan seorang anak bayi yang masih berusia beberapa bulan, dan adiknya menceritakan bahwa stok ASI untuk bayi tersebut masih aman untuk beberapa hari ke depan.
Banyak pihak yang memberikan simpati dan bantuan untuk keluarga korban. Kecelakaan ini menewaskan 14 orang, semuanya perempuan, dan melukai 84 orang lainnya.
Pihak KAI masih melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. Kejadian ini bermula karena ada taksi yang berhenti di jalur kereta dan tertabrak salah satu kereta.
Polda Metro Jaya mencatat jumlah korban tewas dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4/2026) malam mencapai 15 orang.
“Iya, ada 15 (korban) meninggal dunia,” kata Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Pol dr. Martinus Ginting kepada wartawan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).
Martinus mengatakan, 10 dari 15 jenazah masih dalam proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati oleh tim gabungan Dokkes Mabes Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Bekasi Kota.
Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Pol dr. Prima Heru mengatakan, pihaknya telah menerima tujuh data antemortem dari keluarga korban.
“Keluarga yang sudah melaporkan ke posko antemortem sampai saat ini sebanyak tujuh keluarga,” kata Prima ditemui di kesempatan yang sama.
Prima menuturkan, jenazah pertama tiba di rumah sakit sekira pukul 03.00 WIB. Kemudian jenazah kedua tiba pukul 07.00 WIB. “Terus jam 07.00 WIB tambah lagi dua, habis itu banyak brek-brek-brek gitu,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya berupaya agar proses identifikasi seluruh korban dapat selesai hari ini. Adapun proses identifikasi menggunakan foto korban yang terlihat gigi dan berkas yang memiliki sidik jari korban seperti ijazah.
“Kami usahakan selesai hari ini. Karena kan DVI kan enggak bisa (buru-buru), kadang-kadang nanti ada kesulitan yang lain,” kata dia. (BP/OKA)







