JEMBRANA, Balipolitika.com- Seekor paus raksasa terdampar saat air laut surut di Selat Bali. Peristiwa ini menghebohkan warga saat mamalia laut itu berada di perairan dangkal Selat Bali, Kelurahan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.
Peristiwa langka ini pertama kali diketahui warga sekitar pukul 08.00 Wita saat kondisi air laut sedang mengalami surut yang sangat signifikan. Mamalia laut tersebut diduga tidak mampu kembali ke perairan dalam karena terjebak di area karang yang dangkal dan sempit.
“Kami menduga paus ini kandas karena air laut surut sehingga posisinya tertahan di perairan dangkal tepat di sisi utara Pura Segara,” ujar Komandan Pos Angkatan Laut Gilimanuk, Letda Laut (P) Bayu Primanto, memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut.
Paus tersebut terlihat jelas dari Dermaga LCM ASDP Gilimanuk dengan jarak sekitar dua ratus meter dari bibir pantai. Kondisi fisik paus nampak masih hidup namun satwa itu terlihat sangat kesulitan menggerakkan siripnya akibat minimnya kedalaman air laut. Warga yang melihat kejadian itu segera melaporkan temuan mamalia laut berukuran jumbo tersebut kepada petugas kepolisian dan TNI AL setempat.
“Tubuh paus raksasa ini terlihat jelas dari dermaga pelabuhan dan kami masih melihat satwa tersebut dalam kondisi hidup saat ini,” kata Letda Laut (P) Bayu Primanto, menjelaskan hasil pantauan awal tim di lokasi terdamparnya paus.
Pos TNI Angkatan Laut Gilimanuk langsung melakukan koordinasi intensif dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali. Satpolairud Polres Jembrana juga turut menerjunkan personel guna membantu proses pengamanan di sekitar lokasi terdamparnya satwa dilindungi tersebut. Petugas gabungan kini sedang merumuskan strategi paling efektif untuk mendorong kembali tubuh paus menuju perairan yang lebih dalam secara aman.
“Kami segera berkoordinasi dengan pihak BKSDA serta melibatkan Satpolairud Polres Jembrana untuk menangani satwa yang terjebak di dangkal tersebut,” tutur Letda Laut (P) Bayu Primanto, merinci langkah awal sinergitas antarinstansi dalam upaya penyelamatan mamalia laut.
Petugas juga memberikan imbauan keras agar masyarakat tidak mendekati lokasi secara berlebihan guna menghindari stres pada hewan tersebut. Paus merupakan jenis satwa yang sangat sensitif terhadap gangguan manusia dan suara bising saat mereka sedang dalam kondisi lemah. Pengamanan area dilakukan untuk memastikan tim penyelamat dapat bekerja secara maksimal tanpa adanya gangguan dari kerumunan warga yang penasaran.
“Petugas mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati lokasi karena paus merupakan satwa yang mudah mengalami stres apabila terganggu oleh keramaian,” papar Letda Laut (P) Bayu Primanto, menekankan pentingnya menjaga jarak aman dari posisi paus raksasa itu.
Proses evakuasi rencananya akan dilakukan dengan memanfaatkan momen saat air laut mulai pasang kembali menuju kondisi normal. Tim penyelamat akan berupaya menarik atau mendorong perlahan tubuh paus menuju jalur migrasi utama di tengah Selat Bali. Keberhasilan evakuasi ini sangat bergantung pada kecepatan petugas dalam menangani dehidrasi yang mungkin dialami oleh mamalia laut raksasa tersebut.
“Kami sangat berharap air laut segera pasang agar paus ini bisa segera kami evakuasi dan kembali ke habitat aslinya,” pungkas Letda Laut (P) Bayu Primanto, menutup keterangan pers mengenai perkembangan situasi di perairan dangkal Gilimanuk. (BP/CHA).












