BADUNG, Balipolitika.com- Sejarah Desa Mambal adalah kisah panjang penghubung wilayah. Desa Mambal terletak strategis di tengah Kabupaten Badung. Wilayah ini menjadi penghubung ke Kabupaten Gianyar dan Tabanan. Nama Mambal sudah ada sejak abad ke-10. Nama ini dicatat dalam Babad Dalem Pamancangah dan Babad Mengwi.
Desa Dinas Mambal secara resmi terbentuk tahun 1925. Pembentukan ini terjadi pada masa penjajahan Belanda. Luas wilayah Mambal membentang sejauh 612 Ha. Batas timur Desa Mambal adalah Desa Adat Sigaran. Batas ini merupakan batas Kabupaten Badung dengan Gianyar. Bentangan Sungai Ayung menjadi batas barat wilayah desa.
Desa Mambal dipimpin Ida Bagus Ketut Kajeng saat awal berdiri. Ia berasal dari Desa Adat Umahanyar. Kantor desa didirikan di Desa Adat Lambing. Lahan yang dipakai adalah milik warga yang dipinjamkan. Ida Bagus Ketut Kajeng menjabat sebagai Perbekel selama 29 tahun. Masa jabatannya berlangsung dari tahun 1925 hingga 1954.
Ia digantikan adiknya, Ida Bagus Punia. Ia juga berasal dari Desa Adat Umahanyar. Ia menjadi Perbekel Desa Mambal selama 19 tahun. Kepemimpinannya berlangsung dari tahun 1954 sampai 1973.
Perjuangan Mendapatkan Lahan Sendiri
Berikutnya, Desa Mambal dipimpin I Gusti Putu Gede. Ia berasal dari Desa Adat Lambing. Kantor desa masih menempati lokasi lama di Lambing. I Gusti Putu Gede menjabat selama 10 tahun, hingga 1983. Pada masa jabatannya, ia melakukan perubahan.
Sekitar tahun 1977, ia memohon kepada Pemerintah Kabupaten. Permohonan itu agar desa mendapat tanah milik pemerintah. Tanah itu akan dijadikan Kantor Desa dan Puskesmas. Tanah tersebut juga akan digunakan untuk sekolah. Permohonan itu melalui beberapa proses penting.
Tahun 1977, permohonan itu akhirnya diizinkan. Desa Mambal diizinkan menempati lahan yang dimohon. Lahan itu menjadi Kantor Desa, Puskesmas, dan sekolah. Pada masa kepemimpinan ia, lembaga desa juga terbentuk. Terbentuklah LKMD, LMD, dan lembaga-lembaga lainnya.
Pemekaran Desa Mambal
I Nyoman Rimpeg memimpin Desa Mambal selanjutnya. Ia berasal dari Desa Adat Mambal. Ia menjadi Perbekel selama 8 tahun, hingga 1991. Kemudian Desa Mambal dipimpin I Nyoman Tama. Ia adalah pensiunan Angkatan Laut yang berbakti. Ia mengabdikan diri selama 16 tahun, hingga tahun 2007.
Jumlah penduduk semakin bertambah banyak. Ia bersama tokoh desa merencanakan pemekaran. Musyawarah menghasilkan kesepakatan pemekaran. Tahun 2002, usulan pemekaran diajukan. Pemerintah Kabupaten mengizinkan usulan pemekaran tahun 2003.
Desa Mambal dimekarkan menjadi dua desa. Desa Mambal mewilayahi sembilan banjar dinas. Ada Semana, Pengiyasan, Umahanyar, dan Gumasih. Ada juga Mambal Kajanan, Trijata, Agung, Undagi, dan Lebah Sari.
Desa Mekar Bhuana mewilayahi lima banjar dinas. Ada Samu, Lambing, Tingas, Bindu, dan Sigaran. Batas pemekaran diambil dari sungai sebelah timur Kantor Desa. I Made Susila memimpin Desa Mambal selanjutnya. Ia menjadi Perbekel hingga tahun 2013. Desa Mambal adalah destinasi penting untuk memahami sejarah Badung. (BP/CHA).













