Apa Aku Juga Harus Begitu?
Antar anak sekolah,
lap ingus yang keleleran,
bikin kopi suami
kopi cap suami,
atau mengkopi suami?
cuci piring,
angkat jemuran,
daster bolong-bolong
Daster, yang kata mamakku
bukan sekedar kain kembang-kembang,
tapi lambang perjuangan tanpa suara.
Mak,
apa aku juga harus begitu?
Supaya bisa kau sebut setangguh dirimu,
Apalah artinya segala daya upayaku di matamu,
sarjana atau dompet setebal ensiklopedia,
masih saja kau sebut:
“Belum sempurna jadi wanita”
Kupu-Kupu Kaca
Kupu-kupu kaca
bersayap mozaik
pecahan warna-warni
yang menyilaukan mataku
seperti rahasia yang tak boleh kutahu.
Itu pemberian ibuku.
Kata ibu ini cuma ada satu di dunia,
seperti cinta ibu padaku.
Tapi suatu malam,
ibu tak lagi pulang.
Suara bajaj
menggeram di kejauhan,
lalu suara ibu
mengambang di udara:
“Bang, ke Kalideres ya…”
Setelah itu,
rumah jadi liang sunyi.
Keesokan paginya,
ayah pulang terhuyung
dipapah seorang perempuan
berbaju merah
dengan bibir tipis berani.
“Pak… Ibuk ke mana?”
tanyaku,
masih menggenggam harap
seperti uang receh di tangan bocah.
Tapi ayah hanya diam.
Lalu perempuan itu,
menatapku seperti menyumpah:
“Ibukmu kabur ke Malaysia, jadi babu!”
Aku lari ke kamar.
Kupeluk kupu-kupu kaca,
membiarkan pecahan sayapnya
menusuk wajahku.
Kucari wajah ibu
di antara retakannya
mungkin
Jika aku cukup hancur,
Aku bisa menyusulnya….
Ke dalam mozaik kupu-kupu kaca.
2025
Gantungan Musim Panas
Celana dalam kedodoran dan kaos kaki bolong
kupajang untuk mengejek matahari
dan si balkon keramik yang sombong.
Biar dunia tahu:
aku masih punya sepasang kaki
dan keberanian menjemur malu
di tempat yang bukan punyaku.
Dari jendelaku yang sempit,
kulihat balkon-balkon berjejer rapi
penuh bunga hias, kursi rotan,
dan Meneer Belanda
duduk bersilang kaki
seperti di halaman majalah musim panas.
Mereka berjemur.
Sementara aku berembun.
Mereka pamer tanaman gantung,
aku pamer celana dalam
yang kupelintir dari sisa sabun cuci.
Kadang aku membayangkan:
mereka melambai.
Menawar kopi.
Mengajak ngobrol tentang cuaca.
Tapi tidak.
Yang kuterima hanya bisikan lelah
dari gantungan baju
yang hampir putus tertiup angin
2025
Di Bawah Ranjang
kita sama-sama memejam
tapi kamu tidur
aku membusuk dalam gelap.
kamarmu sunyi.
bukan.
kamarku.
bukan juga.
hanya tempat singgah
berisi napas yang tak saling bertanya.
kamu mengigau
tentang rumah,
tentang perempuan lain.
aku diam.
dalam diam itu,
ada jalan
yang tak bertuan.
aku menggulung lembar-lembar khayalan
(Tentang toko bunga, anak-anak berambut ikal
dan status sebagai nyonya “Sosialita”)
ke dalam guci tanah liat
di bawah ranjang
tidurlah, kamu.
bangun pun tak apa.
aku tetap akan jadi cerita
yang tak kamu ingat
meski tubuhku sempat kamu pinjam.
Malam ini panjang,
Kita tidak.
2025
Doa, Takdir, dan Keripik Kentang
Apakah doa itu
seperti telepon rusak
berbunyi,
tapi tak ada yang menjawab?
Apakah manusia bisa
menyusun harapan
seperti pesanan
di restoran cepat saji?
Apakah damai sejahtera
sama seperti ukuran diskon:
dijual murah,
setengah harga?
Jawaban kutemukan
di selembar kupon undian
dalam bungkus keripik kentang
yang baru saja aku buang:
“Anda belum beruntung.
Silakan coba lagi”
2025
Reni
Reni,
anak semata wayangku
mata bulat, wajah sayu,
paras lembut yang dulu
kupeluk tiap malam,
sebelum tidur.
Waktu itu ia lima tahun.
Aku kabur ke Kalimantan,
jadi perempuan warung,
menakar nasi dan rindu
dalam bungkusan daun.
Kadang tiap bulan ia menelepon:
“Bu, belikan aku bedak,
sepatu, baju model terbaru!”
Aku tak banyak tanya.
Kupikir bahagia bisa dibeli
dengan lipstik murah
dan sepatu nomor tiga sembilan.
Ulang tahunnya yang ke-16,
dia bilang ingin rambutnya merah.
Aku diam.
Anak remaja memang suka jadi api.
Dan aku,
aku cuma ibu yang jauh.
Dua bulan setelah lulus SMA,
aku pulang.
Bawa tubuh lelah,
uang pas-pasan,
dan harapan tentang sarjana
di dahi anakku.
Tapi rumah itu tak lagi rumah.
Seorang perempuan bersikap sinis
dari balik pagar:
“Reni? Minggat. Sudah sebulan tak pulang.”
Katanya,
anak penjual nasi kok
kerjanya keluyuran
di tempat karaoke,
pulang pagi
seperti kabut yang tak tentu arah.
Dari tetangga aku dengar:
ia tinggal di kompleks pelacuran
di pelosok Bandar Lampung
Hatiku jatuh,
pelan,
seperti piring tua
yang pecah di lantai tanah.
Tapi aku tak mencarinya.
Entah karena takut,
atau terlalu ingin
menjaga bayangan
yang tak mau tumbuh.
Dalam ingatanku,
Reni tetap kecil:
berdaster bunga,
memelukku dengan tangan
yang bau minyak telon,
berbisik:
“Jangan pergi, Bu.”
Tapi aku sudah pergi.
Dan aku tak pernah
benar-benar kembali.
Pelacur Ibu
Di parkir sebelah barat gedung tua
aku sering melihatnya di sana.
Selalu terburu-buru… seperti biasanya.
Stiletto hitamnya menjejak gagah.
Ia singkapkan selendang dada
yang juga tidak cukup
menutupi dadanya.
“Aku ingin sekali punya rumah,” katanya suatu sore,
“yang halamannya luas… ditumbuhi semak liar dan kembang, itu loh…
tempat orang-orang gedongan.”
Malam tiba
dan seperti biasa,
ia belum pulang.
Mungkin anggur masih dituang
di serambi hotel,
di atas serbet,
ke bibir pelanggan
yang sama-sama murahan.
Dulu, ada seorang ibu penjual “susu”,
sering ke warungku
sekadar bertandang.
Ternyata, ia juga punya impian
tentang rumah dan pekarangan.
Setelah itu
ia menghilang.
Mungkin sekarang
dia jadi penduduk pemukiman orang-orang “gedongan”
Atau…
mengambang di atas kali Muara Karang.
2025
BIODATA
Renta Ivonne Dewi Arimbi Situmorang lahir di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, 21 September 1980. Selain melukis, dia juga sesekali suka menulis cerita dan puisi. Dia menetap Zaltbommel, Belanda. IG: @ivonnearimbi.













