DITELUSURI: Terungkap penyebab utama kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax di sejumlah wilayah di Bali Selatan. (Kolase: Gung Kris)
BADUNG, Balipolitika.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax sempat dirasakan di wilayah Bali Selatan, khususnya di Jimbaran dan Denpasar, sejumlah Stasiun Pengisian Bensin Umum (SPBU) mengalami kekosongan stok Pertamax pada 15-16 November 2025 lalu, juga sempat memicu kekhawatiran masyarakat. Diketahui, keterlambatan dalam proses pendistribusian (distribusi molor) menjadi penyebab utama kelangkaan Pertamax di Bali Selatan, bahkan dikabarkan, saat ini kuota Pertamax untuk kebutuhan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) belum terpenuhi secara optimal, dikutip Sabtu, 22 November 2025.
Permasalahan kelangkaan Pertamax di Bali Selatan membuat salah satu Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi PDI Perjuangan, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan atau akrab disapa Alit Kelakan terjun langsung ke lapangan bersama Pertamina, melakukan pemantauan untuk memastikan penyebab utama molornya pendistribusian Pertamax khususnya di wilayah Bali Selatan.
Berdasarkan hasil pantauan, Alit Kelakan menemukan bahwa distribusi Pertamax yang seharusnya sebesar 1.024 KL (Kilo Liter), hanya terealisasi sekitar 980 KL. Menurutnya, kekurangan inilah yang membuat sejumlah wilayah di Bali Selatan (Jimbaran dan Denpasar) mengalami kelangkaan BBM jenis tersebut.
“Setelah dicek semuanya bersama Pertamina, termasuk pak Haji dengan Dirut Pertamina yang ada di Bali akhirnya ketemu akar permasalahannya,” kata Alit Kelakan, Jumat, 21 November 2025.
Selanjutnya, pihak Pertamina yang menjelaskan kepada dirinya, menyebut bahwa stok Pertamax di Fuel Terminal (FT) Sanggaran sempat berada pada kondisi kritis. Sehingga, dilakukanlah upaya alih suplai dari IT Manggis. Namun, proses alih suplai tidak dapat berjalan dengan optimal, mengingat jarak yang cukup jauh dan adanya keterbatasan armada.
“IT alih supply di IT Manggis tidak berjalan optimal dikarenakan jarak Manggis yang cukup jauh, 46,3 Km (Kilometer, red) dan ketersediaan armada mobil tangki juga terbatas,” lanjutnya.
Tak hanya itu, faktor alam juga turut andil dalam permasalahan kali ini, cuaca yang buruk membuat kapal pengangkut BBM mengalami keterlambatan tiba dari Surabaya. Alit Kelakan menambahkan, bahwa stok ideal di FT Sanggaran dengan kapasitas dua tangki penuh mampu menampung sekitar 6.000 KL Pertamax.
“Itu cuma terlambat 1-2 hari sebenarnya cukup terpenuhi. Itu kita cek nanti apa penyebabnya,” ujarnya.
Meskipun diketahui akan ada 4 (empat) unit mobil tangki yang akan tiba pada Desember 2025, pihaknya mengatakan, masih ada kekurangan 15 unit mobil tangki baru untuk memenuhi kuota yang dibutuhkan, sehingga pihaknya akan melanjutkan koordinasi dengan Dirut Pertamina untuk menambah kuota BBM dalam menghadapi Nataru.
“Jika sudah ngerti faktor cuaca kita bisa cek dari BMKG, selanjutnya bisa kita atur armada dan stoknya kita tambah,” tuturnya.

Pertamina Pastikan Kuota Nasional Aman
Sementara itu, SAM Bali, Endo Eko Satriyo memastikan bahwa kuota Pertamax tidak diatur oleh pemerintah, namun stok BBM subsidi seperti Biosolar dan Pertalite aman hingga akhir 2025, bahkan akan ada penambahan pada 2026.
“Itu tidak ada masalah, masih ada kuotanya dan tahun 2025 cukup terpenuhi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Pertamina meningkatkan suplai harian Pertamax dari 1.024 KL menjadi 1.561 KL atau naik 52 persen.
“Hari Rabu kemarin sudah normal dengan adanya penambahan pengiriman BBM seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, pasokan Pertamax Turbo masih menunggu jadwal pengiriman dari pusat.
Kendala Cuaca Kembali Jadi Tantangan Utama
FTM Sanggaran, Muhammad Riduansyah, menegaskan bahwa pihaknya selalu menyesuaikan suplai berdasarkan rekomendasi Tim Regent. Namun faktor cuaca tetap menjadi hambatan utama keterlambatan kapal.
“Kemarin kendalanya di faktor cuaca, sehingga terjadi keterlambatan datangnya BBM ke tempat kami,” jelasnya.
Dengan berbagai langkah mitigasi dan koordinasi intensif, Pertamina menargetkan pasokan BBM di Bali kembali stabil menjelang musim liburan Nataru. (bp/gk)













