DENPASAR, Balipolitika.com– Kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan derasnya arus globalisasi menjadi perhatian khusus Anggota MPR/DPD RI B-67, Niluh Putu Ary Pertami Djelantik.
Sadar arus deras teknologi informasi membawa tantangan bagi generasi muda dalam menjaga identitas budaya sekaligus memahami nilai kebangsaan, Senator RI kelahiran Kalianget, Seririt, Buleleng, Bali, Indonesia pada 15 Juni 1975 menjadi narasumber diskusi di Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan, Penatih, Denpasar Timur, Jumat, 12 Desember 2025.
Di tengah dinamika tersebut, dialog lintas generasi menjadi penting untuk memperkuat karakter, toleransi, dan kemampuan hidup berdampingan dalam perbedaan.
Fakta ini menjadi alasan mendasar digelar diskusi bertajuk “Berakar di Budaya, Bertumbuh untuk Indonesia: Refleksi Empat Pilar Kebangsaan dalam Kehidupan Anak Muda dan Komunitas” menggandeng Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan.
“Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan hadir sebagai ruang yang inklusif bagi komunitas, anak muda, dan masyarakat umum untuk bertemu, berdiskusi, dan menumbuhkan pemahaman tentang nilai-nilai persatuan. Ruang ini menjadi simbol bahwa kebangsaan tidak hanya diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga dipelajari melalui perjumpaan, percakapan, dan refleksi,” ucap Niluh Djelantik.
Imbuhnya, empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi kehidupan berbangsa yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk budaya dan kearifan lokal.
Niluh Djelantik menjelaskan acara sosialisasi empat pilar kebangsaan bertema “Berakar di Budaya, Bertumbuh untuk Indonesia: Refleksi Empat Pilar Kebangsaan dalam Kehidupan
Anak Muda dan Komunitas” ini diharapkan mampu menjadi ruang bersama untuk membahas nilai-nilai budaya dan kebangsaan secara reflektif serta membangkitkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya hidup rukun, toleran, dan mencintai tanah air.
Bersama Ketua Pengurus Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan, Ketut Udi Prayudi, SE., SH., MH., Niluh Djelantik membahas sejumlah topik penting, yakni (1) Pancasila sebagai nilai etika, gotong royong, dan kemanusiaan; (2) UUD 1945 sebagai landasan hak dan kewajiban warga negara; (3) NKRI sebagai komitmen hidup bersama dalam persatuan; (4) Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekuatan keberagaman; (5) Budaya sebagai akar identitas Indonesia; (6) peran budaya dalam membentuk karakter bangsa; (7) tantangan menjaga jati diri di era digital; dan (8) hubungan nilai lokal dengan nilai kebangsaan.
Niluh Djelantik menambahkan peserta diskusi diajak memahami nilai-nilai empat pilar kebangsaan secara relevan dan kontekstual sehingga tumbuh wawasan tentang pentingnya budaya sebagai fondasi kebangsaan.
Selain itu juga diharapkan terbentuk ruang dialog yang sehat, toleran, dan inklusif di mana kondisi idealnya ini akan memantik berkembangnya kesadaran generasi muda akan tanggung jawab menjaga persatuan dan keberagaman Indonesia.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi perjumpaan hangat yang mempertemukan nilai budaya, spiritualitas, dan kebangsaan. Di ruang seperti Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan, nilai empat pilar hadir bukan sebagai teori, tetapi sebagai praktik hidup yang terwujud melalui dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan komitmen menjaga Indonesia tetap utuh dan harmonis,” tutup Niluh Djelantik. (bp/ken)













