BADUNG, Balipolitika.com- Misteri Sang Ngeh. Bali selalu menawarkan destinasi spiritual dan alam yang unik. Salah satunya adalah Wisata Pura Bukit Sari Sangeh yang terkenal. Lokasinya berada sekitar 21 kilometer di utara Kota Denpasar. Sangeh terkenal karena hutan palanya yang berpenghuni. Ratusan monyet jinak mendiami hutan ini dengan bebas.
Hutan ini menyimpan beberapa pura yang sakral. Pura Melanting, Pura Tirta, dan Pura Anyar ada di sana. Pura Bukit Sari adalah yang terbesar di antara semuanya. Pura ini terkait erat dengan Kerajaan Mengwi yang lama. Catatan sejarah menyebutkan hubungan itu secara jelas.
Nama Sangeh diyakini masyarakat karena terkait Hutan Pala. Nama ini berasal dari dua kata Bali yang unik. Sang berarti orang, dan Ngeh berarti melihat. Sangeh diartikan sebagai orang yang melihat kejadian.
Konon, pohon-pohon pala sedang dalam perjalanan jauh. Pohon tersebut melakukan perjalanan dari Gunung Agung. Pohon itu menuju perjalanan ke Bali Barat. Karena ada orang yang melihat, pohon-pohon itu berhenti. Pohon-pohon itu berhenti di tempat yang kini dikenal Sangeh.
Pura Bukit Sari dan Anak Raja
Pura Bukit Sari dibangun oleh Anak Agung Anglurah Made Karang Asem Sakti. Ia merupakan anak angkat dari Raja Mengwi. Raja Mengwi itu bernama Cokorda Sakti Blambangan. Anak Agung Anglurah Made Karang Asem Sakti melakukan tapa unik. Ia melakukan tapa Rare, bertapa seperti anak-anak.
Ia mendapat ilham untuk membuat Pelinggih atau Pura. Pelinggih itu dibuat di Hutan Pala Sangeh. Pura ini kini dikenal sebagai Pura Bukit Sari yang besar. Pura ini berdiri tegak di tengah Hutan Pala.
Kawasan hutan homogen seluas 10 hektar menjulang tinggi. Hutan ini berisikan pohon pala (Dipterocarpus trinervis). Pohon pala ini diperkirakan berumur ratusan tahun. Pura Bukit Sari adalah peninggalan Kerajaan Mengwi abad ke-17. Pohon Lanang Wadon yang unik juga dapat Anda temukan di sana.
Kera Suci dan Aturan Kunjungan
Ratusan kera abu ekor panjang menghuni hutan ini. Kera (Macaca fascicularis) itu berjumlah sekitar 600 ekor. Masyarakat Sangeh menganggap kera-kera ini jelmaan prajurit. Mereka dianggap sebagai kera suci pembawa berkah. Keberadaan mereka tidak boleh diganggu sama sekali.
Kera di sini hidup layaknya sebuah komunitas. Mereka mempunyai tiga kelompok atau Banjar besar. Ada Banjar Timur, Banjar Tengah, dan Banjar Barat. Setiap banjar tersebut memiliki pemimpin kelompoknya.
Kehidupan kelompok para kera mengenal persaingan ketat. Pejantan bersaing memperebutkan posisi Raja kelompok. Kelompok-kelompok itu memperebutkan wilayah kekuasaan. Wilayah Banjar Tengah memiliki sumber makanan terbanyak.
Tempat sakral ini terbuka untuk dikunjungi wisatawan. Namun, ada aturan yang harus dihormati pengunjung. Wanita yang sedang haid tidak boleh berkunjung. Orang yang sedang ditinggal mati keluarga juga dilarang masuk. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesakralan pura. Wisata Pura Bukit Sari Sangeh menawarkan pengalaman unik. Anda bisa merasakan kedamaian spiritual Bali di sini. (BP/CHA).













