ADA momen-momen dalam hidup yang berhenti menjadi sekadar acara, berubah menjadi peristiwa batin. Malam 25 November 2025, pukul 18.30, di aula Sekolah Musik Indonesia (SMI) Madiun, saya memegang mikrofon bukan sekadar sebagai moderator seminar, tetapi sebagai saksi atas lahirnya dialog yang lebih besar daripada panggung yang kami pijak. Di hadapan orang tua murid, publik, dan para pecinta musik, saya memandu sesi “Ask Ananda Anything” bersama seorang komponis dan pianis dunia, Ananda Sukarlan. Namun apa yang berlangsung bukan hanya sesi tanya jawab; ia menjadi renungan panjang tentang masa depan seni, pendidikan, dan bahkan masa depan manusia.
Acara dibuka oleh Branch Manager SMI Madiun, Pak Sumala S.Si, dilanjutkan seminar, dan ditutup dengan penyerahan plakat serta sesi foto bersama. Tetapi setelah sorotan kamera padam, gema gagasan Ananda Sukarlan terus mengalir. Ada ironi yang menjadi pembuka diskusi: orang tua mendorong anak belajar piano, biola, atau vokal sejak usia dini, namun menolak ketika anak ingin menjadikan musik sebagai jalan hidup. Musik dirayakan sebagai sarana pembentukan karakter, tetapi profesi musikus tetap diletakkan di luar ruang “pekerjaan layak”. Di situ, saya merasa diskusi tidak lagi berbicara tentang musik saja, melainkan tentang cara masyarakat mengukur nilai manusia.
Seperti ucapan filsuf Friedrich Nietzsche: “Tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kesalahan.” Diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia hari ini, barangkali dapat ditanya: mengapa masyarakat menghormati musik sebagai pendidikan, tetapi enggan menghormatinya sebagai profesi? Bukankah hal itu menyingkap cara pikir instrumentalistik yang menjadikan seni hanya sebagai alat, bukan sebagai pengetahuan? Musik tidak ditakdirkan hanya untuk membentuk karakter; ia juga membentuk peradaban. Ketika masyarakat menggiring generasi muda untuk mencintai musik tetapi tidak memberi legitimasi untuk hidup sebagai musikus, maka sesungguhnya kita sedang mendidik generasi yang cerdas berlatih, tetapi takut bermimpi.
Dialog kemudian berlanjut ke fenomena kecerdasan buatan. Pertanyaan sederhana namun menggigit: di era AI, apakah musikus akan tergantikan? Kecerdasan buatan mampu menghasilkan simfoni dalam hitungan detik, merekonstruksi suara instrumen hingga level yang nyaris tak terbedakan. Tetapi Ananda Sukarlan menyingkap inti persoalan: seni bukan soal kemampuan mereproduksi suara, melainkan soal kemampuan mengungkapkan jiwa. Musik yang diciptakan algoritma tidak bernapas, karena ia tidak berangkat dari pergulatan eksistensial seorang manusia. Musik hebat bukan hanya kombinasi nada; ia adalah rangkuman luka, cinta, harapan, tragedi, dan kemenangan batin manusia yang tidak dapat dimodelkan oleh formula komputasional. AI dapat menggantikan teknisi, tetapi tidak bisa menggantikan manusia yang menghayati.
Apa yang paling menggugah adalah penjelasan Ananda tentang pendidikan musik. Ia tidak percaya bahwa ijazah adalah bukti keunggulan, karena ijazah hanya tanda pernah bersekolah, bukan tanda pernah berpikir. Dunia tidak maju karena banyaknya sarjana, tetapi karena banyaknya seniman dan ilmuwan yang berani menentang kemapanan. Di sinilah musik menemukan relevansinya. Pendidikan bukan sekadar pelatihan menuju profesi, melainkan pembentukan manusia seutuhnya—manusia yang memahami hubungan antar-manusia, manusia yang mampu merasakan estetika dan keindahan, manusia yang berani berpikir dan berimajinasi. Dalam konteks itu, musik bukan pelengkap, melainkan fondasi peradaban.
Gagasan tersebut terasa semakin nyata ketika ia bercerita tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+), yang tidak hanya mencakup piano, tetapi juga instrumen lain dan vokal klasik melalui kategori tembang puitik. Ia menghubungkan musik klasik dan sastra dengan cara yang berani dan merakyat, membawa musik klasik kepada publik yang sebelumnya tidak tersentuh. Apakah ini hanya kompetisi? Tidak. KPN+ adalah strategi kultural: penyebaran virus keindahan dan pemikiran kritis melalui musik.
Saat saya mendengar bagaimana ia memilih juri—milenial dan gen Z yang lulus kuliah “live” dan bukan sekadar latihan daring—saya menangkap sesuatu. Ia bukan sedang membangun kompetisi, tetapi membangun masa depan. Standarnya bukan hanya teknik, tetapi 3 K: Kreatif, Komunikatif, dan Kolaboratif. Inilah kritik tersirat terhadap dunia pendidikan seni yang hanya menghargai teknik. Teknik hanya tiket masuk babak final. Kemenangan lahir dari orisinalitas visi, kemampuan mengekspresikan karakter musik, dan kerendahan hati untuk bekerja bersama. Dengan kata lain, seni tidak maju oleh kecemerlangan personal, tetapi oleh komunitas imajinasi.
Malam ini, musik menjelma menjadi arena kritik filosofis. Saya tiba-tiba teringat kata-kata Albert Camus: “Seni bukanlah pelarian dari realitas, melainkan penolakan untuk menerima realitas apa adanya.” Musik membukakan keberanian untuk membayangkan dunia yang belum ada. Itulah sebabnya seorang musikus tidak bekerja hanya dengan jari dan telinga, tetapi dengan kesadaran, dengan makna. Ketika masyarakat memarjinalkan profesi musikus, sesungguhnya kita sedang memiskinkan imajinasi kolektif bangsa.
Pertanyaan penting lalu muncul: apakah kita ingin anak-anak kita pandai bermain musik, atau ingin mereka tumbuh menjadi manusia utuh? Apakah kita mengajarkan seni untuk trofi, atau untuk keberanian berpikir? Apakah kita ingin mereka mengikuti dunia apa adanya, atau ingin mereka menciptakan dunia baru?
Setelah acara berakhir, plakat diserahkan Pak Sumala kepada Ananda Sukarlan dan sesi foto bersama menutup malam secara seremonial. Namun tidak ada dokumentasi yang mampu memotret pergeseran batin yang saya rasakan. Di tengah hiruk pikuk dunia teknologi, kompetisi, dan tuntutan ekonomi, malam ini mengingatkan saya bahwa seni—musik khususnya—masih menjadi tempat manusia menemukan dirinya. Dunia mungkin akan menuju otomatisasi total, tetapi selama manusia masih membutuhkan makna, musik tidak akan pernah mati.
Dan pada akhirnya, saya mengajukan pertanyaan yang saya tinggalkan untuk diri saya sendiri, dan juga untuk pembaca: jika musik terbukti mampu membentuk karakter, menyuburkan imajinasi, menumbuhkan kerendahan hati, dan menghidupkan kembali kemanusiaan, maka sesungguhnya siapa yang sedang kita bentuk ketika kita menolak masa depan anak-anak yang ingin menjadi musikus—mereka, atau diri kita sendiri? Apakah kita sungguh ingin dunia yang lebih baik, atau hanya dunia yang lebih patuh? Dan pada akhirnya, ketika peradaban ini semakin diarahkan oleh mesin, masihkah kita percaya bahwa manusia layak diperjuangkan?
Pertanyaan itu mungkin tidak memerlukan jawaban segera. Tetapi mungkin, seperti musik, ia hanya perlu direnungkan—hingga suatu hari kita mendengar nada yang mengubah hidup kita.
BIODATA
Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penyair dan pendidik seni budaya yang aktif menulis puisi dan mengajar musik di SMA Negeri 2 Madiun.













