PAMERAN VOYAGE OF BECOMING menampilkan karya-karya Sakde Oka yang mengandung perenungan tentang tubuh, pengalaman batin, dan kesadaran. Sakde menjadikan benang dan kain sebagai medium eksistensial. Bukan sekadar material lembut yang menampung emosi, tetapi juga sebagai medan tegangan antara tradisi dan ekspresi individual. Dalam konteks seni rupa Indonesia kontemporer, hal ini menjadi menarik karena menegaskan kembali ruang domestik dan kerja tangan perempuan sebagai sumber pengetahuan artistik dan spiritual yang setara dengan diskursus modernitas.
Sakde Oka adalah perupa kelahiran Ubud, 1994. Dia memulai praktik artistiknya pada 2022 melalui pameran Bali Emerging Artist. Sejak itu, ia berfokus pada kain dan benang sebagai medium utama dalam karyanya. Bagi Sakde, menjahit dan menyulam bukan sekadar teknik, melainkan praktik meditatif, cara paling mudah untuk berhubungan dengan emosi serta pengalaman batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Karya-karya Sakde banyak terinspirasi dari hal-hal sehari-hari yang kerap terlewat, seperti keheningan, perubahan suasana hati, keterbatasan tubuh, dan ruang domestik. Dia kerap menggabungkan bentuk manusia, hewan, dan tumbuhan dengan elemen kosmos seperti matahari, bulan, dan bintang. Melalui bahasa visual ini, Sakde mengeksplorasi bagaimana tubuh dan emosi manusia sangat erat terhubung dengan alam semesta serta ritme kehidupan sosial yang lebih luas.
Untuk membaca karya-karya Sakde secara kritis, kita perlu melampaui tafsir spiritualnya yang eksplisit. Kita perlu menelisik bagaimana ia membangun dialektika antara kerajinan (craft), identitas gender, dan proses artistik kontemporer. Dalam tulisan ini, saya akan membahas beberapa karya Sakde dalam pameran Voyage of Becoming yang digelar di Artotel Artspace, Sanur, dari 12 September hingga 15 November 2025.
Salah satu karya yang menarik perhatian saya adalah When Flight Becomes Light (2024). Pada karya ini, Sakde menggabungkan benang dan payet di atas kain katun. Karya ini menampilkan tiga figur perempuan yang sedang mengendalikan sosok burung (layangan?); di tengah mereka terdapat kolam bundar biru yang dikelilingi bunga-bunga kecil.
Dari sisi visual, karya itu dapat dibaca sebagai alegori transformasi, yakni tubuh yang mencoba menembus batas fisik dan simbolik. Namun, secara kritis, karya ini juga berbicara tentang embodiment. Tentang bagaimana perempuan sebagai subjek pencipta menegosiasikan ruangnya dalam sistem visual yang kerap mengobjektifikasi tubuh. Karya ini tidak hanya bicara soal spiritualitas, tetapi juga sosial dan politis, yakni gerak menuju otonomi kreatif, menuju cahaya yang berasal dari dalam jiwa.
Sakde berhasil menjadikan benang, benda yang rapuh dan lentur, sebagai medium keteguhan. Pada karya itu, benang bukan lagi penahan. Benang berubah menjadi sayap. Ini adalah metafora tentang bagaimana keterbatasan menjadi kemungkinan.
Karya Feeding Myself with Memories (2024) menampilkan suasana surealis kebun binatang. Sakde menampilkan tiga figur perempuan, dua menjangan yang sedang minum air, perdu dan pohon, serta sebentang pelangi. Karya berukuran 30 x 30 cm ini dibuat dari rajutan benang di atas kain dan cat akrilik.
Meninjau dari judulnya yang puitis, karya ini dapat dipahami sebagai representasi dari “kerja reproduktif” emosional perempuan: mengingat, memelihara, mengulang, dan menumbuhkan kembali. Sakde berupaya memanggil kenangan indahnya dam mengolahnya menjadi tekstur yang halus, yang meresap perlahan ke dalam kesadaran apresian. Lewat karya ini, dia ingin mengatakan bahwa mengingat kenangan tidak selalu berarti memenjarakan diri dalam masa lalu, melainkan memberi makan kepada jiwa agar terus tumbuh.
Sementara itu, karya Here I Sit Beneath the Tree secara filosofis menjadi titik keseimbangan dalam keseluruhan karya yang dipamerkan. Pohon hadir sebagai simbol pengetahuan dan kontinuitas, sementara manusia duduk di bawahnya, tenang, namun sarat kesadaran.
Jika karya lain menampilkan gerak dan transformasi, maka Here I Sit Beneath the Tree menghadirkan “diam” sebagai bentuk gerak batin. Secara spiritual, dalam diam, tubuh menjadi pusat gravitasi antara bumi dan langit. Karya ini merefleksikan filsafat Bhuana Agung dan Bhuana Alit, bahwa manusia adalah mikrokosmos yang memantulkan keteraturan makrokosmos.
Namun, dalam pembacaan yang lebih kritis, karya itu juga menyiratkan sikap melawan narasi produktivitas modern. Duduk di bawah pohon bukan sikap pasif, melainkan penolakan terhadap ritme cepat dunia yang menolak keheningan.
Karya Riding Horse (2024) menunjukkan pergeseran visual dari meditatif ke dinamis. Figur perempuan di atas kuda, bunga-bunga perdu, digarap dengan kombinasi cat akrilik dan benang, menjadi simbol kekuatan dan dorongan vital dalam diri manusia.
Kuda, dalam banyak kebudayaan, melambangkan hasrat, intuisi, dan kebebasan. Namun dalam tangan Sakde, hal itu tidak diromantisasi, tetapi justru dikendalikan dan diolah menjadi bagian dari disiplin spiritual. Figur perempuan yang berdiri di atas kuda adalah simbol kemenangan atas pengendalian hasrat diri.
Secara visual, benang-benang yang mengikuti arah gerak kuda menegaskan ritme, sekaligus mengaburkan batas antara bentuk dan latar. Ini menciptakan kesan bahwa gerak tidak hanya terjadi di dalam gambar, tetapi juga di permukaan kain itu sendiri. Sakde membangun ketegangan antara mengendalikan dan melepaskan, renungan yang dominan dalam seluruh karya yang dipamerkan.
Dalam karya Until I Swim Into Infinity of Mysteries (2024), Sakde menghadirkan figur-figur yang bermain perosotan air yang mengarah ke kolam renang. Di sini, air menjadi metafora bagi ketidakterbatasan, medium di mana tubuh kehilangan bentuknya dan menjadi bagian dari arus.
Karya ini membuka pembacaan fenomenologis tentang tubuh dan pengalaman. Bahwa dalam arus kehidupan, identitas manusia seringkali larut dan terbentuk ulang. Pada karya ini, Sakde menggunakan teknik menyulam bukan sebagai dekorasi, tetapi sebagai tindakan pencatatan terhadap perubahan.
Dari perspektif estetika, karya tersebut menghadirkan paradoks antara presisi teknik dan kebebasan bentuk. Hal ini mengingatkan pada praktik process art, di mana nilai terletak pada proses dan waktu yang melekat di dalam material itu sendiri.
Selain karya-karya buatan tahun 2024, Sakde juga menampilkan karya-karya terbarunya. Salah satu karya yang menarik perhatian saya berjudul The Drift of Nectar (2025). Karya ini menampilkan dua figur perempuan bergaun panjang dengan mata tertutup kain, tangannya memegang bunga merekah yang mengalirkan nectar. Ada empat burung putih melayang dan menukik hendak mencicipi nectar itu. Karya berukuran 150 x 125 cm ini dibuat dari benang dan kain katun. Karya ini memberikan renungan tentang sosok perempuan yang selalu setia menjaga siklus kehidupan tanpa memandang apa pun.
Saya juga terpikat dengan karya berjudul Perjamuan Suci (2025). Karya ini berukuran 30 x 40 cm dengan bahan akrilik, benang, payet di atas kanvas. Karya bernuansa sunyi itu menampilkan empat kursi merah yang mengelilingi sebuah meja bertaplak merah lengkap dengan teko dan empat cangkir. Tak ada manusia. Hanya ada dua pohon dengan daun-daun bercahaya kebiruan yang memanjang ke atas dengan latar kelabu. Apakah Sakde sedang menampilkan perjamuan suci para ruh dari alam lain? Entahlah. Karya surealis ini begitu kuat menampilkan kesunyian yang mengiris hati.
Membaca Voyage of Becoming secara kritis berarti memahami bahwa Sakde Oka tidak sekadar menampilkan perjalanan spiritual, tetapi juga menawarkan kritik halus terhadap keterputusan manusia modern dari alam, dari tubuh, dari kenangan masa kanak, dan dari makna keheningan.
Benang, medium yang kerap dianggap feminin, lembut, dan domestik, di tangan Sakde menjadi alat untuk mendefinisikan ulang posisi perempuan dalam seni rupa kontemporer. Benang menjadikan kesabaran, pengulangan, dan keheningan sebagai bentuk kekuatan seni yang membawa kita memasuki ruang renung.
Dengan mengaitkan tubuh, lanskap, dan kesadaran, Sakde menunjukkan bahwa Voyage of Becoming bukanlah pencapaian final, melainkan proses yang terus bergerak, seperti jahitan yang tidak pernah sepenuhnya selesai. Dalam dunia yang terobsesi pada hasil, Sakde mengingatkan bahwa keindahan justru lahir dari proses yang tak berkesudahan, dari ketegangan antara tangan dan waktu, antara keterikatan dan kebebasan.***
BIODATA
Wayan Jengki Sunarta, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Ia menamatkan pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra, Universitas Udayana (1994 – 2000). Ia juga pernah kuliah seni rupa di ISI Denpasar (2002; tidak tamat). Selain dikenal sebagai sastrawan, ia adalah penulis dan kurator seni rupa serta menekuni hobi melukis. Ia pernah mengikuti workshop Penulisan Seni Rupa di Jezz Gallery, Denpasar (2002), pembicara dalam seminar Membangun Dinamika Seni Rupa Indonesia di Galeri Nasional Jakarta (2007), pembicara dalam diskusi seni rupa Art Making: Potensi dan Tantangan Seni Rupa Bali Kini di Bentara Budaya Bali (2013).
Sejak 2001, ia rajin menulis ulasan/kritik seni rupa yang dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, Jawa Post, Bali Post, The Jakarta Post, Sinar Harapan, Majalah Gatra, Majalah Gama, Majalah Visual Arts, Majalah Arti, Majalah Gong, Majalah Warisan Indonesia, Majalah Sarasvati. Sejak 2005, selain menulis pengantar untuk katalog pameran seni rupa, ia juga sering menjadi kurator. Tulisannya yang berjudul Pita Maha dan Sanur School, Dua Terminal Seni Lukis Modern di Bali menjadi nomine Lomba Penulisan Kritik Seni Rupa yang digelar Dewan Kesenian Jakarta tahun 2005.













