SUASANA di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya pada Selasa malam, 12 Mei 2026, benar-benar pecah! Sejak awal hingga akhir, adaptasi drama musikal “Drama Musikal Sukreni Gadis Bali” ini terasa sangat hidup. Penonton tidak henti-hentinya memberikan tepuk tangan riuh, bahkan ada yang berteriak saking bersemangatnya mendukung aktor idaman mereka. Suasana haru dan senang bercampur aduk, menciptakan ikatan emosional yang kuat antara pemain dan penonton.
Satu hal yang paling membekas bagi saya adalah musiknya. CHAMELEON ENSEMBLE, di bawah konduktor Louis dengan komposisi musik karya Abigail, sukses membuat penonton bergetar dan larut dalam suasana. Begitu layar terbuka lebar, musik langsung menggelegar, memperlihatkan tata panggung (setting) yang cukup bagus. Di sisi kanan dan kiri berdiri dua bangunan warung sekaligus rumah, lengkap dengan deretan kursi dan jalan setapak di tengahnya. Penggunaan layar “screen” panjang sebagai dekorasi “mapping” juga sangat fungsional, secara dinamis mengganti suasana pagi, siang, dan malam yang dipermanis oleh permainan “lighting”.
Seorang aktor tua yang bertopang pada tongkat berdiri, suaranya yang berat di bawah cahaya remang yang menekan seolah menarik kita masuk ke halaman warung Men Negara. Ia menarasikan sejarah Sukreni yang hidupnya berubah menjadi drama tragedi. Namun, lima menit pertama pementasan justru menyuguhkan warna bahagia. Unsur kabaret dan nyanyian menghidupkan dialog demi dialog, bahkan peristiwa dramatik pun digubah menjadi lagu. Kehadiran unsur “magenjekan” menjadi nilai tambah yang sangat menghibur, terutama bagi penonton mahasiswa dan pelajar SMA.
Kolaborasi antara Teater Orok Noceng dan Chameleon Ensemble ini diperkuat oleh jajaran pemain yang bertalenta dan ingin sungguh sungguh hadir dan tercatat diantaranya: Dayu Hita (Sukreni), Bestari (Men Negara), Gung Angel (Negari), Rendra Sudanta (I Gusti Made Tusan), Airlangga Vedanta (Ida Gede Swamba), hingga para pemeran pendukung lainnya seperti Rafly Hakim, Arya Pinatih, Ade Narendra, Gung Maha, Graha Wicaksana, dan seluruh tim yang membuat panggung terasa penuh energi.
Namun, di balik kemegahan itu, ada catatan teknis yang cukup terasa. Pada beberapa babak peralihan, proses bongkar pasang set panggung memakan waktu agak lama. Jeda ini nampaknya sempat menimbulkan kejenuhan, kecemasan tersendiri bagi para aktor, kebocoran hal-hal teknis, yang sedikit banyak memengaruhi ritme permainan mereka. Beruntung, kerja sama tim yang solid membuat situasi tersebut tetap terkendali.
Menyutradarai drama musikal memang bukan perkara mudah; dibutuhkan kejelian untuk menciptakan kesan yang kuat. Saya teringat percakapan dengan seorang sutradara dan pelaku teater tentang apa yang membuat sebuah pementasan berhasil. Modal utama aktor bukanlah sekadar wajah, melainkan kemauan, kesiapan tubuh, serta kecakapan diri seperti kegemaran membaca sastra, mengamati berita, hingga mencintai musik dan fotografi. Semua itu adalah modal akting yang bisa dilatih. Jadi, panggung ini bukan soal gagal atau tidak, melainkan tentang bagaimana proses pencapaian itu dirayakan.
Hal ini tentu tak lepas dari peran seorang Iwan Kurniawan atau yang akrab disapa Curex. Sebagai mentor, penjaga yang berhasil menjadi pemantik bagi Teater Orok Noceng—mulai dari sutradara hingga aktor—untuk siap “membakar” seluruh energi tubuh demi menghangatkan atmosfer Gedung Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya. Harapannya jelas: agar drama musikal semacam ini terus dikembangkan oleh Teater Orok Noceng Universitas Udayana, sehingga memberi pengaruh positif bagi geliat teater sekolah dan kampus di Bali.
Secara artistik dramatiknya, menurut pengamatan ada bagian yang menjadi perhatian dan bisa lebih dipertajam. Misalnya, pada adegan penderitaan Sukreni pasca pemerkosaan. Narasi tentang Sukreni yang menghilang setelah menolak Gede Swamba terasa agak menjenuhkan karena dijelaskan kembali lewat adegan yang panjang. Padahal, momen dari pemerkosaan hingga pertemuan kembali dengan Swamba seharusnya menjadi klimaks pertama yang “menggigit”. Di sini, musik Chameleon-lah yang menjadi penyelamat dramatisasi yang sempat melandai atau turun emosinya dan tak kuat terangkat.
Ketegangan baru terjaga kembali saat Gustam dewasa muncul sebagai perampok. Musiknya sangat menguatkan ritme, membuat pergerakan aktor lebih bebas. Duel antara Gustam dan I Gusti Tusan benar-benar musiknya dibuat memacu adrenalin pertunjukan; tampak penonton ada ketegangan, ada penonton menggerakkan kepala mengikuti musik dan gebukan drum. Koreografinya pas—hentakan, pukulan, hingga aksi jungkir baliknya sinkron dengan irama music. Pokoknya dalam adegan ini seperti laga sebuah pertarungan yang membawa kita pada pertarungan untuk mendapat sesuatu yang mencerahkan.
Sedikit catatan kecil, terkadang vokal aktor agak “tenggelam” oleh megahnya musik orkestra. Aspek vokal ini mungkin perlu dipoles lagi agar pesan cerita tetap tajam hingga ke barisan belakang. Begitu juga dengan ekspresi karakter seperti ketamakan Men Negara atau sikap cuek Gede Swamba, Centilnya Negari, kepolosan Sukreni rasanya masih bisa digali lebih dalam melalui ekspresi yang tegas, gestur tubuh yang lebih lebar dan luas gerakannya.
Pertunjukan ditutup dengan momen kontras yang cantik. Setelah keriuhan laga, suasana tiba-tiba menjadi hening dan syahdu saat kematian Gustam. Musik, lagu menutup tragedi itu dengan sangat manis. Secara keseluruhan, pementasan ini benar-benar menghibur dan berjalan lancar. Sebuah apresiasi seni yang patut patut diacungi jempol, applaus panjang untuk seluruh aktor dan aktris pendukung, tim produksi yang telah menghidupkan kembali “Sukreni Gadis Bali” karya Anak Agung Panji Tisna dengan semangat muda yang luar biasa. Sukses Teater Orok Noceng Universitas Udayana.
*penulis adalah penyair dan pemain teater, tinggal di Denpasar.













