BALI, Balipolitika.com – Bali sedang tidak baik-baik saja! Pasca TPA Suwung berhenti menerima sampah organik, kepulan asap mulai menghantui langit Denpasar dan sekitarnya.
Warga yang “ngambek” dan panik mulai mengambil jalan pintas dengan membakar sampahnya, tentu saja ini akan menimbulkan akibat yang tidak baik.
Polusi Udara vs Estetika Kota
Anggota DPR RI dapil Bali, I Nyoman Parta, melontarkan pernyataan keras namun realistis. Menurutnya, pemandangan kota yang kotor karena sampah jauh lebih bisa ia toleransi daripada polusi asap yang membunuh secara perlahan.
“Jika boleh memilih, lebih baik taruh di depan rumah, kelihatan kotor. Daripada pembakaran yang akan merusak anak-anak balita, ibu hamil, dan lansia,” tegas Nyoman Parta.
Mengapa Membakar Sampah Sangat Berbahaya?
Lupakan kebiasaan lama membakar kayu kering. Sampah zaman sekarang dominan plastik dan residu. Ketika terjadi proses pembakaran, mereka melepaskan Dioksin, yaitu zat karsinogenik yang sangat beracun dan bisa menyusup ke pori-pori tubuh.
Ini adalah “pembunuh senyap” yang sulit terdeteksi namun berakibat fatal jangka panjang!
Ancaman Tegas dari Gubernur
Gubernur Bali, Wayan Koster, tidak tinggal diam. Penindakan tegas menanti siapa saja yang kedapatan membakar sampah residu. Meski pembakaran kayu kering masih bisa ia toleransi, membakar plastik adalah PELANGGARAN SERIUS.
Realita di Lapangan:
Pemerintah memang mendorong pengolahan mandiri sejak penutupan open dumping TPA Suwung akhir 2025. Namun faktanya, warga di lapangan masih bingung dan fasilitas pendukung belum merata. Hasilnya? Gejolak sosial dan kepulan asap beracun di mana-mana.
Sampai kapan kita harus memilih antara “bau sampah” atau “asap beracun”? Apakah edukasi mandiri sudah cukup, atau pemerintah yang kurang cepat menyediakan solusi nyata di tiap rumah tangga?
Jangan bakar masa depan anak cucu kita demi kebersihan sesaat! Apa solusi paling masuk akal menurut semeton? (BP/OKA)











