BADUNG, Balipolitika.com- Selamat datang di Bali, pulau yang menyimpan banyak cerita kerajaan. Sejarah Desa Sibanggede berakar dari masa keemasan Kerajaan Gelgel. Kisah ini berputar pada perebutan kekuasaan yang penuh drama. Desa ini dulunya dikenal dengan sebutan Sai Baang.
Kisah dimulai setelah masa keemasan Dalem Çri Batur Enggong. Keraton Gelgel mencapai puncak kebesarannya. Namun, Keraton Gelgel hancur lebur pada tahun 1651 Masehi. Perebutan kekuasaan terjadi karena Kiayi Agung Maruti berkhianat. Kiayi Agung Maruti menjabat sebagai Patih Agung.
Kiayi Agung Maruti memerintah selama 26 tahun. Gelgel direbut kembali oleh Dewa Agung Jambe. Dewa Agung Jambe adalah putra bungsu Dalem Çri Di Made. Kiayi Agung Maruti sekeluarga melarikan diri. Ia mengungsi ke hutan Jimbaran di selatan Badung.
Babad Mengwi mencatat perjalanan mereka selanjutnya. Mereka pergi ke barat hingga Desa Kapal. Kemudian kembali ke timur hingga memasuki hutan Rangkan. Hutan ini berkembang dan disebut Kuramas. Kuramas dijadikan pusat kekuasaan baru mereka.
Lahirnya Kerajaan Mengwi
Kerajaan itu dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan. I Gusti Agung Putu memerintah daerah Timur di Kuramas. I Gusti Agung Anom memerintah daerah Barat di Kapal. Putra bungsu inilah yang menurunkan bangsawan Mengwi.
Putra I Gusti Agung M.Agung memohon di Pura Sadha Kapal. Putra ini bernama I Gusti Agung Putu. Ia membawa wilayahnya ke puncak kebesaran. Lahirlah Kerajaan Mengwi, dikenal sebagai Mangupura. Wilayahnya sangat luas, berkat anugerah Sanghyang Widi.
Raja Mengwi bergelar Cokorda Sakti Blambangan. Wilayah kekuasaannya meluas hingga Blambangan di Jawa Timur.
Sai Baang Selalu Merah Menyala
Daerah Sibang berada di sisi timur Sungai Ayung. Bagian selatan (Serijati dan Cabe) sudah dihuni sejak lama. Bagian utara hingga daerah Mambal masih berupa hutan belantara.
Nama Sai Baang bermula dari pohon Pucuk Baang. Pucuk Baang adalah sebutan untuk kembang sepatu merah. Pohon itu ditanam di sisi timur desa. Dari jauh, daerah itu selalu kelihatan merah menyala. Maka, daerah itu dijuluki Sai Baang (selalu merah).
Anglurah Sibang Serijati menyatakan takluk pada Mengwi. Ia takluk bersama pemimpin Payangan dan Mambal. Cokorda Sakti Blambangan menyerahkan Sibang Serijati. Ia menyerahkan wilayah itu kepada putranya. Putra itu bernama I Gusti Agung Made Kamasan.
Strategi Perebutan Lewat Ubung
Cokorda Sakti Blambangan mangkat dan diganti putranya. Raja baru bergelar Ida Cokorda Agung Made Banya. I Gusti Agung Made Kamasan sempat menjadi pengawas puri. Ia mengawasi puri saat adiknya, Cokorda Banya, ke Blambangan. Timbul keinginan Kamasan merebut singgasana adiknya. Manggis Kuning dari Gianyar mendukung maksud ia.
Rencana Kamasan gagal karena Cokorda Banya tiba-tiba kembali. Kamasan menyingkir ke utara bersama pengiring setianya. Ia mengungsi ke Banjar Sayan, lalu ke Den Kayu. Perjalanan dilanjutkan menuju daerah Tampaksiring. Rombongan pindah ke kerajaan Badung dan menetap di Ubung.
Ia membuat layang-layang besar di Ubung. Ekor layang-layang diikat sepucuk surat untuk Raja Mengwi. Surat itu meminta tambahan daerah Sibang Serijati. Tambahan daerah itu termasuk Sempidi, Lukluk, dan Perang. Ia meminta daerah itu seakan-akan jatuh melalui peperangan.
Pasukan I Gusti Agung Made Kamasan menyerang dari Ubung. Mereka menaklukkan Sempidi, Lukluk, dan Angungan. Peperangan dilanjutkan ke Desa Tegal Sai Baang. Di Tegal, ia mendirikan Puri dan menetap lama.
Kelahiran Sibanggede dan Sibangkaja
Ia menyerang Sibang Serijati yang dipimpin Pasek Karang Buncing. Setelah perlawanan sengit, Sibang Serijati jatuh. Ia membangun Puri di Sibang dan menetap di sana. Ia beranak-pinak, dan Sibang menjadi bagian Mengwi.
Perputaran zaman membuat Mengwi mulai mundur. Wilayah Anglurah Mambal diserang Cokorda Tapisan. Anglurah Mambal kalah dan meminta perlindungan Kamasan. Ia diberi tempat tinggal di Sibang bagian utara. Wilayah itu dinamakan Sibangkaja.
Kemunduran Kerajaan Mengwi tidak terbendung lagi. Badung mengalahkan Mengwi, lalu Belanda mengalahkan Badung. Berdasarkan tata pemerintahan kompeni. Sibang terbagi menjadi dua desa: Desa Sibangkaja dan Desa Sibanggede. Inilah asal-usul lahirnya Desa Sibanggede yang bersejarah. (BP/CHA).













