MADIUN, 7 November 2025. Taman Joglo Kutho Miring di Demangan, Kota Madiun, menjadi ruang perjumpaan yang melampaui sekadar hiburan. Di bawah langit yang lembut diterpa cahaya lampu taman, suara Dhalang Poer menggema dengan kejujuran yang langka di zaman ini—suara yang tidak hanya bernyanyi, tetapi berpikir. Acara bertajuk Bincang Hangat bersama Dhalang Poer bukanlah pertunjukan musik biasa. Ia adalah peristiwa kebudayaan yang berusaha menautkan kembali seni dengan kesadaran, nyanyian dengan pemikiran, dan hiburan dengan pencerdasan.
Dhalang Poer tampil bukan sekadar penyanyi; bagi saya ia adalah seorang filsuf rakyat yang menggunakan nada dan lirik sebagai pisau analisis sosial. Lagu-lagunya seperti “Langit Mendung Kutho Ngawi,” “Gusdur Pendekar Rakyat,” “Kudu Misuh,” hingga “Kretek Ngunengan” adalah catatan kultural yang merekam denyut kehidupan masyarakat dengan kejujuran yang sangat bernas. Dalam lirik-liriknya, ada perlawanan terhadap kemapanan semu, ada kesadaran ekologis, dan ada kesetiaan pada nurani.
Di tengah arus kebudayaan yang sering kali redup oleh gemerlap semu, Madiun malam ini seakan menjadi ruang oase. Sebuah kota yang mungkin masih dianggap kota kecil, justru menampilkan diri sebagai pusat percakapan yang bermakna, layaknya kota besar dunia. Acara ini membuktikan bahwa seni rakyat, ketika diberi ruang dialog, dapat menjadi sumber pengetahuan yang setara dengan teks-teks akademik. Diskusi yang dimoderatori oleh Gendhon Tiadatara pun mengalir dengan hangat dan tajam. Ia mengatakan, “Kita perlu lebih banyak ruang seperti ini—dimana seniman dan penonton bukan dua pihak yang terpisah, tapi dua arus kesadaran yang saling mengisi.”
Saya sendiri, sebagai penulis yang diberi kesempatan berkolaborasi malam itu, merasa bahwa puisi telah menemukan kembali rumahnya. Biasanya, puisi hanya saya bacakan di ruang-ruang kelas saat mengajar. Namun malam itu, puisi keluar ke ruang publik—menyapa masyarakat secara langsung, berdialog dengan lagu, dan bergema di antara suara tawa, renungan, dan tepuk tangan. Saya membacakan empat puisi yang terinspirasi dari lagu-lagu Dhalang Poer, di antaranya Wengi ing Madiun, Gusdur Pendekar Rakyat, Kudu Misuh, dan Orek-Orek.
Puisi, seperti musik, adalah bahasa refleksi. Ketika keduanya bertemu, yang hadir bukan sekadar hiburan, melainkan peristiwa kesadaran. Di sinilah saya teringat pada kata-kata Friedrich Nietzsche: “Tanpa musik, hidup adalah kesalahan.” Namun malam itu saya ingin menambahkan: tanpa refleksi, musik hanya gema kosong. Musik Dhalang Poer menolak menjadi gema; ia menuntut penonton untuk berpikir, untuk merasa, dan bahkan untuk berani marah terhadap ketimpangan sosial.
Salah satu momen paling menggugah adalah ketika hadirin larut dalam lagu Gusdur Pendekar Rakyat. Lagu itu, dengan nada lirih tapi berapi, menghadirkan sosok Gus Dur bukan sebagai figur politik, tetapi sebagai simbol kemanusiaan yang melindungi rakyat kecil. Mengingat sosok Gus Dur, saya mendapat satu inspirasi kalimat:
“Di wajahmu, rakyat menitipkan doa,
bukan untuk menang, tapi agar tetap manusia.”
Kata-kata itu seolah menjadi gema moral dari lagu tersebut, mengingatkan bahwa keberanian spiritual selalu lebih penting daripada kemenangan politik.
Di sela jeda, Yos Ponco, seorang seniman rupa yang hadir malam itu, menyampaikan pandangan yang menggugah: “Apa yang dilakukan Dhalang Poer dan Fileski malam ini adalah seni lintas batas—musik, puisi, dan diskusi yang membentuk satu kesadaran baru. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi peradaban yang sedang diperjuangkan.” Ucapannya mencerminkan kenyataan bahwa kota yang memberi ruang bagi kritik dan perenungan melalui seni, sesungguhnya sedang menapaki jalan menuju kemajuan sejati.
Dalam konteks yang lebih luas, acara ini mengingatkan kita akan pentingnya ruang-ruang kebudayaan sebagai wadah pertumbuhan moral kolektif. Masyarakat yang mampu menerima kritik dengan gembira, mendengar puisi yang tajam tanpa tersinggung, dan menanggapi musik yang menggugat dengan refleksi—itulah tanda kota yang beradab. Sebab, seperti yang dikatakan Albert Camus, “Peran seniman bukan untuk menilai, tetapi untuk memahami.” Dan pemahaman yang lahir dari kesenian selalu lebih dalam daripada sekadar opini; ia adalah cara lain untuk mengingat kemanusiaan kita.
Panitia Sedhapoer Madiun yang menyelenggarakan acara ini, koordinator Budi WKR, dengan segala kesederhanaannya, telah memperlihatkan visi yang patut diapresiasi. Mereka menyadari bahwa kebudayaan tidak tumbuh dari gedung besar atau panggung megah, melainkan dari perjumpaan-perjumpaan kecil yang jujur dan tulus. Di sinilah diskusi, lagu, dan puisi menjadi bahan bakar bagi kesadaran kolektif.
Namun, di balik keindahan malam itu, ada pertanyaan yang terus berputar di benak saya: mengapa ruang-ruang seperti ini masih jarang ada di kota-kota kita? Mengapa kita lebih sering menonton daripada berdialog, lebih banyak mengonsumsi seni daripada memahaminya? Mungkin, karena kita masih menganggap seni sebagai hiburan, bukan sebagai jalan menuju kesadaran. Padahal, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang penuh tontonan, tetapi bangsa yang berani menatap dirinya sendiri dengan jujur.
Ketika acara berakhir menjelang tengah malam, saya melihat wajah-wajah penonton yang tidak beranjak cepat. Mereka masih duduk, bercakap, dan membahas apa yang baru saja mereka dengar. Di situ saya merasa: tugas seniman dan penulis bukan membuat orang kagum, tetapi membuat mereka berpikir.
Di tangan masyarakat yang mau mendengar dan berpikir, puisi bukan sekadar kata-kata, melainkan benih perubahan. Mungkin, pada akhirnya, acara seperti Bincang Hangat bersama Dhalang Poer bukan hanya pertunjukan, tetapi pengingat—bahwa di tengah kebisingan zaman, kita masih bisa memilih untuk mendengar dengan hati, berpikir dengan nurani, dan hidup dengan makna. Maka pertanyaannya kini, bukan lagi apakah seni masih relevan, tetapi: apakah kita masih bersedia menjadi manusia yang mau belajar darinya. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, cerpen di berbagai media nasional. Buku terbarunya berjudul “Diksi Emas dan Corpus Arcana Sunyi”.













