DENPASAR, Balipolitika.com– Kecintaan terhadap seni tari Bali telah membawa I Dewa Ayu Komang Kinara Anamayakosha atau yang akrab disapa Gek Kinar meraih berbagai prestasi di usia muda.
Siswi kelas VII SMP Negeri 1 Denpasar itu menekuni seni tari sejak usia 3,5 tahun dan hingga kini terus aktif mengikuti berbagai kegiatan seni serta perlombaan tari.
Gek Kinar mengaku ketertarikannya pada dunia tari tidak lepas dari dukungan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Banyaknya teman sebaya yang juga menekuni seni tari Gek Kinar semakin termotivasi terus belajar dan berlatih.
“Saya mulai menekuni seni tari sejak umur 3,5 tahun. Sampai sekarang saya masih terus menari karena mendapat dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar,” ungkapnya saat diwawancarai.
Selama menekuni seni tari, Gek Kinar telah mengikuti berbagai perlombaan dan pementasan di sejumlah daerah di Bali.
Tak hanya di Kota Denpasar, ia juga mengikuti kompetisi menari hingga ke Singaraja dan Tabanan.
Selain itu, ia juga aktif mengikuti ajang-ajang seni seperti PSR dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N).
Tak hanya aktif dalam perlombaan, tahun ini, Gek Kinar juga terlibat dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai penari Gong Kebyar Anak-Anak (GKA).
Dari berbagai pengalaman yang dijalani, Gek Kinar menyebut PSR alias Pekan Seni Remaja sebagai ajang yang paling berkesan.
Menurutnya, kompetisi tersebut memiliki tingkat persaingan yang tinggi karena diikuti banyak sekolah dan penari berbakat.
“Yang paling berkesan bagi saya adalah PSR karena sangat bergengsi dan banyak diikuti sekolah serta penari-penari hebat,” katanya.
Pada ajang PSR tahun 2026, Gek Kinar berhasil meraih Juara II Se-Kota Denpasar dan prestasi itu menjadi salah satu pencapaian yang paling membanggakan dalam perjalanannya di dunia seni.
Aktif mengikuti perlombaan, Gek Kinar menguasai banyak tarian Bali, di antaranya Tari Puspanjali, Tari Condong, Tari Trunajaya, dan Tari Margapati.
Tari Condong menjadi tarian paling berkesan baginya dan di bawah bimbingan Ni Putu Putri Ditha Sumaridewi Oka, S.Pd., M.Pd yang akrab disapa (Mbok Tutik), bakat seninya terus diasah.
Gek Kinar berlatih di Sanggar Dharma Suci didukung penuh oleh kedua orang tua sehingga semakin termotivasi untuk terus berprestasi.
Di usia belia dan masih duduk di bangku SMP, Gek Kinar tetap berusaha menyeimbangkan waktu antara sekolah, les, dan latihan tari.
Ia mengaku masih belajar mengatur waktu dan banyak dibantu oleh orang tuanya dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari.
Di balik prestasinya sebagai penari muda, Gek Kinar memiliki cita-cita menjadi seorang dokter.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kecintaannya terhadap seni tari Bali akan tetap dipertahankan di masa depan.
“Walaupun nanti saya tidak menjadi penari, saya akan tetap menari. Karena bagaimanapun di Bali, menari akan terus digunakan dalam adat istiadat,” ujarnya.
Ke depan, Gek Kinar berharap dapat terus melestarikan seni tari Bali dan tetap semangat mengembangkan kemampuannya baik di bidang seni maupun pendidikan.
“Harapan saya semoga bisa terus melestarikan seni tari Bali, tetap semangat berlatih, dan tidak berhenti menari,” tutupnya. (bp/Ni Komang Widya Pradewi/4A/Basindo/Undiksha)













