TIDAK ada yang orisinal dalam menyandingkan George Orwell dan Franz Kafka, tetapi saya belum pernah melihat siapa pun menggabungkan mereka dalam diskusi yang secara khusus berfokus dikaitkan dengan Indonesia.
Meskipun menyelami dunia Kafka dengan Orwell dan Indonesia, menemukan lebih banyak kesamaan antara kedua penulis tersebut. Hal itu juga menghasilkan penemuan kontras yang mengejutkan. Mungkin ada jumlah penggemar Orwell dan Kafka yang kurang lebih sama di antara penulis Indonesia.
George Orwell (1903-1950) lahir di India dan kemudian bekerja di Burma, sedangkan Kafka tidak pernah menginjakkan kaki di Asia. Kafka menjadikan Tiongkok sebagai latar fiksi, tetapi Orwell tidak. Orwell tidak seperti Kafka, yang banyak menulis tentang Burma. Dan Orwell tidak menunjukkan minat khusus pada filsafat Tiongkok, sementara Kafka menyimpan salinan karya klasik Taoisme di mejanya.
Sulit untuk mengukur secara presisi, seberapa besar pengaruh dua penulis di Indonesia. Kesan dari membaca berbagai sumber tentang topik ini adalah lebih banyak pengaruh Kafka ketimbang Orwell. Dan keinginan yang lebih kuat untuk belajar dari karya Kafka daripada dari karya Orwell di antara para penulis.
Karya-karya Iwan Simatupang (1928-1970) sangat kental dipengaruhi karya Kafka. Sama seperti Kafka, Iwan menampilkan tokoh-tokoh yang terasing, kesepian, dan murung dalam situasi yang acapkali tidak logis dan ganjil. Karya seperti Merahnya Merah menggali sisi kejiwaan, kegilaan, dan ketidaksadaran manusia. Mirip dengan eksplorasi psikologis dalam karya Kafka. Melalui novel Ziarah, Iwan mengeksplorasi tema-tema eksistensial, di mana manusia berhadapan langsung dengan makna kehidupan dan kematian.
Terdapat pula kecenderungan perbedaan dalam cara para komentator politik menggunakan istilah Kafkaesque dan Orwellian sebagai kata sifat. Pola standarnya adalah mereka lebih fokus pada aspek Orwellian daripada Kafkaesque ketika menulis tentang negara di bawah pemerintahan otoriter.
Seratus tahun setelah kematiannya, Franz Kafka tidak kehilangan sedikit pun daya tariknya. Hanya sedikit penulis yang menikmati nasib menjadi sebuah kata sifat; lebih sedikit lagi yang memiliki nama dan kata sifat yang meluas dari bidang sastra untuk segera menciptakan, dalam konteks apa pun, “atmosfer emosional tertentu”: Kafka, konon, menggambarkan kondisi manusia kontemporer. Ia meramalkan kebangkitan rezim totaliter yang tak terhindarka. Ia mengungkapkan sifat sejati masyarakat yang semakin birokratis dan tidak manusiawi.
Menurut deskripsi di Wikipedia, karyanya “biasanya menampilkan protagonis yang terisolasi yang menghadapi dilema aneh atau surealis dan kekuatan sosial-birokratis yang tidak dapat dipahami. Karyanya telah ditafsirkan sebagai eksplorasi tema-tema keterasingan, kecemasan eksistensial, rasa bersalah, dan absurditas.”
Karya Kafka, terutama novel The Trial (Der Prozess) dan The Castle, menggambarkan birokrasi yang tidak masuk akal dan tidak transparan. Hukum yang tidak bisa dipahami. Individu yang tak berdaya dan terasing. Sistem yang terasa absurd, dingin tak bisa dilawan. Istilah “Kafkaesque” lahir dari situasi, di mana orang-orang terjebak dalam sistem yang membingungkan dan tanpa jalan keluar.
Sebagian pengalaman sosial di Indonesia bisa terasa “Kafkaesque”, tapi skalanya berbeda. Prosedur birokrasi yang panjang, berbelit dan tidak jelas. Aturan berubah atau multitafsir. Peran orang dalam yang dominan. Penegakan hukum berbeda-beda. Kasus besar versus kasus kecil yang ditangani tidak seimbang. Aturan yang tidak selalu jelas bagaimana diterapkan. Warga biasa sering merasa sulit melawan sistem. Proses hukum/birokrasi terasa melelahkan. Belum lagi faktor budaya feodal yang tercangkok dalam relasi kekuasaan. Kita berada dalam momen-momen Kafkaesque.
Karya-karya George Orwell yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, antara lain, 1984 (Nineteen Eighty-Four) novel distopia tentang totaliterianisme dan pengawasan massal. Novel Nineteen Eighty-Four mempopulerkan istilah “Orwellian” sebagai kata sifat, dan banyak istilah seperti Newspeak (bahasa ideologis telah menjadi frasa umum untuk menunjukkan otoritas totaliter), “doblethink”, “Thought Police”, “Big Brother” serta ungkapan “2+2=5”.
Animal Farm, alegori politik mengenai revolusi hewan peternakan yang mengambil alih kekuasaan, namun berujung pada otoritariansime baru oleh trio babi yang korup dan diktator. Animal Farm pernah diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi sebagai Binatangisme, dan disadur oleh N. Riantiarno menjadi “Sandiwara Para Binatang” atau “Opera Para Binatang”, yang dipentaskan Teater Koma di Taman Ismail Marzuki tahun 1987. Salah satu pertunjukkan penting Teater Koma di era 80-an yang sering mendapat tekanan karena berani mengeritik situasi sosial dan politik Indonesia.
Totalitarianisme Orwellian punya kaitan erat dengan bahasa. Karena penundukkan subjek adalah selalu penundukkan pikiran, maka (strategi dan logika) bahasa berikut turunan-turunannya (semiotika-pragmatik, simbolisme, neurolinguisitik) menjadi sangat penting. Percuma menodongkan senjata ke jidat musuh apabila pesan intimidasinya tidak ditangkap proses kognitif sang subjek, dan membuatnya tidak takut dan, akhirnya, menurut pada sang penodong.
Bahasa Orwellian di sini punya arti yang agak berbeda dari pemahaman strukturalis umumnya mengenai bahasa—yaitu mengenai struktur makna dari penanda. Juga agak berbeda dari pascastrukturalis yang menekankan kesewenang-wenangan hubungan makna dan tanda. Bahasa Orwellian lebih merujuk pada penggunaan kontradiktif akan satu kata/tanda dengan makna yang sesungguhnya adalah makna dari lawannya (misal, ‘perang adalah damai’).
Di sini, Orwell seakan memahami betul tentang natur bahasa bagi otak, atau lebih tepatnya, dalam proses neurobiologis dan neuropsikologis. Yaitu bahwa ia semata-mata adalah stimulus untuk memantik proses-proses neurologis dan kimiawi/endokrinal yang berakibat pada sentimen afeksi/emosi, sikap, pola pikiran, dan pada akhirnya perilaku.
Bahasa Orwellian adalah bahasa yang “objektif” yang lepas dari kerangka subjektif konvensional; adalah materialitas dari bahasa itu sendiri yang ingin ditonjolkan Orwell sebagai medan politisasi penguasa dan bahkan sebagaimana dalam Animal Farm, medan perlawanan kelas.
Pengamat politik Rocky Gerung sering menggunakan frasa “ Big Brother is Watching You ” dari novel Orwell “1984” untuk menggambarkan situasi politik orwellian di Indonesia. Merujuk pada pengawasan negara yang intens, ketakutan, dan manipulasi informasi yang bekerja dalam kekuasaan. Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) sering dikritik sebagai alat pembungkaman opini publik melalui pasal-pasal karet, khususnya Pasal 27 (pencemaran nama baik) dan Pasal 28 (ujaran kebencian) . Meskipun revisi UU ITE telah dilakukan, pasal-pasal ini sering digunakan untuk mengkriminalisasi kritik terhadap pejabat atau institusi, sehingga menimbulkan ketakutan dalam berekspresi sebagai langkah ‘Orwellian’. []
*Helmi Y. Haska, penulis, pendiri lembaga pengkajian Batuan Institute, Bali.













