GIANYAR, Balipolitika.com- Kesunyian terasa lebih dalam di Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.
Sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, dan tempat berlindung warga, kini telah berpulang.
Perbekel Singapadu Tengah, I Made Demoantara, menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (1/3) sore, berbekal pengabdian yang tulus kepada warga masyarakatnya.
Bagi masyarakat desa Singapadu Tengah, almarhum bukan sekadar pemimpin. Ia adalah figur pengayom—hadir sebagai abdi warga dalam suka dan duka, menyapa dengan senyum sederhana, dan melayani tanpa banyak bicara tentang lelah.
Bahkan ketika tubuhnya mulai melemah, semangat pengabdiannya tetap membara berdiri tegak.
Kabar kepergian Made Demoantara dibenarkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Gianyar, Gede Daging. Informasi duka diterima sekitar pukul 18.00 Wita.
Almarhum diketahui sempat menjalani perawatan intensif akibat penyakit yang dideritanya. Dalam setahun terakhir, kondisinya terus menurun, pasca menjalani operasi di bagian leher.
Namun sakit tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti melayani.
“Dalam kondisi sakit pun, beliau tetap datang ke kantor dan melayani masyarakat. Itu yang membuat kami semua salut,” ungkap Gede Daging dengan nada haru.
Di balik tubuh yang melemah, tersimpan tekad kuat untuk terus memberi. Bahkan, almarhum masih menyimpan harapan besar—ingin tampil maksimal dalam peringatan HUT Kota Gianyar April 2026.
Desa Singapadu Tengah telah ditunjuk sebagai duta kecamatan, dan ia ingin hadir sepenuhnya, sebagaimana ia selalu hadir untuk warganya.
Kepergian Made Demoantara juga meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan seperjuangan.
Anggota DPRD Gianyar Dapil Sukawati, Putu Gede Pebriantara, mengenang almarhum sebagai sahabat sekaligus pejuang yang setia pada jalan pengabdian sejak masa dirinya menjadi anggota DPRD Gianyar periode 2009–2014.
“Selamat jalan saudara seperjuanganku, Bli Made Demoantara. Dumogi ngemolihang genah sane becik nyujur sunia loka, amor ring Acintya,” ucapnya lirih penuh doa yang tulus.
Kenangan serupa disampaikan Ketua Forum Komunikasi Perbekel Kecamatan Sukawati, Ari Anggara. Dalam setiap pertemuan, almarhum dikenal sebagai sosok paling sabar, penuh canda, dan selalu menghadirkan kehangatan.
“Beliau itu seperti bapak bagi kami. Paling sabar, paling hangat, dan selalu mengayomi,” kenangnya.
Di tengah kondisi kesehatan yang semakin menurun, satu keinginan sederhana almarhum akhirnya terwujud: berkumpul bersama rekan-rekan perbekel dalam perjalanan forum ke Yogyakarta. Bagi Ari, momen itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. “Beliau rindu kebersamaan. Itu yang paling saya ingat,” ujarnya, menahan haru.
Kini, Made Demoantara telah pergi. Namun jejak pengabdiannya tetap tertinggal—di kantor desa, di setiap keputusan yang ia ambil dengan hati, dan di ingatan masyarakat yang pernah ia layani dengan tulus.
Jenazah almarhum saat ini masih dititipkan di RSUP Sanglah. Rencananya, jenazah akan diberangkatkan ke rumah duka pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 17.00 Wita.
Prosesi kremasi dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026 pukul 05.30 Wita di Krematorium Puspa Sulang, Klungkung.
Singapadu Tengah kehilangan pemimpinnya. Gianyar kehilangan sosok pengabdi.
Dan banyak orang kehilangan figur yang mengajarkan bahwa melayani tak selalu menunggu sehat—tetapi lahir dari ketulusan hati. (bp/ken)













