“Saya merasa malu” ungkap Romy, perupa muda, asal Banyuwangi ketika menjelaskan niatan untuk berpameran. Jelasnya, ia merasa malu ketika mendapat pertanyaan, “Budaya Banyuwangi itu seperti apa?”, selama merantau di Yogyakarta, sebagai mahasiswa fotografi Institut Seni Indonesia (ISI), pertanyaan tersebut seringkali ia dapatkan. Romy lahir dan tumbuh di Banyuwangi-Jawa Timur. Wilayah Banyuwangi memiliki akar dari budaya Kerajaan Blambangan (Hindu-Budha) kental dengan sisa peradaban Majapahit. Sebagai generasi muda dengan zaman yang berbeda, Romy tidak benar-benar yakin bisa menjawab –Identitas budaya Suku Osing, sejarah, bahasa, geografis, kesenian, Tari Gandrung, makanan –berbagai lapisan makna tentang akar budaya dari tempat kelahirannya. Dengan rasa malu dan rasa ingin tahu akan budayanya, diwujudkan dalam bentuk pameran “Kawitan”.
“Segala hal yang dibicarakan dan dilakukan adalah kebudayan”, saya teringat ungkapan budayawan Romo Mudji, tetapi makna yang lebih dari sederhana dari kata kebudayaan tersebut tidak semudah memahami pengalaman kebudayaan secara personal. Kegelisahan yang Romy rasakan juga ternyata dirasakan teman-teman se-daerahnya sebagai mahasiswa perantau asal Banyuwangi yang tinggal dan kuliah di Surakarta. Mereka lalu mendirikan sebuah kolektif bernama “Republik Deles” dan mencoba memberanikan diri untuk pertama kalinya berpameran berjuluk “Kawitan” bersama perupa muda yang terlibat di antaranya: Romy Alva H, Yazid Ibrahim M.A, Wildhan Athillah T dan Fajar David A. Ke-empatnya memiliki latar studi: Desain Komunikasi Visual, Seni Intermedia dan Fotografi.
Kata”Kawitan” dapat dimaknai sebagai akar, asal usul dengan payung budaya Blambangan atau saat ini dikenal sebagai Banyuwangi. Ke-empat perupa mencoba mengurai akar tempat kelahirannya dalam karya fotografi, lukisan dan instalasi.
Pameran Kawitan berlangsung ” 7-11 Mei 2026 di Galeri Jala Production, Sewon, Yogyakarta dibuka Venza Christ, founder dari v.u.f.o.c Space, Jogja dan Faiz Ahsoul sebagai penulis pameran bersama pagelaran tari gandrung dari Irta dan Mega, mahasiswa ISI Jogja asal Banyuwangi.
Selain itu, pameran Kawitan ini juga menandai ulang tahun Jala Production ke tiga tahun sebagai kolektif seni yang dekat dengan generasi muda bersama semangat “Bergerak dan bermanfaat” , ditambah letaknya yang tidak jauh dari ekosistem kampus seni ISI Yogyakarta sebagai ruang bersama.
Interpretasi Blambangan dalam “Osing” atau “Asing”
“Osing atau Using, asal kata “Tusing” (Bahasa Bali) artinya “Tidak”. Sebuah negasi. Apakah Osing menegasikan hal-hal baru dari luar konstruksi budaya deles (asli/akar) Blambangan?” ungkap Faiz Ahsoul, penulis pameran Kawitan. Lebih mendalam, Faiz menjelaskan: Kesenian Blambangan, umumnya merupakan ekspresi pantulan cermin kekayaan alam dan budaya agraris yang sarat nilai-nilai spiritual sebagai ageman (pegangan), namun tetap berkembang bersama simbol-simbol lintas zaman.
“Bahkan kita tahu, Tari Gandrung yang magis dan dipandang sakral, pernah disentuh oleh bentuk seni rupa instalasi” jelas Faiz.
Pada pernyataan inilah menjadi menarik, melihat para perupa muda untuk mengembangkan gagasan bahwa kekayaan (Budaya Banyuwangi) dipahami dan diwujudkan dalam bentuk ekspresi seni kontemporer. Dengan kecenderungan mengintervensi, mentrasformasi, memisahkan dalam bentuk yang lebih “dikenal” generasinya, sebagai cara berpikir dan ekspresi perupa muda.
Romy Alva H. misalnya mengangkat isu lingkungan yang mengancam keseimbangan alam berjuluk “Gemilap Hang Nggrogoti” melalui empat karya bentuk “fotografi ekspresi” dengan menghadirkan karya foto dari upacara/pertunjukan tradisi barong dan penari seblang dengan teknik intervensi menggunakan paint remover di atas kanvas ukuran 40 x 60 cm. Paduan foto berwarna hitam dan merah terlihat nuansa percikan api di beberapa sisi foto. Hasil karya ini menarik sebagai sebuah bentuk eksperimen.
Sedangkan pada karya foto dari Wildhan Athillah T. berjudul “Kauripan Ring Pucuk Wetan” menjadikan foto sebagai karya yang digiring secara langsung untuk bercerita tentang “Barong Ider Bumi dan Gandrung Sewu”. Wildhan memotret festival tari kolosal yang berlangsung di Pantai marina Boom, festival yang diadakan setiap tahun lebih dari 1.000 penari dengan kostum warna merah, kuning, dan hitam yang menonjol. Wildhan menginterpretasi bahwa dengan menjaga semangat gotong-royong dalam Barong Ide Bumi , dan estetika dinamis tarian Gandrung, seni tradisi bukan sebagai warisan masa lalu yang statis, tetapi terus berdenyut di masyarakat.
Hampir senafas dengan karya fotografi, dalam bentuk lukisan karya Fajar David A berjudul “Omprog Seblang, The Unseen Power” menggunakan analogi “Omprog Seblang” figur super hero sebagai penyelamat budaya di masa depan, sedangkan Yazid Ibrahim M.A. “Tutupe Wirang”, masih menggunakan nafas budaya Banyuwangi meski dalam media yang berbeda dalam lukisan kanvas dan instalasi.
Sebagai Emerging Artist, ke empat perupa muda ini sama-sama mencoba menerapkan simbol seni tradisi turun-menurun yang masih “ditanggap” melalui media seni rupa, sebagai karya fotografi potensinya cukup kuat untuk pembacaan yang menarik. Namun, sebagai karya lukisan masih membutuhkan eksplorasi gagasan, teknik dan keterampilan yang perlu lebih diasah.
Setidaknya, pada pameran Kawitan ini, para perupa di “Republik Deles” bersama Jala Production berhasil membuat sebuah ritual berkumpul bersama untuk menyalurkan rasa rindu, kebanggaan, dan pengalaman tempat kelahiran yang mempunyai makna tersendiri. Yakni, interpretasi terhadap identitas asal (Banyuwangi) di tengah lingkungan seni yang lebih luas.
*Penulis Seni Budaya. Tinggal di Yogyakarta.













