DENPASAR, Balipolitika.com– dr. Gede Bagus Darmayasa, M.M., M.Repro memaknai Hari Kartini ke-147 Tahun 2026 dengan cara unik dan edukatif.
Berkolaborasi dengan pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto Timur, Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Living World, Direktur Utama Rumah Sakit Umum (RSU) Puri Raharja itu menegaskan bahwa semangat Hari Kartini tidak boleh berakhir di tanggal 21 April 2026.
Dokter Bagus –sapaan akrab dr. Gede Bagus Darmayasa, M.M., M.Repro– mengingatkan semua pihak bahwa semangat Kartini harus hidup setiap saat melalui pameran lukisan tunggal bertajuk “Goresan Emansipasi Spirit Kartini”.
Pameran 52 lukisan di lobi Living World ini akan dibuka oleh paduan suara SD Cipta Darma Denpasar, Rabu, 22 April 2026 pukul 11.00 Wita dan akan berlangsung hingga Kamis, 30 April 2026.
Di mata Dokter Bagus, ibu adalah sosok mulia, pendidik pertama, dan sumber kasih sayang tanpa syarat yang merawat, mendidik, dan melindungi buah hatinya dengan sabar.
Tak hanya sebagai pilar keluarga, dalam lukisan-lukisan ini Dokter Bagus menampilan ibu sebagai wanita tangguh yang rela mengesampingkan kebutuhan pribadinya demi kebahagiaan anak, serta menjadi tempat pulang yang memberikan ketenangan
“Saya ingin menampilkan sekali lagi sosok ibu, perempuan tempo dulu hingga kini yang tangguh sekaligus peran perempuan Indonesia dari masa ke masa. Beberapa lukisan bertema alam fauna. Sebanyak 52 lukisan dipajang dengan kemasan eksklusif. Medium yang digunakan beragam, mulai dari cat akrilik di kanvas, sketsa pensil, hingga teknik campuran,” ungkap Dokter Bagus, Selasa, 21 April 2026.
Soal pameran lukisan di mall Living World, Dokter Bagus mengaku memiliki misi lebih mendekatkan kesenian, khususnya lukisan dengan masyarakat.
Hal senada juga berlangsung di Atrium Ground Floor Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten pada 22–26 April 2026 yang menghelat pameran lukisan bertajuk “Resonance Art Exhibition 2026 (Pop and Play)”.
Dokter Bagus menilai pameran lukisan di mall punya banyak manfaat, baik buat seniman, pengunjung, maupun mall itu sendiri.
“Untuk seniman dan dunia seni hal ini membuka akses publik lebih luas. Mall itu tempat lalu lalang ribuan orang tiap hari. Karya jadi dilihat bukan cuma oleh kolektor, tapi juga ibu-ibu, anak sekolah, sampai bapak-bapak yang lagi nunggu istri belanja. Seni jadi lebih membumi,” ucapnya.
Termasuk bagian dari edukasi seni ke publik karena banyak orang yang belum pernah ke galeri seni.
Oleh sebab itu, pameran kesenian, khususnya lukisan di mall jadi “pintu masuk” pertama masyarakat untuk mengenal lukisan, teknik, dan cerita di baliknya.
“Ini juga jadi eksposur bagi seniman muda karena tidak perlu harus menunggu galeri besar, mereka bisa unjuk gigi dan bangun nama,” tandas Dokter Bagus.
Untuk pengunjung mall tersaji pengalaman baru selain belanja, yakni ada nilai budaya yang bisa dinikmati secara cuma-cuma.
“Mall nggak cuma soal makan, minum, dan nonton. Ada nilai budaya yang bisa dinikmati gratis. Bikin suasana lebih hidup. Ajak anak lihat lukisan, bisa jadi cara mengenalkan seni, sejarah, dan empati. Contohnya tema Kartini atau tema sosial lainnya,” ungkap Dokter Bagus.
Atas terselenggaranya pameran “Goresan Emansipasi Spirit Kartini”, Dokter Bagus mengucapkan terima kasih kepada Manajemen Living World Denpasar.
“Saya berterima kasih karena Living World Denpasar bersedia menjadi ruang publik yang peduli budaya, bukan cuma pusat konsumsi,” tutup Dokter Bagus. (bp/ken)













