SELAMA ini, Citra Sasmita dikenal sebagai perupa yang karya-karyanya sering tampil di kancah seni rupa internasional. Namun banyak yang tidak tahu, selain melukis, Citra Sasmita juga menulis puisi.
Citra Sasmita lahir di Tabanan, Bali, 30 Maret 1990. Sebagai perupa, dia memulai karirnya dengan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post (2012-2018) yang digawangi sastrawan Oka Rusmini. Pada masa itu, dia juga rajin menulis esai, cerpen, prosa liris, dan puisi. Dia intens bergaul di dunia sastra dan teater di Bali, khususnya di Denpasar.
Pertemuannya dengan penyair legendaris Umbu Landu Paranggi semakin membuka wawasannya tentang dunia tulis menulis., yakni puisi dan prosa liris. Beberapa puisi, prosa liris, dan esai pendeknya pernah dimuat di Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Selain itu, puisi-puisinya juga masuk dalam beberapa antologi, antara lain “Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu” (2024).
Citra Sasmita termasuk seniman multi talenta. Selain seni rupa, dia merambah sastra dan teater. Pergaulannya yang lintas batas seni dan pengetahuannya yang luas berpengaruh pada karya-karyanya yang cenderung konseptual. Tematik karya-karya seni rupanya banyak berkaitan dengan feminisme. Dia sering mempertanyakan posisi perempuan di tengah dominasi laki-laki. Hal senada juga tampak pada puisi-puisinya.
Setelah merambah kancah seni rupa internasional, pada tahun 2024 Citra Sasmita merasa kangen dengan kehadiran puisi. Demi meluapkan rasa kangennya, dia menyusun buku kumpulan puisi. Ini bukan buku kumpulan puisi biasa dengan tata letak standar. Dalam buku ini, bahasa rupa saling bersahutan dengan bahasa puisi, menghasilkan gema yang menggetarkan sekaligus membakar sanubari pembaca. Buku itu berjudul Book of Fire.
Book of Fire (Kitab Api) memuat tiga puisi panjang yang ditulis Citra Sasmita pada tahun 2017-2018. Buku ini disunting oleh Dwi S. Wibowo. Tiga puisi panjang dalam buku ini diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Santi Permana. Tata letak buku digarap oleh Cecil Mariani. Buku mewah dan mahal ini diterbitkan oleh Rpff.
Book of Fire terdiri dari tiga bagian, yakni Book I, Book II, dan Book III. Masing-masing bagian menampilkan puisi panjang yang dipecah menjadi fragmen-fragmen yang sebenarnya saling berkaitan. Ketika membuka halaman demi halaman buku ini, kita akan berjumpa dengan fragmen-fragmen puisi yang dihiasi dengan lukisan-lukisan yang menggetarkan dan sarat renungan.
Sesuai dengan judul bukunya, Book of Fire menyajikan fragmen-fragmen puisi yang membakar. Baris-baris puisinya lugas dan tajam dalam menyampaikan kritik, gugatan, pernyataan, maupun renungan. Meski demikian, baris-baris tersebut tidak kehilangan keindahannya sebagai puisi dengan penggunaan majas dan pemilihan kata yang tepat. Puisi-puisi dalam buku ini bisa dibaca sebagai “curhatan” Citra Sasmita dalam mengarungi dunia seni rupa.
Sekeras Batu Granit
Perjalanan Citra Sasmita menjadi seniman (perupa) tentulah tidak dengan proses mudah. Dia mengalami jatuh-bangun, kecewa, tidak diakui, dianggap penumpang gelap, dan tudingan-tudingan miring lainnya. Dengan rasa jengah, dia menempa dirinya. Dia membuktikan bahwa dia mampu tampil sebagai perupa dan diakui di kancah internasional lewat karya-karyanya yang seringkali mengejutkan publik seni rupa.
Citra pun menjadi anomali dalam dunia seni rupa. Dia tidak memiliki pendidikan seni rupa formal. Dia seorang otodidak yang tekun. Pendidikan terakhirnya adalah jurusan Fisika di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, pada tahun 2009.
Minatnya pada dunia seni terus menghantui dirinya. Di sela-sela kesibukan kuliah, dia bergabung dengan komunitas seni di kampusnya. Di sanalah dia mengasah bakat seninya lewat bermain teater dan menulis puisi serta menggambar atau membuat ilustrasi buku. Kepekaannya pada ilmu Fisika, membuat karya-karya seni rupanya terkesan rapi, meski secara konten liar dan mengejutkan.
Kita bisa menikmati sejumlah lukisan Citra dalam Book of Fire. Perempuan-perempuan dengan tubuh terbelah, termutilasi, darah, api, dan berbagai bentuk kengerian. Semua itu dilukis dengan teknik seni lukis gaya Kamasan. Dia belajar teknik itu pada Mangku Muriati, pelukis yang berasal dari Desa Kamasan, Klungkung, Bali.
Penghinaan dan bullying ketika memasuki kancah seni rupa yang didominasi laki-laki, tidak membuat Citra menyerah dan patah. Rasa jengah telah membentuk dirinya menjadi sekeras batu granit. Kemarahan dan kekecewaan pada sistem seni rupa yang cenderung mengabaikan posisi perempuan membuat Citra melakukan perlawanan. Citra yang sejatinya lembut berubah menjadi garang.
Pada salah satu fragmen puisi dalam Book of Fire, Citra melontarkan pernyataan sekaligus tantangan: “keangkuhanku mesti lebih keras dari biji jakun seorang laki-laki”. Dengan kerja keras dan rasa jengah, dia telah membuktikan bahwa dia mampu melampaui banyak perupa laki-laki dalam soal karya dan pengakuan internasional. Selain di Indonesia, karya-karya Citra telah tampil di Singapura, Thailand, Amerika, Inggris, Italia, Arab Saudi, Brasil, Australia, Hawaii, Nepal, Jepang, China, dll. Dia juga pernah meraih penghargaan Gold Award Winner of the UOB Painting of the Year (2017).
Puisi-puisi dalam Book of Fire selain berisi curahan kekesalan, kekecewaan, kemarahan, juga mengandung renungan-renungan tentang proses perjalanan kehidupan. Buku ini adalah narasi tentang kegelisahan Citra dalam pencarian jati diri sebagai seniman dan prosesnya mengarungi dunia seni rupa, sebuah dunia yang tidak selamanya indah, namun penuh dengan intrik, kritik, dan manipulasi. Namun sebagai perupa, Citra telah berhasil melampaui jalan seni rupa yang berliku dan penuh onak duri itu. Selanjutnya mari kita simak puisi-puisi dalam Book of Fire.
Hantu Masa Depan
Pada Book I, Citra menuliskan fragmen-fragmen puisi yang bisa dibaca sebagai sebuah pernyataan eksistensial. Pernyataan yang dibalut dengan citraan gotik, mistis, dan penuh kontras antara seni, penderitaan, dan kemanusiaan.
Citra membuka puisinya dengan fragmen: hantu-hantu / dari masa depan / sering muncul dalam pikiranku / kalau aku tak keliru / hidupku akan menjadi pesta kolosal.
Hantu dalam hal ini bukanlah mahkluk astral, namun metafora tentang kecemasan akan takdir dan proyeksi diri ke depan. Hantu menjadi simbol dari sesuatu yang belum terjadi, tetapi sudah menghantui pikiran. Menariknya, pada fragmen berikutnya “hantu bisa menjadi roh kudus”, yang menandakan transformasi. Sesuatu yang menakutkan dapat menjadi wahyu atau sumber inspirasi.
Pada fragmen berikutnya, kita bisa merenungkan seni sebagai jalan keselamatan dan kutukan. Hantu yang telah menjadi roh kudus bersabda: “jadilah seniman / Ia adalah raja di atas raja, / ras superior yang sedari lahir / telah mahir memegang / pena dan warna. // Seni adalah / candu / bagi umat / manusia.”
Di sini, seni diibaratkan sebagai agama baru, bahkan lebih tinggi dari raja-raja. Ia adalah candu, artinya bisa memabukkan, membuat manusia terjebak dalam keindahan palsu. Tetapi sekaligus, seni juga bisa menjadi jalan untuk mengolah penderitaan. Ada kontradiksi yang tajam: seni bisa menghidupkan dan menghancurkan.
Pada beberapa fragmen, Citra banyak menuangkan imajinasi teatrikal, seperti “pemain mengangkat piala”, “aku menjadi cermin tubuh-tubuh yang menghirup kemunafikan”. Citra menggambarkan dunia seperti panggung sandiwara, penuh aktor dengan kebohongan, kesombongan, dan kemunafikan. Dalam puisi ini, aku lirik menempatkan dirinya sekaligus sebagai penonton dan aktor, sadar bahwa ia bagian dari permainan yang sama. Hal ini mempertegas nada satir bahwa hidup adalah teater besar, di mana setiap orang mengangkat piala mereka yang entah berisi “anggur, darah, atau ludah”, simbol kemenangan yang ambigu.
Di sisi lain, puisi berulang kali menghadirkan tubuh sebagai medan konflik. Tubuh menjadi parit lembab dengan ular buas tidur dan berganti kulit, tubuh diracuni oleh udara penuh kemunafikan, jantung berdegup seirama dengan kebohongan dunia. Di sini terkesan, tubuh aku lirik menjadi wadah penderitaan. Namun justru dari situ lahir energi kreatif, menjadi seni yang digali dari kegelapan dan penderitaan.
Pada fragmen lain, aku lirik menyatakan diri sebagai: aku kebal / dari segala / tenung / akulah sang / penujum / akulah penyusun / peruntungan / yang dikais-kais / para petualang / dari / langit gelap.
Pernyatan itu menandakan bahwa aku lirik tidak lagi korban, melainkan pengendali takdir. Tetapi kemudian muncul paradoks: rahasianya adalah / kebesaran hati- / ia menunjukkan kalau / aku sedang lupa diri. Jadi, ada tarik-menarik antara ego (aku lirik sebagai sang penujum) dan kesadaran rapuh (aku lirik hanyalah manusia yang tersesat).
Hantu dari masa depan yang mengerak dalam benak aku lirik kembali muncul memberikan penyadaran bahwa: “kau akan tetap menjadi wabah, / menjadi genangan darah atau apa pun” / jerit seorang hantu yang / pernah melukis lingkaran halo / di atas kepalaku. // “gambarkanlah penderitaan / dengan segenap hasratmu, / di atas segala hal yang / dianggap sakral, dalam / estetika!”
Pada fragmen berikutnya, hantu yang dulu menakutkan berubah menjadi inspirasi: untukmu, / hantu yang kupuja, / telah kulubangi kepalaku / dan kupenuhi ia dengan malam. Ini adalah simbol penyerahan total. Aku lirik menerima kegelapan sebagai sumber daya cipta. Cahaya redup, malam, bahkan mimpi buruk anak-anak, semua ini menjadi bahan bakar seni. Seni, pada akhirnya, lahir dari penderitaan, tragedi, dan luka batin yang diolah menjadi estetika.
Secara umum, fragmen-fragmen dalam Book I mengandung satir dan kritik sosial, menyerang kemunafikan, kesombongan, intelektual palsu. Pada sisi lain, puisi ini juga berbicara tentang hal-hal eksistensial, yakni membahas peran seniman, arti penderitaan, dan hubungan antara seni dengan kemanusiaan. Ada juga sisi visioner dan nuansa apokaliptik, membayangkan masa depan seni yang lahir dari mimpi buruk.
Puisi ini adalah semacam ekspresi manis-pahit seorang seniman yang berjuang di tengah dunia yang munafik dan penuh penderitaan. Ia menolak ilusi, menolak kebahagiaan semu, dan justru memilih untuk memeluk kegelapan sebagai sumber inspirasi.
Kaum Intelektual Palsu
Pada Book II, kita disuguhi puisi yang sarat kritik sosial sekaligus refleksi personal. Puisi ini melontarkan kritik terhadap kaum kritikus dan cendekia yang telah kehilangan daya kata-kata.
Perhatikan bait pembuka puisi ini: seorang tukang kritik / pernah menghujamku / dengan mayat kata-kata / bahkan jauh dalam kerak neraka / kata-kata itu telah menjelma fosil.
Pada puisi ini, Citra mempertanyakan eksistensi bahasa yang bisa mati, menjadi fosil dan kehilangan makna. Pada akhirnya bahasa menjadi retorika kosong yang membuncah dari mulut kaum intelektual.
Pada kenyataannya, dunia ini banyak dihuni oleh kaum intelektual palsu. Mereka mabuk teori, gelar, dan prestise, tapi menutup mata pada penderitaan sekitarnya. Mereka digambarkan sebagai munafik. Mereka berdoa sekaligus juga menindas.
Di tengah kebusukan pergaulan sosial, aku lirik menemukan kejujuran justru dalam garis dan warna. Hal itu ditegaskan pada baris ini: dan lihatlah / warna merah, hitam / dan garis-garis pekat / menjadi bahasa yang / paling jujur.
Dalam puisi ini, pengalaman pribadi yang penuh luka, diremehkan, dibully, menjadi refleksi lebih luas tentang ketidakadilan sosial. Puisi ini penuh dengan nada marah, sinis, dan getir, sekaligus terselip renungan terhadap seni sebagai jalan penyelamatan. Puisi ini bisa dibaca sebagai pernyataan seorang seniman yang merasa muak dengan kaum intelektual palsu. Namun di sisi lain tetap percaya bahwa seni adalah kebenaran dan bahasa kejujuran.
Api Perlawanan
Pada Book III, Citra menampilkan puisi yang penuh dengan ironi, perlawanan, dan kritik sosial, terutama mengenai posisi perempuan dalam dunia seni yang selama ini didominasi laki-laki.
Puisi ini dibuka dengan bait: Akhirnya, / seorang seniman harus hidup / dengan / kesintingannya. Kesintingan di sini bukan sekadar kondisi psikis, tetapi sebuah metafora untuk keberanian keluar dari norma, menantang tradisi, dan menerima penderitaan yang melekat pada proses penciptaan. Kesintingan diposisikan bukan sebagai kelemahan, melainkan sumber otentisitas dan vitalitas artistik.
Di sini juga terdapat kritik terhadap institusi dan otoritas seni. Ada sindiran terhadap dunia seni rupa yang “dipenuhi tokoh-tokoh mulia,” seakan seni hanyalah milik mereka yang diakui institusi dan tradisi. Sementara aku lirik dianggap sebagai penumpang gelap gerbong seni rupa.
Puisi ini juga secara tajam menampilkan perlawanan dalam konteks gender dan tubuh sebagai lokus seni. Puisi ini tajam mengkritik sistem seni rupa yang patriarki, seperti terlihat dalam baris ini: seni yang agung hanyalah / milik laki-laki, di tangan / mereka / tercipta dogma dan / lagu-lagu opera / yang diminati kakek / dan nenek kita.
Citra juga membandingkan tubuh perempuan, terutama rahim, dengan testis laki-laki sebagai sumber penciptaan. Ada nada sarkastis ketika rahim dianggap “tidak lagi religius,” seakan perempuan dirampas dari hak sakralnya untuk mencipta. Ini adalah kritik terhadap sistem nilai yang menyanjung ekspresi maskulin (dogma, opera, teori) dan meremehkan sumber penciptaan feminin.
Dalam puisi ini, Citra dengan sarkas menegaskan bahwa perempuan tetap memiliki peranan penting dalam peradaban. Hal itu, misalnya, terlihat pada baris: tidak ada / sejarah revolusi yang / terjadi tanpa sosok / seorang pelacur.
Pelacur di sini adalah simbol yang terbuang sekaligus vital. Ia ada di pinggiran moralitas resmi, tapi justru hadir dalam momen-momen penting perubahan. Simbol ini menantang stereotip moral, sekaligus menegaskan peran “yang terhina” dalam lahirnya peradaban baru.
Di sisi lain, ada kesadaran getir bahwa “wanita akan punah oleh pikiran-pikiran sepele,” kehilangan kekuatan mengubah “kebisuan menjadi kata-kata.” Namun, sang aku lirik menolak menyerah: “Tidak. Ini belum berakhir.” Bahkan ketika lapar menghantui, ia bertekad bertahan sampai “garis-garisku akan menjadi visi.”
Puisi ini ditulis dengan bahasa yang lugas, penuh pernyataan dan seruan, hampir seperti orasi atau manifesto. Ada ironi pahit sekaligus api perlawanan, campuran antara frustrasi, marah, dan harapan.
Puisi ini bisa dibaca sebagai perlawanan terhadap patriarki dalam seni. Seolah seni hanya dianggap sah bila lahir dari teori, institusi, atau legitimasi laki-laki. Perempuan yang tidak berakar pada tradisi akademik dianggap “penumpang gelap.” Ini merefleksikan realitas sejarah seni rupa dan sastra, di mana karya perempuan kerap dipinggirkan.
Dalam salah satu fragmen puisi ini, Citra menyebutkan nama Artemisia Gentileschi. Dalam sejarah seni rupa dunia, Artemisia Gentileschi (1593–1653) adalah pelukis Barok Italia. Ia salah satu perempuan pertama yang menembus dunia seni rupa profesional yang kala itu nyaris seluruhnya dikuasai laki-laki. Karya Artemisia banyak menampilkan perempuan sebagai tokoh kuat, yang sering ditafsirkan sebagai simbol perlawanan terhadap patriarki.
Kehadiran nama Artemisia Gentileschi dalam puisi ini bisa menjadi simbol sekaligus menegaskan bahwa Citra merasa terwakili dan sependapat dengan tokoh tersebut. Bahwa seni bukan hanya estetika, tetapi medan perlawanan dan penyembuhan. Dengan begitu, puisi ini tak hanya bicara soal individu, tapi juga mewarisi sejarah panjang perlawanan perempuan dalam seni.
Kitab yang Terus Menyala
Book of Fire bukan hanya catatan personal perjalanan seorang seniman. Buku ini juga menjadi semacam manifesto, yang mempertanyakan posisi perempuan dalam seni rupa sekaligus menyingkap sisi gelap dunia seni. Kehadiran puisi yang berpadu dengan lukisan menjadikan buku ini unik. Buku ini memberi refleksi lebih luas tentang bagaimana perempuan bertahan, melawan, dan mencipta di tengah sistem yang sering kali meminggirkan mereka.
Book of Fire penting karena menghadirkan estetika yang politis. Buku ini menolak menjadikan seni sebagai ruang aman. Sebaliknya, buku ini mengingatkan kita bahwa seni adalah medan pertarungan ide, tubuh, dan kuasa. Dari sana kita belajar bahwa luka bisa bertransformasi menjadi kekuatan, dan tubuh perempuan bisa menjadi teks perlawanan.
Citra Sasmita telah menulis kitabnya sendiri, kitab yang akan terus menyala dalam sejarah sastra dan seni rupa.***
*penyair dan penyuka seni rupa.








