ADA PERTEMUAN yang tak sekadar bertukar kata, melainkan mempertemukan kesadaran. Demikianlah yang saya rasakan pagi ini di ruang webinar HIMADIKSATRASIA IKIP Siliwangi, dalam tema yang sesungguhnya bukan hanya seremonial, tetapi refleksi eksistensial, saya sebagai pemateri webinar nasional yang bertajuk: Menumbuhkan Kecintaan Bahasa, Membangun Generasi Kreatif melalui Bahasa dan Sastra. Dalam era di mana manusia lebih sering berbicara kepada layar daripada kepada sesamanya, bahasa dan sastra muncul sebagai oase — sebuah jalan sunyi yang mengembalikan manusia kepada hakikat dirinya: makhluk yang berpikir, merasa, dan bermakna.
Bahasa, kata Ludwig Wittgenstein, adalah batas dunia kita. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi ruang dimana realitas diciptakan. Apa yang tak bisa kita ucapkan, sering kali tak bisa pula kita pahami. Maka, hilangnya kepekaan terhadap bahasa bukan hanya kemunduran estetika, melainkan kemerosotan kesadaran. Di sinilah saya melihat bahwa kecintaan terhadap bahasa Indonesia bukan sekadar patriotisme linguistik, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap kekosongan makna yang kini membayang dalam budaya digital. Kita hidup di zaman ketika kata-kata kehilangan bobotnya. “Teman” bisa berarti siapa saja di media sosial; “like” menggantikan “terima kasih”; dan “story” menjadi ruang pengakuan yang dangkal.
Namun sastra, dengan kesunyian dan kedalaman yang dimilikinya, menolak reduksi semacam itu. Ia mengembalikan makna kepada kata, dan jiwa kepada kalimat. Dalam membaca puisi Chairil Anwar, kita tidak hanya menemui perlawanan, tapi juga perenungan. Dalam Pramoedya Ananta Toer, kita tak hanya belajar sejarah, tapi juga memahami bahwa menulis adalah bentuk melawan lupa. Sastra membuat kita bertemu kembali dengan hakikat manusia yang kerap terhapus dalam statistik, algoritma, dan ambisi.
Kreativitas sejati, dalam pandangan saya, selalu lahir dari perjumpaan antara bahasa dan kesadaran. Dalam menulis, seseorang tidak hanya menciptakan teks, tetapi juga menata dirinya sendiri. Bahasa menjadi ruang latihan berpikir dan bereksperimen. Di sinilah letak keagungan sastra: ia menjadikan imajinasi sebagai jalan menuju pengetahuan. Seperti kata Albert Camus, “Seni dan pemberontakan tidak pernah terpisah.” Maka, dalam konteks bangsa kita, sastra bukan hanya ruang estetik, tetapi juga ruang etis dan politis — tempat di mana nurani berbicara ketika institusi bungkam, tempat kebenaran disuarakan tanpa perlu bendera.
Namun saya juga melihat paradoks. Kita hidup di tengah ledakan kreativitas digital, tetapi miskin orisinalitas. Kita memiliki ribuan konten kreator, tetapi sedikit pencipta makna. Generasi muda belajar menulis caption, tetapi jarang menulis filosofi hidupnya. Mereka fasih berbicara dalam emoji, tetapi gagap ketika harus menuturkan perasaan yang jujur. Mungkin karena dunia kita terlalu cepat — tak memberi waktu untuk merenung. Di sinilah peran sastra menjadi genting: ia mengajarkan kita untuk berhenti, mendengarkan, dan menghayati.
Menulis puisi, misalnya, bukan sekadar kegiatan seni. Ia adalah latihan spiritual. Dalam menulis, kita menata batin sebagaimana musisi menata nada. Kita belajar mengenali kesunyian dalam diri. Kita mengakui luka, lalu mengubahnya menjadi keindahan. Seorang penyair yang baik bukan hanya bermain kata, melainkan membangun jembatan antara logika dan rasa, antara diri dan dunia. Sapardi Djoko Damono pernah berkata, “Puisi tidak menjelaskan, tapi menghadirkan.” Maka, melalui puisi, manusia belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus dijelaskan — cukup dihadirkan, dirasakan, dan dihayati.
Namun tentu saja, kecintaan terhadap bahasa dan sastra tak bisa tumbuh dari retorika belaka. Ia harus ditanamkan dalam sistem pendidikan yang memberi ruang bagi kepekaan, bukan sekadar penghafalan. Sekolah-sekolah kita terlalu sibuk menyiapkan siswa menjadi pekerja, bukan pemikir; menjadi penghafal, bukan pencipta. Padahal bangsa besar tidak dibangun oleh mereka yang hanya bisa mengerjakan soal, tetapi oleh mereka yang berani bertanya, menulis, dan membayangkan dunia masa depan.
Saya percaya bahwa menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa adalah membangun masa depan bangsa. Bahasa adalah rumah tempat imajinasi berpulang. Dari bahasa lahir ide, dari ide lahir karya, dan dari karya lahir peradaban. Bahasa Indonesia, dalam hal ini, bukan hanya alat komunikasi nasional, tetapi medium penciptaan identitas. Ia mampu menjadi wadah bagi ekspresi global sekaligus penjaga akar budaya lokal. Maka, mencintai bahasa Indonesia berarti menolak menjadi bangsa yang tercerabut dari dirinya sendiri.
Namun pertanyaan penting muncul: bagaimana kita menjaga bahasa dan sastra di tengah arus globalisasi yang serba instan? Saya kira jawabannya bukan dengan menolak teknologi, tetapi dengan mengisinya dengan makna. Media sosial bisa menjadi ruang sastra baru; platform digital bisa menjadi panggung puisi modern. Di era ini, kata-kata tak lagi hanya terbit di kertas — mereka juga hidup di layar, di video, di suara. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran baru bahwa dimanapun manusia berkata, disanalah bahasa bisa tumbuh, dan di sanalah sastra bisa bersemi.
Kita tidak boleh lagi melihat sastra sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti kebudayaan. Sebab hanya bangsa yang mencintai bahasanya yang mampu memahami dirinya. Dan hanya bangsa yang mampu memahami dirinya yang dapat melahirkan peradaban yang humanis. Generasi kreatif bukanlah mereka yang sekadar mahir membuat konten, tetapi mereka yang mampu merangkai makna — yang menulis bukan karena ingin terkenal, tetapi karena ingin menghidupkan kesadaran.
Pada akhirnya, saya teringat ucapan filsuf Friedrich Nietzsche: “Tanpa musik, hidup akan menjadi kesalahan.” Maka saya tambahkan, tanpa bahasa dan sastra, hidup akan kehilangan maknanya. Sebab keduanya adalah denyut nadi peradaban. Di sanalah manusia belajar menangis, mencintai, dan berharap.
Maka, pertanyaannya kini: di tengah dunia yang semakin bising oleh kata-kata, masihkah kita mendengarkan makna yang tersembunyi di dalamnya? Masihkah kita membaca untuk memahami, bukan hanya untuk melewati waktu? Dan lebih jauh lagi — masihkah kita menulis, bukan untuk menambah kebisingan, tetapi untuk menyalakan cahaya?
Sebab mungkin, di balik setiap kalimat yang ditulis dengan kesadaran, bangsa ini masih memiliki harapan untuk menemukan dirinya kembali.
*Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis pendidik yang lahir di Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Mengajar seni budaya di SMAN 2 Madiun. Juga aktif berkarya musik bersama Paperland.










